Di hutan belantara
tempat urat selalu saja beradu kuat tentang siapa yang pantas bertengger di
puncak siklus. Takdir melarat berlaku bagi mereka yang terpaksa lahir dari
rahim mahluk-mahluk kecil tak bertenaga lalu harus menjadi sajian utama rantai
makanan diatasnya. Domino ala hutan menjadi lambang kebrutalan sejati kehidupan
dimana tidak ada lagi kasih, cinta dan secuil pun perasaan belas. Pokok kayu
dan rindang dahan dedaunannya serta semak belukar seolah menjadi medan saling
memangsa satu sama lain, tak kenal siang maupun petang. Tak pandang ia ibu
maupun anaknya sendiri maupun sebangsa dengan nya semua terasa keniscayaan yang
mau tak mau harus diterima.
Yah.. ini lah alam ku
yang tak dapat dibanggakan ucap. Mekar bunga-bunga di waktu senja dan tak lupa
sahut sahutan indah dzikir alam yang hanya menghamba pada kesejatian kuasa. Sedang
disela-sela hutan, jalan setapak para pemburu membetuk labirin berkelok-kelok
menembus keheningan. Anggur hutan nampak pula semangkin ranum menggoda dahaga.
Waktu itu, aku berjalan menyisir sungai dan belukar waktu itu, karena menjadi
anak petani harus akrab dan mengenal alam kata ayah ku. Hidup di daerah
terpencil pulau kalimantan tak menjadi soal bagaimana harus menyenangkan diri. Tidak
ada dufan, mall, bar, diskotik bahkan HP ayah ku masih bermerek Nokia tahun
90-an dengan antena yang panjang seukuran tinggi sapu lidi.
Di sudut belantara, ia
tidak bertengger di atas pokok kayu tertinggi dan tidak pula bersembunyi
menimbun diri dalam tanah. Hanya beberapa hasta dari permukaan bumi dibawah
rindang kayu hutan, jaring yang lemah itu terbentang melebar mengikuti arah
mata angin. ya itulah laba-laba yang sedang merajut dengan khidmat rumahnya
serapi dan seindah mungkin. Ulet dan teliti pada setiap sudut sebagaimana orang
menenun batik, tidak soal kain dan
bentuk namun juga corak yang melambangkan kualitas unik nya. Lambat laun namun
pasti menjadi, dalam waktu singkat jaringnya sudah menganga sembari harap-harap
cemas menantikan hantaran sajian dari tuhan.
Dalam perjalanan itu,
teryata terjadi longsong kecil dari bukit di pertengahan hutan . Lantas aku pun
mencoba menyelidik seberapa besar peristiwa itu sambil berteduh di dibawah
pokok kayu untuk beberapa saat. Secara tak sengaja melihat betina laba-laba yang
sedang lari kesana kemari menyambung benang jaringnya yang putus karna ditimpa
ranting pohon yang rubuh oleh angin. seketika itu juga aku bergegas menghampiri
nya. Aku mengamati dengan seksama, perlahan-lahan mendekatinya agar tidak
sampai membuat nya terkejut. Di sela jaringnya ada seekor bangkai kupu-kupu
yang terperangkap. Dan kupastikan ia laba-laba betina yang hendak beranak
pinak.
“Wahai mahluk tuhan apa
yang terjadi dengan sarang mu? Tanya ku sekedar memastikan apa yang terjadi
sebenarnya.
Lalu ia hanya
mengdongkakan wajah nya dan melanjutkan menenun sarangnya. Aku tersipu malu
lantaran mahluk sehina sepertinya berani mengacuhkan manusia yang sudah jelas
kodrat kesempurnaannya. Tapi tak patah arang ku coba memperlembut sedikit
sapaan agar terkesan akrab dengan mahluk ini.
“wahai mahluk mungil
nan cantik, apa yang bisa saya bantu untuk mu yang sepertinya sudah sangat
bekerja keras ini?”. Sekali lagu aku mencoba mengajaknya berbincang-bincang.
“rumahku sedang di
timpa dahan kayu yang patah karena longsong yang terjadi sejak lusa tak
henti-hentinya?”. Sahutnya waktu itu.
“ah, rupanya longsor
bukit kecil ini ujung pangkal rusak nya rumah mu”. Tegas ku sembari
mangut-mangut mengamati laba-laba betina yang masih terlihat sangat sibuk.
“kenapa kau kemari ?
tidak adakah tempat lain selain lereng bukit ini untuk mu bermain? Sangat
menggangu ku sekali kalian manusia biadab!”.
