Kau tau ! Sedari dulu aku memeliharamu dalam benak. Rapi tersimpan dalam rak khusus buku-buku catatan ku. Aku juga mengabadikan mu dalam sepotong puisi. Yang kutulis sendiri tapi kau enggan membacanya. Juga dalam secangkir kopi, dan dalam lembar-lembar foto yang kusemadikan di bilik galeri.
Aku enggan berada di pelataran rumah. Enggan menatap langit dan bintang gemintang yang bertaburan itu. sebab kata orang kau ada disisihnya. Dan aku disisihkan mu !
Dik, ranjangku kini jadi lebih dingin. Tiap sisinya membasah. sedang kau sudah tak lagi mau membasuh. Ia lebih dingin sebab setelah tanpamu ada yang kerap meleleh. Wangi parfum itu dari jaket lusuhku, misalnya. Atau juga ingin tanpa angan-angan, setumpuk mimpi dan rencana-rencana kita berbahagia. Mereka meleleh, mengalir deras dari sumber air mataku.
Di ruang tabahku, masih saja kucari-cari jawaban tentang apa kau yang meninggalkan atau aku yang ditinggalkan? Atau jangan-jangan semua hanya roman. Cerita rekaan dari dalang dan tumbal.
Dik ! Semesta tak lagi memeihak ku. Batuku selalu kalah dengan kertasmu. Kertasku selalu kalah dengan guntingmu. Guntingku selalu kalah dengan batumu. Sebercanda itukah sakit dan sehat menurutmu?
Sesekali ingat perihal tabah jari-jemari yang menanti bertautan. Tipis bibir itu dengan sabar dan lembut mendaratkan kecup dikening ku. Sesekali pikiran menyeretku perihal jarak yang berduka ketika detak jantung bertemu, merengkuh pelik diantara hangatnya peluk. Sesekali ingat perihal basah peluh mengucur dan desah ketika saling bersulang lidah, saling meneguk ludah. Sesekali ingat perihal cahaya di kamar yang padam agar mata kita dapat beristirahat dan telapak tangan saling meraba nikmat.
lalu apa kau namai itu ? Tabah ! terserah kau menamainya apa? Perpisahan, kunamai itu. Terserah kau menamainya apa?
Ah biar kau saja yang menang, aku saja yang kalah. Tapi aku masih saja mengingat semua, dengan atau tanpa kau mau mengingatnya. Meski mengingatnya aku terluka. memang tidak berbakat aku mengucap perpisahan dan ketiadaanmu adalah keikhlasan.