Hampir setiap kelompok memiliki kepercayaan mistis perihal kematian ini. Sebelum kematian seseorang, tak sedikit masyarakat percaya adanya tanda-tanda tertentu seseorang hendak akan meninggal. Misalnya, akan ada perubahan dratis dari prilakunya di banding hari –hari sebelumnya. Dari prilaku yang ekslusif tiba-tiba saja menjadi inklusif, pendiam dan bersahaja dsb.
Di percaya juga bahwa 41 hari menjelang seseorang menghadapi kematian, ia mendapat isyarat-isyarat yang hanya di mengerti dirinya sendiri. Para Ahli menyebutnya near death experience atau perasaan mendekati kematian.
Nah, Di kampung Madani juga memiliki kepercayaan yang cukup unik perihal kematian ini. Utamanya pengaruh kematian seseorang terhadap seseorang maupun lingkuan disekitar kampung Madani. Apa saja itu ? kami rangkum sebagaimana berikut :
1. Mayyit Dilangkahi Kucing
Sejatinya kepercayaan ini ialah bagian dari etika masyarakat madani dalam menghormati mayyit. Selain dimandikan secara syari’at islam mayyit juga diperlakukan secara terhormat. Termasuk tidak boleh dilangkahi baik oleh manusia maupun hewan sekalipun.
2. Kuping Anak Diolesi Kapur Sirih
3. Penggali Kuburan & Suguhan Makanan Tak Berkuah
4. Pengukur Mayyit
Nah, kayu pengukur itulah yang dikalangan pegiat memancing, ada rumor atau desas desus yang beredar. Bahwa siapa saja yang memancing menggunakan kayu atau pelepah dari sisa pengukur mayyit itu bisa hoki dan mendapat banyak ikan. Terlebih seseorang yang lahir “Belunan” atau lahir dalam keadaan masih dibungkus ketuban. Itu dianggap sial urusan dunia mancing memancing, maka salah satu penawarnya bisa pakai kayu pengukur mayyit tersebut.
5. Kematian Dihari Wage
Usut punya usut tenyata orang yang meninggal pertama pas bertepatan pada Wage atau dalam istilah lokal disebut “Begih”. Sebagaimana lazimnya sistem kalender di Indonesia khususnya Jawa-Madura. Ada klasifikasi serta penamaan khusus terhadap hari yang terbagi menjadi lima macam yakni, pahing, pon, wage, legi, dan kliwon.
Nah, kaitannya ialah seseorang yang meninggal pada hari wage dipercaya akan mengakibatkan kematian secara beruntun. Masyarakat menyebutnya ‘ngibeh’ atau dalam arti yang lain mengajak atau memaksa orang yang hidup untuk ikut meninggal. Untuk menangkal efek tersebut biasanya masyarakat menanam pisang biji (Madura : Gheddeng Begih) di atas pusara kuburan orang meninggal pada hari wage tersebut. ada juga yang hanya meletakan tongkol pisang biji. Hal itu bisa di percaya bisa menangkal sekaligus menenangkan arwah mayyit.
Demikian lah seputar mitos atau kepercayaan masyarakat dusun
Madani yang berkaitan kematian. percaya atau tidak hal itu dikembalikan kepada
setiap orang masing-masing. Lebih-lebih hal-hal diatas adalag bagian dari kearifan lokal masyarakat dusun Madani. Sebab di era modern sekalipun dunia metafisik masih
banyak menyimpan rahasia dan misteri yang belum terungkap.
Penulis : Zaed Sambas
Editor : M.Rizal Firdaus