“Ah, !”, seketika aku
terperenjat mengdengarnya berkata demikian. Sangat congkak sekali mahluk mungil
ini gumam batin ku.
“mengapa kau memanggil
saya manusia biadab. Bukan kah saya sekedar bertanya dan tidak melakukan
apa-apa bahkan bukan penyebab rusaknya rumahmu ini”?.
“Heh.., ternyata kau
masih belum mengerti manusia”?.
“tidak kah kau lihat di
sekekliling mu apa yang disebabkan oleh bangsa mu yang tidak tau di untung
itu”?. Laba-laba betina itu menghentikan menenunnya dan membelakangi ku
menghadap arah mata angin lainnya. Karena penasaran dengan sikapnya yang aneh,
aku mensegerakan diri berjalan melingkar sarangnya kemudian bertatap muka
dengan nya. Dan aku terkejut melihatnya meneteskan air mata.
“apa yang terjadi
dengan mu ? kenapa menangis ? bukan kah sarang mu sudah hampir selesai
dibenahi?”. Selidik ku dengan sikapnya yang semangkin membuat penasaran.
“nak, sebegitu
membatunya hati mu dan begitu kosongnya otak mu masih dan berani menanyakan hal
itu pada ku!. Tidak di pungkiri lagi zaman merubah segalanya. Yah.. (ia
mendesah lesu) kini keyakinan ku semangkin bulat jika manusia tidak mengerti
apa-apa.
“apa maksud mu dengan
semua ucapan yang tidak aku mengerti sedari tadi”. tanya ku memburu.
“biar ku perjelas ! Dahulu
sebelum bangsa mu berbicara dan berpakaian rapi sedemikian rupa, mereka tinggal
di sisni ! di tanah ini! di rimba ini”. jawabnya dengan lantang dengan air mata
masih menganak sungai di matanya. “mereka yang kau sebut purba dalam pengajaran
tetua-tetua. Tak ada diantara yang paling buas sekalipun dari mereka yang
menantang aturan alam, atau lebih tepat nya tuhan.
“ah, kau ini hanya
laba-laba yang merasa lebih tau dari segala mahluk, bukan nya kau akan mati
setelah melahirkan lantaran dimamah oleh anak mu sendiri”. Sergah ku yang sudah
tak sabar menyimak ocehan yang membuat naik pitam darah sampai ke ubun.
“Dengarkan !” laba-laba
membalik hardik. “Meraka kulihat melepas kembali anak kancil yang terjerat di
perangkap dan anak-anak ikan tak diganggu, di tunguu sampai ia sebesar kepalan
tangan dan mereka tak menebang pepohonan selagi tak membutuhkannya. Jikalau pun
butuh mereka tidak serakah dan mengambil secukupnya sahaja”.
“lalu”?. Sahut ku ketus
saja.
“itu artinya mereka tak
mau menggagu perputaran hidup agar tetap senantiasa berimbang sebagaimana asal
muasal di cipta Tuhan”. Hari ini bangsa mu berubah menjadi lebih serakah. kayu,
batu dan air pun dilahap habis hampir tak bersisa dan bahkan tak menyisakan
kami yang terlebih dahulu merawat belantara ini. apakah kau sudah mengerti ?.
“Rumahku rusak bukan
karena bencana longsor itu! namun rasa tak puas yang mengendalikan jiwa manusia
lah yang menghancurkannya. Siapa sangka burung-burung yang biasa hinggap di
pepohonan ini dan menyanyi bersama meninggalkan belantara yang sudah lapang
ini. ? apa yang hendak di perbuat nasi sudah menjadi bubur dan bubur sudah
membusuk”. Terang laba-laba betina itu panjang lebar pada ku.
“sudah cukup, penjelasan
mu”. Aku merasa tak terima dengan segala pertanggung jawaban yang ditimpakannya
kepada ku.
“bukit ini longsor
karena memang kehendak alam. Bukan kah kau tau hukum rimba memang dicipta
demikian, siapa yang kuat akan bertahan dan yang lemah akan dihempaskan. Tidak
ada seekor burung yang mengeluh sedikit pun atas perlakuan alam karena mereka
termasuk dalam bagian rantai tertinggi. Bisa terbang sebebas mungkin di alam
jagat. Dan tidak pula ikan-ikan yang berenang bebas di sungai-sungai menimpakan
ini terhadap kami ”.
“Biadab, tuhan mencipta
kami laba-laba bukan menjadi terlemah bahkan untuk semua mahluk. Tapi siapa
yang terbuas, kau lihat seberapa banyak kawanan elang yang setiap hari memangsa
ular tapi tidak ada kudengar ular betina mengeluh bahwa ular pejantan sirna di
muka bumi ”.
