Suatu masa di dapati perang demi parang berkecamuk meluluh lantakan segala macam perbendaharaan kerajaan Alengka yang dikenal peengusa dunia triloka itu. Berawal dari kemarahan Sri Rama atas tindakan Rahwana yang menculik kekasihnya Shinta yang tak lain ialah jelmaan dari inkarnasi Dewi Laksmi.
Lantaran hal itulah, Sri Rama meyerangan kerajaan Rahwana yang kebanyakan orang menganggap nya sebagai simbol dari pada pertemuan dua kutub yang saling membelakangi, berbanding terbalik atau haq dan bathil. Hingga satu demi dua perang yang digelar dimedan laga selalu sahaja di menangkan sri Rama beserta bala tentara Narada nya. Bau anyir darah menyeruak ke segala penjuru, pengap dan panas menjadi pihak ketiga sebagai lawan tanding bagi pihak keduanya. Di medan laga, darah mengalir semisal sungai setinggi mata kaki akibat tumpahnya darah Narada (kera dan lutung) dan Wadya (raksasa) yang bertarung saling meninggikan bahu beserta pedangnya
Adapun Rahwana, ia hanya duduk termangu di atas singgasana nya meratapi kekalahan demi kelelahan yang dialami pasukannya, terlebih lagi beberapa patih-patih terbaik harus membusuk di medan laga terbunuh oleh kehebatan Hanoman yang dikenal mampu ber-triwikrama setiggi gunung menjulang serta Laksmana dan Sugriwa. Sebagai seorang penguasa kerajaan Alengka, rahwana memeras otak mencari siasat baru tentang bagaimana dapat membumi hanguskan pasukan musuh. Akhirnya ia teringat saudara kandungnya kumbakarna yang sudah lama tidur di gua selama berbulan-bulan. Kumbakarna adalah adik kandung Rahwana yang sangat sakti bahkan melebihi dari kakang nya sendiri.
“Sembah kami raja di raja Alengka, pengusa dunia Triloka”. Mereka membungkuk kan badannya.
“Apa, dasar bodoh, lemah. Bagaimana mungkin ribuan Wadya (raksasa) mati kutu hanya menghadapi kera-kera dan lutung sialan itu”. Rahwana berserapah sekenanya
“Bukan demikian gusti, diantara kera-kera itu ada laksmana dan Hanoman serta sugriwa yang sakti mandraguna. kami tidak mampu menghadapi mereka”. Salah seorang Mencoba menjelaskan kekuatan musuh.
“Hah,,, mahluk lemah”. Rahwana membuang wajah kehadapan dua patih nya ini dan kembali menatap tajam.
“Ada apa dengan jari telunjuk kalian”. Tiba-tiba keheranan melihat darah yang mengalir deras dari jari telunjuk yang hilang.
“Ampun Gusti, sebenarnya kami adalah tahanan perang Sri Rama, entah mengapa dia melepas kami dan memotong jari telunjuk kami berdua. lalu Sri rama berpesan bahwa telunjuk Wadya sudah tidak pantas memerintah kembali ”. Ujar mereka berdua sambil menunjukan jemarinya yang sudah tidak sempurna.
“Baiklah jika memang demikian yang diminta Rama, dengan kebesaran Alengka akan saya tunjukan siapa kita sebenarnya. Kalian berdua cepat pergi ke-gua tempat adik ku Kumbakarna tidur, bangun kan dia dan katakan segera menemuiku di Istana”. Geram rahwana sudah naik pitam tak tertampung lagi. “Baik gusti, titah hamba laksnakan”.
Kedua utusan itu segera bergegas menuju gua dengan diiringi beberapa prajurit yang masing-masing menunggangi satu ekor gajah, dan membawa bedug genderang perang seukuran tempayan air serta terompet gading yang nyaring. Disisih gajah, iring-iringan pelayan kerajaan membawa nampan berisi makanan, daging lengkap dengan anggur yang sudah di perah ikut serta menuju gua. Setelah mereka sampai ke gua tempat kumbakarna, penunggang gajah serta merta masuk kedalam gua dan menginjak-injak tubuh kumbakrna dengan gajahnya sambil menabuh genderang perang yang mereka bawa dan yang lainnya meniup terompet sekeras-kerasnya.
Namun anehnya, Kumbakarna tak juga kunjung bangun dari ranjangnya setelah apa yang dilakukan pengunggan gajah. Akhirnya salah serang diantara mereka turun dari gajah dan memanggil para dayang agar menaruh makanan dan minuman yang dibawanya di dekat hidung kumbakarna, kemudian Utusan tersebut mencabut bulu kaki kumbakarna. Walhasil, kumbakarna terbangun dan langsung melahap habis makanan dan kendi berisi perahan anggur di depanaya.
Paska terbangun dari tidur, Kumbakarna segera memakai baju kebesarannya yang berwarna putih cerah-bening dan langsung menuju Istana kerajaan Alengka. Karena seperti biasanya jika Kumbakarna dibangunkan pasti ada persoalan genting yang membutuhkan pendapatnya atau sekedar memberi nasihat kepada Rahwana yang kadang kebablasan dalam memutuskan suatu hal. Dengan kereta kebesaran yang sudah disiapkan para wadya, Kumbakarna segera meluncur cepat meninggalkan rombongan menuju Istana Alengka. Beberapa saat kemudian Kumbakarna telah sampai ke Islatan Alnegka. Rahwana menyambut riang gembira kedatangan adik saktinya keturunan Wisrama berwatak kestria ini.
“Adik, Apakah kau menyaksikan taman Argaloka, tembok-tembok dan rumah-rumah penduduk ? ”. Tanya Rahwana memeriksa yang hanya di jawab dengan isyarat menganggug Kumbakarna.
“Apakah kau tak ingin bertanya kepada ku siapa yang melakukannya ?” Kumbakarna menggeleng dan sibuk memakan suguhan anggur dan daging di hadapannya.
Sambil menahan geram dengan sikap adiknya ini, rahwana melanjutkan. “ini adalah ulah Sri Rama dan tentara Naradanya yang ingin meruntuhkan kejayaan kerajaan Alengka yang sudah di bangun nenek moyang kita dik. Adakah kau tak ingin memebalaskan dendam kakang mu ini Kumbakarna, Wahai ksatria yang telah menggoncangkan penduduk Kahyangan ? Adakah kau tak ingin menyelamatkan kewibawaan keluarga kita ? ”. Rahwana memelas memohon pertolongan.
“Bolehkah saya berbicara kepada mu tidak sebagai seorang raja, melainkan seorang adik kepada kakang nya ?”. Sembari menjilat sisa-sisa daging di jari-jarinya dan Kumbakarna mulai menghadapkan mukanya.
“Aku telah mendengar bahwa adik bungsu kita Wibisana, telah memilih keluar dari kerajaan dan bergabung dengan pasukan Sri Rama, benarkah itu kang ? ”. Tanya kumbakarna.
“Benar !! Wibisana telah telah mencoreng Alengka sebagai saudara raja. Ia lebih memilih rama dari pada daku yang telah banyak membesarkan namanya”. Jawab singkat Rahwana
“Kak, sebegitu remehnya Wibisana bagimu ?, bagi ku dia adalah pemuda cerdas dan pemuda yang teramat sangat memegang teguh ajaran Sri Wisrama tinimbang kita ini. Kau selalu saja membatu dan tidak mau mendengar nasehatnya, padahal aku sebagai kakang nya merasa malu dengan tinggi kebijaksanan nya. Maaf kan aku kang, aku kumbakarna tidak akan menodai tangan ku lagi dengan darah narada yang berada pada kebenaran hakiki. Ini adalah perang yang kau mulai dan kau lah kakang yang harus mengakhirinya beserta bala tentara mu yang telah dirundung kebutaan memuja mu. Tegas Kumbakarna menyatakan sikapnya.
