Hari ini masih sebagaimana mestinya, tak ada yang berubah sama
sekali. Pagi-pagi sekali, kopi hangat seduhan bini kang Marhaen
bertengger manis di atas meja. Sedang corong mulutnya memuntahkan asap
menggumpal-gumpal. Kadang-kadang keluar dari lobang hidungnya sambil
mengendus-ngendus, persis banteng matador Spanyol. Comberan di belakang rumah
pun tak berubah, busuk sebagaimana mestinya. Sedang sisa-sisa nasi di sublukan,
segera di lempar begitu saja ke gerombolan ayam yang sedari subuh berkerumun sampai
berdesak-desakan seperti mendaftar BPJS.
Pasca itu, kang Marhaen pergi kebun sebagimana mestinya, kemudian
beristirahat di terik matahari, itu pun kalau mandor sedang ketiduran dan
kemudian akhirnya kang Mahaen boleb pulang pas waktu surup tiba. Adapun malam,
selain dari mengeluh lantaran linu, encok dan asam urat, sesekali ngeloni bini
yang sudah wangi minyak telon. Terkecuali wangi balsem otot geliga.
Pada tanggal 06 Juni 1901, ialah hari lahirnya Koesno Sosrodihardjo, atau yang
kita kenal Ir. Soekarno. Seorang Putra Sang Fajar kata ibundanya, Ida Ayu
Nyoman Rai. Kebesaran dan popularitas namanya bukan hanya dikenal warga
dusun Karang mluwo, bahkan dunia pun tau belaka siapa beliau itu. Senantiasa
dikenang setiap generasi, seolah abadi tak lapuk di hujan, tak lekang di panas,
kata orang Melayu.
Sebahagian atau bahkan mungkin seluruh warga negara Indonesia
merindukan sosoknya hadir di tengah-tengah kita di era ini. Karakter yang tegas tanpa
culas, semangat tanpa loyo, dan yang paling saya gemari gaya orasinya yang
khas; menggebu-gebu anti abu-abu. Siapa saja pasti merindukan sosok fenomenal
satu ini, terlebih di masa pandemi tahun ini dengan seabrek efek destruktif
terhadap semu lapisan kehidupa. Mulai dari kalangan atas sampai comberan, sungguh teramat sangat menjengkelkan. “Kantor tutup, pabrik tutup, kegiatan dibatasi dan
akhirnya pendapatan menurun, daya beli menurun, akhirnya ekonomi lesu”. Tuduh
Saudara Jusuf Kalla, mantan wakil presiden kita yang tiba-tiba jadi pengamat
itu.
Berhubung saya sedang rindu dan hari ini pun masih dalam suasana hari
lahir beliau, sekiranya bolehlah saya berandai-andai, bagaimana jika Bungkarno
kita teleportasi ke masa kini. Lalu apa dan bagaimana sikap Bung Karno dalam
menghadapi carut marut bangsa di masa pandemi ini. Apakah beliau akan perintahkan
saudara Menkes Terawan Agus Putranto untuk mengadakan
penelitian dan memproduksi vaksin sendiri ? atau donor dana terhadap seluruh
UKM ? atau menghentikan semua aktivitas perusahaan tambang yang daya rusaknya
bukan alang kepalang itu ? atau menggebuki WHO beserta perusahaan-perusahaan
dunia farmasi yang sedang mencari untung ? Mengingat beliau sangat ‘Intoleran’ terhadap
segala bentuk penghisapan, kecuali menghisap rokok, itu soal lain. Hal ini
dapat di buktikan ketika Bung Karno yang tak segan-segan mengutuki dan
menyatakan keluar dari PBB beserta anak cucunya termasuk WHO, ILO, Unesco dan
lain sebagainya. Sebab perlakuan nya yang tidak adil terhadap Negara dunia
ketiga. Seraya memaki pembesar di dalamnya dengan muka merah padam beliau
katakan“i hate imperialism, i
detest colonialism”.
