Seseorang yang sering nongkrong dipasar-pasar dengan perawakan rambut gondrong dan berwajah bengis itu biasanya dijuluki kepala preman. Seorang yang membawahi pekerja kasar buruh dan kuli disebut kepala rombongan. Demikian juga seseorang yang mengurus hidup seluruh manusia beserta tetek bengek dalam negara disebut kepala negara.
Jika ada manusia tanpa kaki atau tangan, kita masih bisa menyebutnya manusia (Istimewa). Tapi kalau tanpa kepala dan hanya seonggok tubuh saja. ini yang bahaya, kita harus sepakat menyebutnya hantu.
Apa kepala ini memang tiada duanya ? Sehingga segala sesuatu yang memiliki kuasa disebut kepala. Entah itu di pasar, konstruksi bangunan hingga kenegaraan semua serba kepala. Hampir tidak ada yang menyebutnya jempol kaki !
Barangkali kepala ini memang termasuk dalam golongan ciptaan tuhan yang paling unik lagi istimewa. Sehingga tak sedikit orang bersaing sengit untuk mendapatkan kedudukan atau julukan kepala yang ini hingga kepala yang itu . Sederhanya ini hanya sial mengenai kepala yang berebut kepala. Tak mau ketinggalan spesies monyet dibelantara hutan pun juga berebut yang sedemikian. Supaya mendapat kedudukan dan disebut sebagai kepala kelompok monyet.
Tapi setiap kepala tidak tentu sama. Contohnya saja si pak Mat Ra'i dan pak Kopek itu. Kedua pernah menjadi kepala proyek pembangunan jalan disebuah perkampungan miskin Kalimantan Barat. Sekalipun standar material sama, berikut juga mekanisme pembangunan beserta seabrek aturan yang ada pun juga tidak jauh berbeda. Tapi kedua kepala ini menghasilkan dua kualitas yang sama sekali berbeda.
Kalau di ingat ! Tempo itu bos kontraktor Mat Ra'i lah yang menang lelang mengaspal jalan utama kampung. Berhubung Mat Ra'i adalah abdi dalem yang tidak bisa menggeleng melainkan bisanya mengangguk saja. Ia ditunjuk sebagai kepala proyek. Walhasil jalan pun usai dikerjakan bahkan sebulan sebelum deadline waktu yang di tentukan. Itu pekerjaan yang sepele sekali, tinggal sat set, libas selesai perkara.
Warga yang sedari dulu mengindam-idamkan jalan kampungnya mulus seperti betis gadis-gadis akhirnya terwujud juga. Maka tak pelak, tanpa perlu aba-aba serempak masyarakat mengadakan tasyakuran besar-besaran. Mat Ra'i selaku kepala proyek tentu mendapat undangan khusus berikut juga diberi tempat duduk yang khusus pula, yang terhormat Mat Ra'i berada disisi kyai kampung spesialis do'a itu. Sambutan demi sambutan dilalui dengan seksama dan dalam tempo sesingkat-singkatnya. Kemudian berdasarkan hasil musyawarah mufakat jalan kampung itu di beri nama Jl.Mat Ra'i.
Selang setahun kemudian, warga kampung gembira itu tiba-tiba geram bukan alang kepalang. Pasalnya Jalan Mat Ra'i yang dibanggakan itu rusak hancur tak karuan. Paimin dan kawan-kawan yang juga ikut merasa tertipu sudah kadung berang kepada kepala proyek sialan itu. Ia dkk mendatangi kantor tempat biasa Mat Ra'i nangkring.
"Pak, Jalan kampung yang telah diresmikan setahun lalu sudah sangat rusak. Padahal menurut keterangan bapak dulu bisa bertahan kisaran setengah abad". Ucap paimin dengan nada yang kian meninggi.
"Loh ! anak muda kok ya tanya ke saya ?
"Lah iya ! Mau tanya siapa lagi". Kan bapak kepala proyeknya waktu itu". Tambahnya
"Oh jalan kampung Madani itu ya !" Sahut Mat Ra'i yang baru mengerti alur pembicaraan.
"Wajar nak ... sangat wajar sekali. Sebab struktur tanah disana itu gambut jadi tidak bisa menahan beban yang terlalu berat. Maka bagaimanapun bagusnya konstruksi jalan di kampung mu itu, pasti akan bernasib sama".
"Tapi bapak kan sudah punya SOP pembangunan. Tentu disana sudah detail rancangangan sekaligus strategi menyiasati bangunan diatas tanah gambut". Paimin mendesak.
"Oh itu tidak benar cara berfikirnya. kan kamu tahu sendiri saya hanya kepala proyek dan yang dapat lelang bos saya. Siapa coba yang mau kerja tapi rugi ? tidak ada. Tuhan saja menciptakan kita karna punya kepentingan agar dikenal, apalagi bos saya tentu ingin keuntungan".
"Belum lagi aparatur pemerintah yang berkaitan dengan proyek itu, mustahil sekali mereka itu zuhud. Saya ini hanya diperintah bos ! Soal untung rugi dan bagus tidaknya jalan di kampung mu itu sudah dikalkulasi didalam kepalanya. Masih untung kampung mu kebagian titik pembangunan. Lah kampung sebelah jalannya masih berlumpur begitu" tegas Mat Ra'i sembari mengeluarkan asap rokoknya yang mengepul-ngepul ke langit.
"Jadi apa maksud dari semua jawaban bapak ini ?" Sekali lagi paimin bertanya.
"Sederhananya, semua kepala ingin keuntungan bukan kebuntungan. Aparutur pemerintah minta persenan, saya dan bos juga sama, kepala desa juga sering mengadu alisnya, mengancam stabilitas kalau juga tidak dapat bagian. Bahkan kepala rombongan kerja beserta kepala pukul disana juga minta bagian. Katanya untuk ongkos keamanan material. Alhasil yang tersisa cuma sedikit batu dan pasir serta sedikit aspal". Terang Mat Ra'i.
Paimin yang sedari tadi menyimak akhirnya terpaksa harus pulang putus asa . Dikiranya dengan komplain jalan dikampungnya bisa dibetulin lagi. Kenyataannya tidak ! Justru paimin semangkin sadar kalau kepala-kepala itu lah biang dari masalah jalan dikampungnya. Mungkin saja ini yang oleh orang-orang disebut dengan istilah "politik jatah preman" dimana semua kepala-kepala sialan itu gemar mencuri untung bahkan tak segan sekali merampas dimuka umum.
"Banyak orang berebut menjadi kepala ini dan itu. Tapi ketika menjabat kepala apapun, justru kepalannya sendiri tidak dipakai". Simpul Paimin kala itu.
*Di ispirasi dari kisah kepala proyek yang sudah bolak balik naik haji.
Editor : M. Rizal Firdaus