“Hei kau Kumbakarna biadab !! lupakah kamu bahwa kerajaan Alengka yang memeberimu singgasana kekuasaan ? tempat kau di hormati dan disegani oleh penduduk bumi. Lupakah kamu bahwa bumi alengka yang memberimu makanan, daging dan arak kesukaan beserta buah-buahan segar ? lupakah kamu bahwa udara Alengka yang membuat mu tetap bernafas hingga kini ? air alengka yang menghilangkan dahaga mu ?”. serapah rahwana darahnya mendidih kembali
“Maaf kan aku kakang, sabda Sri wisrama sudah mendarah daging sampai ke ruas-ruas tulang ku yang mewujud Kumbakarna dihadapan mu ini.” Kumbakarna sambil berbalik dan menyembah. Lalu kemudian kumbakarna perlahan-lahan memundurkan langkah kakinya satu demi dua keluar dari kerajaan. Rahwana menatap bengis tak karuan sambil mencaci ketakutan-kedeggilan dan kepengecutan kumbakarna.
Perbincangan adik kakang ini seketika itu juga lenyap dalam meja perundingan yang sudah tak menemukan sehelai benang penyambung kesepemahaman. Disisi lain, khabar-khabar terkini tentang kekalahan telak ratusan ribu wadya di barisan taman Argaloka menambah pundi-pundi kedukaan. Rahwana semangkin tertekan melihat prilaku adiknya yang biasa bertempur di sisihnya enggan berperang untuknyadan ditambah kematian beberapa kerabatnya dimedan laga.
Kumbakarna telah membuat tabir garis pembatas mana prinsip wadya dan mana etika medan laga, ia pergi berlalu memacu kereta kuda kebesaran menemui istrinya yang setia. Nyanyian telapak kaki kuda beriringan satu samalain yang berlari kencang seketika itu lenyap mengambil sepenggal nafas demi nafas tertanda kumbakarna telah sampai di halaman Istanya. Ia turun dari kereta dan menanggalkan jubah sutra halus kebesarannya dan kemudian masuk sambil sesekali melihat-lihat dinding istana.
“Rahwana meminta ku ke Istana nya dan meyakinkan aku agar berperang menghadapi Sri Rama dan bala tentaranya”. Ungkap Rahwana sekejap.
“lalu apa tanggapan kakang ? apa kakang menyetujui permintaan Rahwana?”. Dewi kismani bertanya penasaran.
“Aku tolak permintaannya, karena aku tau bahwa Sri Rama hanya ingin menjemput kekasihnya Shinta yang telah di culik oleh Rahwana dan Sri Rama dalam keadaan kebenaran mutlak mengadakan perang ini ”. tegas Kumbakarna
“Syukurlah kakang kumbakarna”. Sahut dewi kismani
“kemana Kumba dan Nikumba istri ku ? sudah kah mereka mahir memanah dan memainkan pedang dan kapak yang kuberikan tahun lalu? ”.
Dengan suara terbata-bata hingga kemudian pecah tangis menggema keseluruh penjuru istana, Dewi Kismani tersungkur memeluk kaki Kumbakarna suaminya sembari berucap.
“Kumba dan nikumba putra kita itu sudah sangat mahir bemain pedang, berkuda, berenang dan memanjat tebing seperti mu dan kapak yang kau berikan selalu mereka bawa kemanapun mereka pergi. Kumba dan Nikumba selalu berlatih berhari-hari di lereng gunung sebelah gua mu tertidur. Mereka ingin melampaui kehebatan ayah nya Kumbakarna yang mampu mengalahkan dewa-dewa”.