Atau jangan-jangan Bung Karno pergi ke studio rekaman kemudian
menyebarkan video berdurasi pendek ke seluruh masyarakat tumpah darah
Indonesia, seraya menghimbau. “Tak perlu takut secara berlebihan terhadap virus
corona, karena virus corona dari data yang saya terima, 94% lebih penderitanya
dapat disembuhkan”. Sambil lalu memberikan tutorial mencuci tangan sampai
bersih tentu dengan sabun Nuvo Family. Ah, rasanya itu mustahil, lagian juga
tidak begitu terlalu penting. Unfaedah kata Gen Z. Skip -----
“Kang Marhein”, Panggil Bung Karno. “Kok masih kerja di kebun ?
bukannya sekarang sedang rame-rame nya tagar #Stayathome ?”.
Selidik Bung Karno, dengan mengajukan pertanyaan sepolos-polosnya.
“Waduh Bung,,,Bung, Sampean ini seperti gak ngerti kami kaum petani.
Kalau gak kerja ya gak makan. Terlebih bising di rumah, bini ane ‘mauidhoh
sayyiah’ terus”.
“Lho kang, terus apa kebijakan pemerintah ? apa masih berpedoman
terhadap UUD 45 dan Pancasila yang saya gagas dalam menyikapi situasi ini
dengan tegas dan arif ?”.
“Nah itu dia, beda zaman beda kebijakan Bung ! dimasa pandemi
tahun ini pemerintah sekarang kebanyakan cing-cong, condong memebela
beroprasinya perusahaan tambang dan toko-toko besar, mencuri kesempatan
mengesahkan undang-undang setan, dan parahnya kebijakan pusat dan daerah
berlawanan, alias plin plan, tidak sigap, bin mencal-mencle. Jauh sekali
perbandingannya dengan bangsa bermata picing itu, baina as-samaa’i wa
sumur pokoknya. Sedang urusan pancasila ! itu sudah
seperti palu dan arit nya pemerintah, yang di daya gunakan mentok untuk
menggebuki kelompok-kelompok cingkrang dan berjenggot panjang itu, tidak seperi
yang Bung Karno dkk maksudkan untuk Indonesia adil makmur”. Terang Kang
Marhein, secara seksama dalam tempo sesingkat-singkatnya.
“Wah…. Ini salah yang terlanjur kaprah kang Marhaen. Ini namanya 'ideologi Ampas’ kang ! lah kok Pancasila hanya diambil ampasnya saj bukan
sari patinya. Benar benar kacau balau bangsa kita ini”. Jangan-jangan
wakil-wakil kita itu gak ngerti sama sekali mana batu zamrud mana batu koral !. Gumam
Bung Karno
Disela-sela pembicaraan, mata elang Bung Karno melihat Cangkul
Kang Marhaen yang memiliki bentuk berbeda dengan buatan pandai besi lokal.
Setelah diamati dalam-dalam, terang tulisan di ganggangnya 'Made in China'. Karna
penasaran Bung Karno mencoba menyelidik kembali.
“Itu cangkul Made in China, kenapa bisa ada bumi kita kang ?”
“Ini saya beli di pasar Bung ! tak ada merk lain, pemerintah
yang impor tempo hari lalu”.
“Benar-benar ampas!”. gerutu Soekarno, sembari membetulkan
kopiahnya yang digempur-gempur angin.
Penulis : Zaed Sambas
Editor : Hisyam Semandeng

Sukses selalu ♥
BalasHapusBingung dengan terminologi ampas
BalasHapusMantap, namun akan lebih baik jika diperhatikan lagi pengguna katanya. Hehehe
BalasHapusSemisal soekarno hidup di masa kini, ia akan lebih matang lagi mendiskusikan antara kalimat pulang kampung dan mudik ��
BalasHapusBe your self and never serrender
BalasHapusSucces for you yaaa AKHI