Dalam kehidupan manusia pasti didapati penuh dengan dialektik yang menuntut setiap pribadi untuk menyesuaikan prilaku hidupnya. Lebih-lebih di era globalisasi ini, dengan kemajuan teknologi yang super canggih memudahkan kita mengakses segala bentuk informasi dengan begitu mudah dan praktis. Namun dalam proses tersebut, terdapat transfer atau pertukaran kebudayaan yang memuat nilai pada level antar bangsa yang perlu disikapi dengan cerdas dan bijaksana. Karena kadang kala setiap interaksi antar budaya itu, memiliki kecederungan untuk saling menghegemoni satu sama lain yang berakibat hilangnya identitas.
Ajaran langit pun (Agama Islam) juga memiliki potensi akan terkikis habis oleh watak zaman kekinian yang pada beberapa aspek terkadang berbanding terbalik dengan nilai agama itu sendiri. Sehingga sebagai wahyu, orisinilitas Agama Islam akan dimonopoli secara utuh oleh kebudayaan yang bahkan itu bukan dari kalangan komunitas muslim sendiri.
Meminjam teori Darwinisme Sosial, dikatakan bahwa manusia tidak jauh dari pada hewan yang dalam setiap elemen kehidupannya senantiasa berkompetisi dan akan selalu bertarung serta menguasai satu sama lain untuk merebut living space untuk dirinya atau kelompoknya. Dalam hal ini, Pertarungan kebudayaan juga menjadi ring tinju uatama untuk menghegemoni dan memonopoli kebudayaan lainnya. Maka dari itu, sebagai seorang muslim dalam merespon kenicayaan untuk terus berinteraksi dengan watak zaman perlu dilakukan penegasan identitas pada batasan-batasan konvensi nilai yang telah di anut dan dijadikan pedoman hidup.
Disisi lain pengendalian integritas kepribadian dan pengejawantahan tindakan juga menjadi barometer apakah kita sudah terkontaminasi atau tidak oleh nilai kebudayaan di luar frame. Nah, sebuah tips menarik yang dapat kita contoh dari prilaku hewan sejenis serangga yakni tawon agar kita tidak membebek buta pada watak zaman atau terlalu anti terhadap produk perkembangan zaman. Cermatilah tiga hal pelajaran filosofi tawon kepada seorang muslim dibawah ini :
Pertama, Memakan sari pati bunga. Kita tahu bahwa tawon adalah hewan yang hanya memakan sari pati bunga selama dalam hidupnya. Tawon tidak pernah berganti-ganti dalam memilih menu makanannya. Sari pati bunga menjadi sebuah simbol jenis pilihan konsumsi terbaik dari beragam menu yang ditawarkan. Artinya, Seorang muslim sudah barang tentu punya standart konsumi yang baik dan terukur menghadapi realitas zaman. perkembangan zaman menawarkan macam-macam jenis pilihan hidup dengan segala konsekuensi yang dimuat. Semisal menutup aurat, direncanakan atau tidak- melalui media massa nya (Film, majalah, tabloid dll) akan menampilkan konstruksi kebudayaannya kepada publik sebagaimana identitas mereka.
jika seorang muslim tidak memiliki standart sebagai mana tawon maka kita akan tergerus mengikuti doktrin kebudayaan mereka yang tersemat. Makanya Mencontoh pilihan makanan tawon bagi saya terasa pas di pakai seorang muslim untuk menegaskan identitas kebudayaan nya dalam menghadapi hegomoni budaya lain dan full power value yang di sosialisikan kelompok tertentu.
Baca Juga : 3 Filosofi Hidup ala Orang Madura
Kedua, Produksi madu. Kita tau tawon memproduksi madu yang dapat bermanfaat bagi hewan lainnya bahkan bagi manusia. Tawon yang memproduksi madu dapat kita terjemahkan sebebagai bentuk sikap open mind atau terbuka terhadap perkembangan zaman. Karena tidak semua kebudayaan diluar islam pada umumnya akan berlawanan dengan nilai-nilai Islam.
Keterbukaan dalam perngertian tetap cerdas menelaah setiap transfer nilai dari luar dan internalisasi nilai tersebut pada kebudayaan yang lebih baik. Ini mungkin sama seperti jargon “Al-Muhafadzatu ‘ala al-qadimi As-shaleh wa al-akhdzu bil al-jadidi al-ashlah” yakni mempertahankan budaya lama yang baik dan mengambil kebudayaan baru yang lebih baik. Maksudnya bukan mengadopsi kebudayaan diluar seutuhnya, namun lebih kepada integrasi nilai kebudayaan lama dengan nilai kebudayaan yang baru. Proses ini mungkin dapat menghasilkan produksi nilai yang lebih baik dan dapat diterapkan. Seorang muslim juga demikian, tetap terbuka dengan perkembangan zaman dan jika nilai itu baik maka integrasi nilai perlu dilakukan dengan catatan nilai islam lah yang menjadi barometernya, bukan produk kebudayaan diluar islam yang menjadi barometer.
Tiga, Mempertahankan harga diri. Jika seseorang mencoba mengganggu atau mengusik sarang tawon maka perhatikan lah tawon akan marah dan menyerang dengan sengatan-nya. Seorang muslim harus tegas apa bila kebudayaan lain mencoba menguasai dan menghancurkan kebudayaan kita. Konspirasi dan propaganda yang mereka lakukan melalui media massa sangat berpengaruh kepada setiap konsumennya. Maka dari itu, perlu perlawanan secara santun dengan mengindahkan apa yang mereka sosialisasikan dan juga menggencarkan sosialisasi kebudayaan Islam itu sendiri. Agar identitas kita tidak lapuk dari hearing atau penggiringan nilai yang mereka lakukan.
Demikianlah sedikit pelajaran yang dapat kita ambil dari tawon teruntuk seorang muslim dalam menghadapi perkembangan zaman dari sisi hegemoni nilai kebudayaan dari luar. Intinya dari tiga poin diatas yakni kita sebagai muslim hanya mau mengkonsumsi hal-hal baik dan terbuka dengan kebudayaan diluar serta gencar melakukan sosialisasi melaui diri kita sendiri (pelaksanaa individual) atau melalui media massa.
Penulis : Zaed Sambas
Editor : Hisyam Semandeng

Mantaaap pendekar pena. Cok Zaed
BalasHapusHehe... terimakasih
BalasHapusBagus. Lanjutkan menulis yaaa
BalasHapusSiap
HapusKeren artikelnya ��
BalasHapusHehe... terimakasih mba'
Hapus