“buang saja perasangka
buruk mu itu, sudah aku jelaskan. Kau itu laba-laba. Mahluk lemah sepanjang
zaman. Manusia dicipta dengan kecerdikan akal dan kau dicipta dengan ketepatan
insting. Sudah barang tentu kami lah pemenangnya”. Tegasku yang sudah masuk ke
dalam amarah.
“Sudah lah !
membuang-buang waktu saja berbicara dengan mu manusia. Kau masih saja congkak
dengan anugrah tuhan. Itulah mengapa laba-laba enggan membangus sarang di rumah
manusia yang berpenghuni. Karena kami setiap saat kami melihta perbuatannya
sudah melebihi kami yang sudah kau anggap buas dan menakutkan ini, yang tak
pandang siapa yang dimakan oleh betina adalah pejantan, dan yang mamah oleh
anak-anak kami ialah kami sendiri ibunya.
“Benar ! demikianlah
manusia”. Seketika bukit berteriak lantang menyeruak ke segala penjuru
belantara. Aku dikejutkan dengan teriakan itu lantaran bukit pun menyanggah apa
yang sudah ku katakan. Tiba-tiba sahaja burung-burung diangkasa beterbangan
menghinggapi ku. Cacing tanah keluar dari dalam tanah, tupai melompat-lopat,
rusa dan kancil saling berkejaran mengampiri kami.
“dasar buta, tuli, bisu
tak mampu menggunakan akal saja masih saja sedemikian sombong. Apa lagi hati mu
sudah sekeras bebatuan”. Umpat salah satu rombongan itu. Mereka semangkin
mendekat dan terus mendekati ku. Seolah mereka ingin menghakimi saya yang
menjadi sejumput daging di tengah belatara ini.
“sebesar ini Tuhan
mencipta kami, namun tak mampu memikul beban wahyu tuhan. Kami akan hancur
berlebur jika sampai tidak ada manusia mulia dari gurun mulia itu”. pekik
kembali bukit yang berada tepat di hadapan ku.”Namun mengapa kau yang telah
dipilih dangkal menerimanya kesejatian firman”.
“kau merusak dan secara
sadar menolak asa penciptaan sebagai manusia. Bangsat !.
“kau meracuni kami
dengan limbah dan berharap kami berkembang biak”. Umpat ikan-ikan disungai.
“kau tebangi hutan dan
membendung sungai-sungai dan mengambil alih sepenuhnya mata air tempat kami
berpenghidupan. Tiada waktu lagi untuk membenahi dosa selain berharap kalian
segera dibinasakan tuhan”. Sahut binatang lainnya.
“ah, inikah si biadab
itu, kau tahu bangsa kami hari ini sudah hampir musnah karna akar pohon tak
menyerabut kedalam tanah. Kering kerontang tak ada basah sekalipun”.
Cacing-cacing mungil memaki ku.
“Apakau mengerti ucapan
mereka ? sejatinya kau adalah pilihan yang di bebankan tanggungan seisi alam.
Ranting ini boleh saja patah dengan alamiah tapi aku tak terima ranting ini
patah karena amarah manusia. Apapun yang di kemukakan oleh mu hanya masuk akal
dan kami sudah ribuan tahun sebelum tanah liat menjadikan Adam”. Sahut
laba-laba di dekat ku. Memecah riuh huru hara penghakiman dan mencipta hening
tanpa sejumput kata pun dari mahluk lainnya. Aku hanya terdiam mencoba meresapi
apa yang mereka sampaikan. Andaikata pun aku membantah sudah barang tentu aku
merasa telah dikalahkan oleh mereka baik secara akal lebih-lebih jumlah dan
tenaga.
“pergilah anak manusia
! tebus dosa mu dengan memahami keberimbangan-keseimbangan dan sinta kasih
terhadap alam. Karena kau bagian dari kami yang berbeda. Pergilah sebentar lagi
aku akan melahirkan dan akan dimamah oleh anak-anak ku sendiri.”. Ucap laba-laba
itu.
“tunggu dulu”. Ucap ku.
“aku masih ingin belajar kepada mu laba-laba”.
Seketika hening dan
kicau burung-burung masih bernyanyi ria. Ah, ternyata aku tertidur di lereng
gunung ini. kulihat di sekeliling yang masih menyisakan sepenggal mimpi sedari
tadi. Tidak ada yang berbicara, berteriak seperti yang terngiang di benak.
Surya telah beranjak dari ke peraduannya du ufuk barat aku segera berkemas lalu
keluar dari bukit ini.
Penulis : Zaed Sambas
Editor : Hisyam Semandeng