Tapi mereka berdua hanya ulat yang sedang berpuasa menggulung diri di dedaunan, bermeditasi menunggu saat tepat keluar menampakan batang hidungnya ke alam semesta. Kumba dan nikumba di paksa oleh kakang mu turun ke medan laga, menghunus pedang nya menghadapi Sri Rama dan mereka gugur tak berdaya. Maaf kan aku kakang. Aku sudah tidak memberi restu kepada mereka karena aku takut terjadi apa-apa dan ketakutan ku terjadi. Dewi Kismani menangis sejadi-jadinya.
“Dewi Kismani, bangunlah. Ambilkan baju perang ku di kamar dan siap kan perlengkapan yang lainnya untuk ku”. Perintah Kumbakarna dengan wajah memerah marah bercampur kesal mendengar buah hatinya mati di medan laga.
“Kang, mengapa kau berubah pikiran mu. Aku tidak dendam pada Sri Rama lantaran anak kita terbunuh di tangan para Narada. Tapi kebiadaban kakang mu itu sudah bersetubuh dengan wataknya sendiri”. Tegas dewi Kismani mencoba menjelaskan kekesalannya.
Namun kumbakarna enggan mendengarkan dewi Kismani, karena darah nya sudah mendidih hebat dan tangan sudah terlanjur terkepal. Baju perang yang biasa ia kenakan sudah menantikan saat-saat genting seperti ini. Ketika Kumbakarna marah hanya ujung mata pedang, tombak dan kapak yang mampu bersenyawa dengannya. Lantas pada hari itu juga, sesaat matahari baru condong kearah barat kumbakarna sudah berada di depan ratusan ribu prajurit bersenjata lengkap yang terkenal terlatih itu. Perang adalah cara mempertahankan kehormatan ala kesatria semisal Kumbakarna.
Kemudian Ia memimpin pasukannya menuju medan merebut kembali kewibawaan yang sudah tak mendapat rasa hormat. Sementara peperangan Antara Narada dan wadya di dekat wilayah Argaloka sedang berkecamuk beradu kuat tak henti-hentinya. Hingga mereka terkejut berhamburan berlarian mencari perlindungan sesaat bumi yang mereka pijak bergetar berguncang. Para Wadya mundur sambil bersorak sorai girang tak tertahankan lalu membentuk barisan perang kembali.
“Hey Laksmana, ada apa ini apa kah bencana Alam? ”. Hanoman berteriak kepada Laksmana yang juga mundur dari medan tempur.
“Aku tidak tau, mungkin saja ini bencana”. Jawab singkat Laksmana yang saling tatap mata dengan hanoman yang kebingungan.
“Ada apa dengan wadya jelek itu, kenapa mereka seolah menang saja ?” Timpal Hanoman
“Hanoman terbanglah ke awan, selidiki setiap gunung dan lembah-lembah. Lekas !!”. Pinta Laksmana yang dijawab mencuatnya cepatnya hanoman keatas menjelajah langit.
Sri Rama yang masih berada di tenda juga merasakan energi kuat yang tak pernah ia temukan selama ini. Sri Rama merasa keheranan akan kejadian ini dengan berguncangnya bumi tanpa ada tanda-tanda terlebih dahulu dari dewa langit. “Mungkin kah ?”. Batinnya
“Paduka Sri Rama, kita kedatangan Kumbakarna, kakang ku yang dahulunya mengguncang kahyangan”. Wibisana menyahut, yang sedari tadi berada di sampingnya. “Mungkin sudah saatnya Paduka Sri Rama keluar dari tenda ini, karena Hanoman, Sugriwa dan Laksmana tidak akan mampu menandingi kesaktian kakang ku yang satu ini. Ah, Aku juga heran kenapa kakang terperangkap pada hasutan Rahwana untuk berperang untuknya. Padahal dia adalah orang yang bijaksana, keras kepada kebathilan. Ada apa dengan kau kakang, Kumbakarna mengapa bertindak seperti tidak mengerti saja soal ini . Ungkap Wibisana yang takut bercampur heran tak tertahankan.
“Baik lah mari kita lihat kehebatan kakang mu Kumbakarna”. Sri Wisrama langsung bergegas bersama Wibisana ke medan laga.
Para wadya membentuk barisan perang kembali mereka berteriak-teriak dan memukul-mukulkan pedang dan tombak kepada perisai yang berada legan kiri mereka. Akhir penantian, Kumbakarna beserta ratusan ribu pasukan nya telah sampai dan bergabung masuk dalam barisan. Ia turun dari kereta kebesarannya dan melihat pasukan yang sudah siap melahap santap setiap lutung dan kera. dari arah kejauhan ia melihat para lutung dan kera-kera itu juga menyapkan barisan di sisih laksmana, sugriwa dan hanoman. Sekali menghirup nafas dalam-dalam “Serang !!, Serang !!” teriak lantang Kumbakarna.
Bentrok kembali kedua pihak tak terelakan lagi, namun lawan tanding hari ini menjadi semangkin kuat. Wadya-wadya berukuran tiga kali lebih besar dan lebih tinggi berbanding wadya yang biasa pasukan Sri Rama taklukan. Hingga bumi bergetar sesaat mereka berjalan kaki sebagaimana yang dialami tadi. Hanoman bertriwikrama setinggi gunung dan mencoba menyerang namun di hempaskan dengan mudah oleh Kumbakarna hingga terluka parah.
Demikian pun ratusan ribu para lutung dan kera mati terbunuh dengan begitu mudahnya oleh wadya yang masih segar bugar. Melihat situasi ini, Laksmana mengambil memerintahkan mundur kepada pasukannya agar tidak terlalu banyak korban yang berjatuhan. Namun para wadya terus mengejar mereka dan membunuhnya dengan sekali tebasan saja. Kumbakarna mengamuk melibas setiap narada yang menghalangi nya. Sri rama dan wibi sana yang sudah sampai di medan laga menelaah mencari posisi Kumbakarna. Lalu Wibisana menunjuk jarinya kearah diamana Kumbakarna seang meluluh
“Kalian bertiga, Minggirlah dan jangan halangi aku”. Tukas Sri Rama, sedang Wibisana sudah tak kelar menahan bendungan air mata nya. Ia menangis sejadi-jadinya karna ia tau kemana akhir takdir menentukan. Sri rama memasang busur panahnya dan memasang dua anak panah secara bersamaan. Ia mulai membidik dan akhirnya melepaskan anak panahnya melesat kilat, kumbakarna mencoba menghindar tapi nasib tak dapat di tunda. Dua lengannya putus terkena panah Sri rama yang melegenda itu, panah dewa Wisnu. Sontak para Narada berbalik hendak menyerang mengerubungi Kumbakarna yang tersungkur diatas tanah.
Lutung dan kera terpatri kembali semangat juangnya melihat kumbakarna yang dianggapnya tak berdaya dengan menghadang kumbakarna. Namun tak kehabisan akal, Kumbakarna berguling-guling seperti seperti ban kereta kudanya dan menabrak seratus demi seribu narada yang mencoba menyerangnya. Diatas bukit. Diam-diam Sri Rama terkagum-kagum melihat kegigihan bertarung Kumbakarna yang tak pernah kenal lelah meski kalah. Dengan memasang anak panahnya untuk kedua kali Sri rama mulai membidik Kumbakarna yang sedang mengamuk kembali. Namun ia menurunkan busurnya setelah melihat Wibisana turun dari atas bukit menghentikan gerakan Kumbakarna.
“Adik, lama kita tidak bersua. Bagaimana kabar mu semenjak kau meninggalkan Alengka ?”. ucap kumbakarna yang mulai terengah-engah nafasnya dan banyak dilumuri darah badannya.
“kakang, ketahuilah bahwa Wibisana, Adikmu ini tidak meninggalkan Kerajaan Alengka. Namun sebaliknya dengan cara seperti inilah aku ingin menyelamatkan kebesaran Nama Kerajaan alengka. Karena kuyakin kakang tidak memandangku penghianat semisal kakang Rahwana, Aku bergabung dengan Sri rama tidak sedang mengharap tahta yang tidak pernah di suguhkan kakang Rahwana kepadaku”. Kumbakarna tersenyum sambil menahan sakit menyimak adiknya yang dianggap bijaksan ini.
“lalu apa yang kau harapkan ?” tanya balik kumbakarna
“kakang, sebagaimana sabda Sri Wisrama yang telah diajarkan kepada kita sewaktu kecil bahwa kebenaran akan selalu melangit tinggi mengalahkan apa saja yang berbalik dan berlawanan arah dengannya. Batin ku mengatakan dalam perang ini, Sri Rama berada pada pihak yang benar dan batin ku menuntunku samapai kemari meski harus kurelakan kasat mata kerajaan Alengka.
Kedua, seisi bumi pun tau kalau Sri rama adalah jelmaan Dewa Wisnu, asal dari segala yang muasal. Asanya mendapat restu langsung dari yang hidup dan batin ku percaya akan hal itu. Terakhir, batin ku yakin bahwa sri Rama sebenarnya mampu melumat habis kerajaan Alengka sendirian dengan kekuatan maha dahsyatnya. Namun ia lebih memilih tata cara perang yang adil kepada lawannya sembari mengajarkan kepada kita bahwa kebenaran harus di perjuangkan meski itu banyak memakan darah. Maka dari itu aku memang tidak bisa memang tidak dapat menyelamatkan jasad Kerajaan Alengka tapi aku ingin ketika kerajaan kita telah rata dengan tanah nama nya tetap melangit pada generasi akan datang yang tidak sepenuhnya di tinggali wadya-wadya tak beradab”. Wibisana memberi alasan kepada kakang nya yang masih berada dalam pelukannya.
Mendengar akan hal itu, Kumbakarna mengeratkan pelukan terhadap adik yang paling di cintai ini. “Engkau wibisana, memang yang terbaik diantara saudara-saudara mu sendiri. Aku mengerti dengan alasan mu bahwa yang kau lakukan itu sebenar-benarnya kebenaran dan akau telah merestui mu dengan sikap kebijaksanaan tertinggi ini. Pikiran mu melampaui kakang mu bahkan zaman mu sendiri yang biadab ini. Tapi kau harus juga mengerti, kakang mu Kumbakarna ini juga memiliki alasan mengapa aku turut berlaga di medan perang ini”. Sergah Kumbakarna
Tapi tidak sampai selesai perbincangan itu, Sri rama tiba-tiba melepaskan anak panah untuk kedua kalinya kepada dua wadya yang masih saling merindukan ini. Kumbakarna melihat anak panah yang sedang melesat itu namun ia semangkin mengeratkan pelukan kepada Wibisana dan menangis sejadi-jadinya. Dan akhirnya panah itu memutus kepala, Jatuh tersungkur untuk kedua kalinya. Bidikan tepat Sri Wisrama memutus kepala Kumbakarna, hingga Wibisana hanya memeluk seongkok daging penuh darah menyembur dari leher kumbakarna yang sudah berpisah dari kepalanya.
“kakang,,,kakang,,,“ teriak Wibisana sekuat-kuatnya dan merendah seraya berucap. Kakang, tak akan ku lupa detik-detik perpisahan kita dan aku ingin bisa melampaui ketinggian budi pekerti mu melebihi harga nyawa seperti yang kau ajarkan pada ku hari ini. Kakang, hari ini aku saksikan kematian mu tepat di pelukan ku dan aku menyaksikan keteguhan itu sulit ku gapai. Aku ingin melampaui sifat dewa mu. Selamat jalan kakang Kumbakarna.
Editor : Hisyam Semandeng