5 Mitos Seputar Kematian Di Kampung Madani

 



Perihal kematian pasti setiap mahluk hidup akan menemui ajalnya. Tidak ada satu pun mahluk yang bisa lari dari kematian. Tak kecuali orang-orang terdahulu yang percaya pada kehidupan abadi yang disebut dengan istilah Moksa, akan tetapi tetapi harus melalui proses ritual-ritual tertentu. Bagaimana anda tertarik ?

Hampir setiap kelompok memiliki kepercayaan mistis perihal kematian ini. Sebelum kematian seseorang, tak sedikit masyarakat percaya adanya tanda-tanda tertentu seseorang hendak akan meninggal. Misalnya, akan ada perubahan dratis dari prilakunya di banding hari –hari sebelumnya. Dari prilaku yang ekslusif tiba-tiba saja menjadi inklusif, pendiam dan bersahaja dsb.
Di percaya juga bahwa 41 hari menjelang seseorang menghadapi kematian, ia mendapat isyarat-isyarat yang hanya di mengerti dirinya sendiri. Para Ahli menyebutnya near death experience atau perasaan mendekati kematian.

Nah, Di kampung Madani juga memiliki kepercayaan yang cukup unik perihal kematian ini. Utamanya pengaruh kematian seseorang terhadap seseorang maupun lingkuan disekitar kampung Madani. Apa saja itu ? kami rangkum sebagaimana berikut :


1. Mayyit Dilangkahi Kucing

Dulu dikampung Madani jika ada mayit yang dilangkahi kucing, masyarakat percaya bahwa arwah mayat tersebut akan gentayangan. Bahkan ada kepercayaan yang lebih ekstrem bahwa mayat tersebut akan bangkit hidup kembali. Maka tak heran jika ada peristiwa kematian, mayyit yang sudah disucikan harus sterill dari peredaran kucing yang berseliweran. Jika tidak, maka dikhawatirkan arwah mayyit tersebut akan melakukan terror terhadap warga.
Sejatinya kepercayaan ini ialah bagian dari etika masyarakat madani dalam menghormati mayyit. Selain dimandikan secara syari’at islam mayyit juga diperlakukan secara terhormat. Termasuk tidak boleh dilangkahi baik oleh manusia maupun hewan sekalipun.

2.  Kuping Anak Diolesi Kapur Sirih

Jika ada seorang anak melihat mayyit baik yang diluar atau di dalam keranda, maka salah satu dari daun telinga anak tersebut harus diolesi kapur sirih. Hal ini dimaksudkan agar anak itu tidak diganggu oleh qarin dari mayat tersebut. Sebab ada kepercayaan bahwa anak yang belum aqil baligh dianggap sensitive atau peka  terhadap perkara-perkara mistis bahkan ada yang percaya anak kecil bisa melihat dimensi lain. Sampai sejaang pun tradisi ini tetap dilakukan oleh sebagaian masyarakat madani yang masih mempercainya.

3.  Penggali Kuburan & Suguhan Makanan Tak Berkuah

Umumnya penggali kubur dibayar dengan uang atas jasanya sebagai tanda terimakasih. namun di dusun Madani tidaklah demikian, melainkan diberi suguhan makanan yang harus tanpa berkuah. Mengapa demikian ? sebab masih ada kepercayaan apabila penggali kubur disuguhkan makanan berkuah, maka nantinya liang lahat mayyit akan mengucurkan air yang teramat sangat deras. Sehingga dikahwatirkan dapat mengganggu dan menyulitkan proses pemakaman si mayyit.

4.  Pengukur Mayyit

Sebagaimana lazimnya mengurus proes pemakaman , tentu diukur terbih dahulu tinggi si mayyit. Untuk menentukan ukuran liang lahat dan pembuatan peti mati sebab struktur tanah di kampung Madani terdiri dari tanah gambut. Warga biasanya mengukur panjang mayyit dengan kayu atau pelepah dari pohon kelapa. Jangan pikir pakai meteran atau penggaris ya ! itu tidak mungkin.
Nah, kayu pengukur itulah yang dikalangan pegiat memancing, ada rumor atau desas desus yang beredar.  Bahwa siapa saja yang memancing menggunakan kayu atau pelepah dari sisa pengukur mayyit itu bisa hoki dan mendapat banyak ikan. Terlebih seseorang yang lahir “Belunan”  atau lahir dalam keadaan masih dibungkus ketuban. Itu dianggap sial urusan dunia mancing memancing, maka salah satu penawarnya bisa pakai kayu pengukur mayyit tersebut.

5.  Kematian Dihari Wage

Pernahkah disuatu tempat ada peristiwa kematian secara beruntun ? jika tidak syukur Alhamdulillah. Sebab di Kampung Madani hal itu pernah terjadi diamana sebelum hari ketujuh usai sepeninggalan seseorang, disusul lagi oleh lainnya secara berturut-turut hingga empat sampai lima kali.
Usut punya usut tenyata orang yang meninggal pertama pas bertepatan pada Wage atau dalam istilah lokal disebut “Begih”. Sebagaimana lazimnya sistem kalender di Indonesia khususnya Jawa-Madura. Ada klasifikasi serta penamaan khusus terhadap hari yang terbagi menjadi lima macam yakni, pahing, pon, wage, legi, dan kliwon.
Nah, kaitannya ialah seseorang yang meninggal pada hari wage dipercaya akan mengakibatkan kematian secara beruntun. Masyarakat menyebutnya ‘ngibeh’ atau dalam arti yang lain mengajak atau memaksa orang yang hidup untuk ikut meninggal. Untuk menangkal efek tersebut biasanya masyarakat menanam pisang biji (Madura : Gheddeng Begih) di atas pusara kuburan orang meninggal pada hari wage tersebut. ada juga yang hanya meletakan tongkol pisang biji. Hal itu bisa di percaya bisa menangkal sekaligus menenangkan arwah mayyit. 

Demikian lah seputar mitos atau kepercayaan masyarakat dusun Madani yang berkaitan kematian. percaya atau tidak hal itu dikembalikan kepada setiap orang masing-masing. Lebih-lebih hal-hal diatas adalag bagian dari kearifan lokal masyarakat dusun Madani. Sebab di era modern sekalipun dunia metafisik masih banyak menyimpan rahasia dan misteri yang belum terungkap. 

Penulis : Zaed Sambas
Editor : M.Rizal Firdaus

Komentar

Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama