Malam itu, masih sama sebagaimana malam-malam sebelumnya. Paijo, Parno,
dan Ngatmo tetap biasa melakukan
rutinitas nagkring di pos ronda komplek perumahan mereka. Barangkali karena
mereka bujang, tak bosan-bosannya mereka berkumpul, seperti setali tiga uang.
Namun jangan salah, walau bujang sepertinya tiga pemuda ini begitu cerdas. Sebab
mereka begitu cepat menemukan topik pembahasan. Mengalahkan kecepatan buzzerp.
Celotehan demi celotehan terus keluar saling bersahut-sahutan dari mulut
mereka. Pun juga asap dari batang rokok yang mereka sedot terus mengepul.
Disela-sela obrolan yang panjang, sesekali kopi diseruput.
“Entah sampai kapan.” Ucap Parno
datar setengah mengeluh karena merenungi nasib dirinya. Seketika itu pula mata
Paijo dan Ngatmo tertuju pada sahabatnya yang sepertinya ingin membuka topik
perbincangan baru itu. “Entah sampai kapan.” Ulang Parno dengan nada yang masih
datar. “entah sampai kapan kita akan membujang ?” Sambungnya.
Paijo dan Ngatmo masih bengong melihat sahabatnya yang tiba-tiba membuka
pembahasan yang begitu horor itu. Walhasil, mereka bertiga terbawa dalam
renungan yang cukup serius. Lalu seusai menghela nafas panjang, Ngatmo akhirnya
mampu mengeluarkan kata-kata. Dengan bekal kata-kata bijak yang bersumber dari
quotes versi Instagram Ngatmo memulai
“Ternyata manusia hanya butuh sabar, yakin, dan berusaha untuk
mendapatkan apa yang menjadi haknya dari Allah, termasuk jodoh.”
Dari perkataan Ngatmo itu, Parno hanya mampu mengangguk-nganggukkan
kepala tak mampu berucap sepatah katapun. Sepertinya menjadi seorang bujang
begitu membebaninya, hingga membuatnya kehabisan kata-kata. Di sisi lain, Paijo
sedang berfikir untuk ikut berceloteh. Gayanya ketika berfikir ihwal nasib
bujang ini sepertinya sudah mirip dengan gaya anggota sidang DPR yang begitu
serius, dan dari saking seriusnya sampai ada yang ketiduran.
“Sebenarnya ada yang lebih fundamental dari pada memikirkan kapan jodoh
itu datang.” Ucap Paijo. “Perihal jodoh, itu memang tentang hak preogatif Tuhan,
namun yang terpenting adalah bagaimana kita memohon jodoh yang kita
idam-idamkan. Sebab, jodoh itu akan bersama kita seumur hidup. Bayangkan jika
kita harus bersanding dengan orang yang tidak kita idamkan, tak nyaman bukan ?
Atau bahkan kita harus bersanding dengan jodoh yang kebiasaannya membuat kita
risih. Suka kentut misalkan. Bukankah itu akan begitu menyiksa ? Sudahlah,
jangan terlalu risau dengan nasib membujang. Yang terpenting kita punya selera.
Dan biarkan Tuhan yang menjawab kapan waktunya.”
Seusai Paijo menyampaikan celotehnya yang panjang lebar itu, sepertinya
Parno dan Ngatmo sedikit lega. Namun, sekarang beda lagi persoalannya. Mereka
bertiga malah hanyut dalam keindahan khayali tentang wanita idaman
masing-masing. Lalu setelah tersenyum sendiri, Paijo kembali melanjutkan celotehnya
“wanita idamanmu seperti apa no ?” tanyanya pada Parno.
“Tak usah muluk-muluk lah. Cukup
yang seperti Oky Setiana Dewi yang begitu anggun ketika memerankan sosok Ana
Althafun Nisa’ di film Ketika Cinta Bertasbih”. Jawab ngatmo seusai ia
membayangkan sosok wanita anggun nan manis idamannya itu.
“boleh juga seleramu no” sergah
Ngatmo.
“Bagaimana dengan kamu mo ?” Tanya Parno.
“Aku sih juga tak terlalu ribet. Ya, cukuplah seperti selebgram Rachel
Vennya yang matanya indah merekah itu.” Jawab Ngatmo.
“Dasar makhluk Instagram !” sahut Paijo menusuk.
“Tak apalah, siapa tahu dapat
jodoh selebgram. Keren bukan ?” jawab Ngatmo.
“Kamu itu jangan usil jo!” Sela
Parno. “Memangnya wanita idamanmu seperti apa ?” imbuhnya.
Mendapat pertanyaan seperti itu, Paijo tersenyum, lalu mulai menjawab. “Aku
suka wanita terpelajar, apalagi yang bisa memberi manfaat untuk orang-orang
sekitarnya. Ah, andai Kartini masih hidup. Pasti aku sudah mengirim surat
lamaran untuknya”.
“Dasar kolot !” Umpat Ngatmo.
“Atau Marsinah. Ah, Andai ia tak tewas dibunuh pasti anak-anakku akan
dididik menjadi pejuang-pejuang yang tangguh.” Lanjut Paijo tampa peduli pada
umpatan Ngatmo.
“hahaha, andai marsinah hidup kamu akan kecewa jo.” sela Parno.
“Mana mungkin aku kecewa dengan wanita yang gemar berjuang seperti dia?”
Tanya Paijo.
“Mana mungkin kamu akan berminat pada wanita yang sudah tua renta,
bukankah umurmu terpaut jauh dengan umurnya ?” jawab Parno sambil tertawa
terbahak-bahak.
“Kalian boleh menertawakan seleraku. Tapi kalian akan terkagum-kagum
sebentar lagi ketika aku menceritakan gadis idamanku yang satu ini”. Paijo
terus berceloteh.
“Tapi bukan yang tua renta lagi kan?” Tanya Parno dengan ledekan yang
memancing tawa. “Jangan salah. Dia lahir 12 Juli 1997.” Jawab Paijo.
“Widih, udah hafal sama tanggal lahirnya pula nih?” sela Ngatmo.
“Memangnya siapa namanya ?” sambung Parno penasaran.
Paijo diam sejenak lalu melanjutkan celotehnya. “Namanya Malala
Yousafzai.” Lalu Parno lanjut menyelidik. “Namanya begitu asing, sepertinya
bukan nama Indonesia ya?” “Ya, dia kelahiran Pakistan.” Jawab Paijo. “Jauh
betul kau cari jodoh jo, apa istimewanya dia sih ?” Tanya Ngatmo. Lalu dengan
tersenyum Paijo menjawab. “Dia pandai, suka menulis, dan selain itu dia adalah
pejuang yang gigih. Sampai-sampai nyawapun tak segan-segan ia korbankan. Dia melawan
Taliban ketika mereka melarang perempuan-perempuan Pakistan bersekolah. Dan
akhirnya hal tragispun terjadi. Ia ditembak ketika berumur 15 tahun.”
Parno dan Ngatmo menyimak begitu serius. Lalu Ngatmo memancing Paijo
meneruskan celotehnya dengan sebuah pertanyaan. “Lalu bagaimana nasibnya jo? Ia
mati?” “Tidak, dia berhasil diselamatkan. Lalu seusai peristiwa penembakan itu.
Ia semakin menjadi-jadi dalam memerjuangkan pendidikan perempuan di Pakistan.
Ia berpidato untuk PBB, mengarang sebuah buku, dan membangun sebuah lembaga
pendidikan gratis untuk perempuan. Ah, andai nanti jodohku sepertinya. Pasti
anak-anakku akan dididik menjadi anak-anak terpelajar oleh ibunya sendiri
selaku madrasah pertama mereka. Ah, sudahlah. Selebihnya kalian bisa cari tahu
sendiri kisah-kisah heroiknya di internet. Sekali-kali lah, kalian pakai Smartphone kalian itu untuk
mengenali sosok tokoh dunia seperti si Malala ini. Minimal lah, kalian berdua
tahu bahwa masih ada wanita yang tak hanya sibuk bermain Tik-Tok dan memoles
diri dengan skin care atau menyulam alis
seperti kipas”.
Penulis: Hisyam Semandeng
Editor : Hisyam Semandeng
