Dari sisinkebudayaan Musik patrol adalah satu dari sekian produk kebudayaan pandalungan. yang menurut saya kadar estetiknya setara dengan music opera Rusia, gubahan Ildar Abdrazakov. Demikian juga garangnya ‘Can Macanan kadduk’ yang sudah barang tentu lebih garang dari pada singga-singa koloseum yang gagah berlaga di arena gladiator Italia 72 M lalu.
Saya sendiri tinggal di kota pandalungan ini cukup lama, kisaran 7 tahunan. Tepatnya di kabupaten Jember. Salah satu kota yang wilayahnya ada di daerah tapal kuda, ujung pulau Jawa. Hemat saya kota ini memang pantas menjadi primadona, bukan sebab goyangan Dewi Persik di pertelevisian nasional. Juga bukan sebab serak syahdu nya suara Anang Hermansyah yang sempat magang di DPR-RI itu. Tapi semata-mata saya sangat senang hidup di kota ini oleh karna masyarakatnya ramah-ramah, kebudayaan nya beraneka ragam dan panorama alamnya yang indah. Ingin sekali berlama-lama tinggal di kota Jember. Bahkan jika ada teknologi angkut rumah mutakhir, saya lebih suka menyebutnya Evolution of Snail technology, saya bersedia rumah saya diangkut untuk di pindah dari Pontianak ke Jember. Tanpa harus ikut todongan Tapera (Tabungan Perumahan Rakyat) buah karya wakil-wakil kita itu.
Bukan hanya kotanya saja yang saya senangi, berikut juga pemerintahannya. Mereka memiliki integritas dan attitude yang terbilang cukup memuaskan. Dibawah kepemimpinan Bupati dr. Faida yang berlatar belakang dokter itu, dalam satu sisi kondisi masyarakat Jember tergolong masyarakat yang sehat-sehat dan gemuk gemulai. Saking sehatnya rumah sakit sepi pasien dan apotik-apotik tutup. Bahkan BPJS tak laku sama sekali. Hal ini tak lain sebab keteladanan Pemerintah sebagai figure kesehatan seluruh warga kota.
Kekaguman saya semangkin memuncak ketika mendengar kabar di tahun
2017 lalu. ibu Sulimah, seorang warga desa Gambirono, yang terpaksa
mengkonsumsi rumput liar yang tumbuh begitu saja di belakang rumahnya hanya untuk
bertahan hidup. Ini berarti pemerintah hendak mengajarkan terhadap warga ‘Suwar
suwir’ agar hidup sehat serta hemat dengan berlatih menjadi seorang vegetarian.
“Subhanallah ! demikian mulia I’tikad beliau” Batin saya. Entah ibu Sulimah
masuk dalam kategori vegetarian Lacto-ovo-vegetarian atau jenis
vegetarian pagan. Adapun desas-desus pemerintah tidak memeperhatikan warganya
ialah fitnah belaka.
Adapun ihwal kemiskinan, saya berani bertaruh, Jember tidak seperti yang mereka bayangkan dalam angka-angka itu. Soal kabupaten nomer dua termiskin di Jatim yang di hembuskan oleh media massa tidaklah benar adanya. apalagi hasil riset-riset yang dilakukan patut diragukan.
“Apa kita harus percaya pada pernyataan tentang fakta kemiskinan di Jember ?” tanya saya
“Tidak perlu, media hanya mau mencari celah terhadap pemerintah daerah yang sudah paripurna seperti Jember ini. Dan riset yang dilakukan para ahli, metodenya salah semua”. Jawab mereka.
“Astaghfirullah !” Seru saya. Sungguh rendah etos akademik mereka.
Bayangkan saja, bagaimana mungkin Jember dengan pemerintah yang terpercaya ini di vonis sedemikian rupa oleh hasil-hasil riset yang tidak berdasar itu. Pemerintah Jember sungguh sangat menyayangi warganya. Ini terbukti dari akurnya sekian pasar tradisional yang di kepung habis-habisan oleh pasar jejaring modern. Alfamart dengan 131 toko dan Indomaret dengan 157 toko yang tersebar di 31 kecamatan. Jika ke akuran itu terus berlanjut mungkin toko itu sudah hadir disetiap dusun. Seakan Jember isinya toko modern melulu. Belum lagi Roxy, Lippo dan Transmart yang beroperasi. Insya allah ! pasar tradisional 10-20 tahun mendatang tinggal kita ambil hikmahnya.
Disamping itu, bagi saya pemerintah Jember memiliki selera yang cukup radikal dan di luar dari kebiasaan lumrahnya manusia. Mereka dengan tangan terbuka melelang SDA yang berupa emas, kapur, semen dan membuka tambak seluas-luasnya. Lalu apa respon masyarakat sekitarnya ? bagaimana dengan kebun-kebun mereka ? tidak ada. Menurut pemerintah masyarakat pandalungan amat ramah-ramah dan legowo dengan hadirnya pertambangan di daerahnya. Karna itu adalah cara rakyat menyumbang terhadap pendapatan daerah.
Lalu, pemerintah mengizinkan Inul Vizta maupun H2O atau lainnya agar masyarakat mendapat hiburan yang layak, bahagia tentram sentosa. Bagi yang punya uang pas pasan cukup bertengger di warung remang-remang. Murah kok !. sebagian orang mungkin mencibir.”Kota santri kok banyak begituannya”. Tapi pemerintah sudah memaklumi hal tersebut. Padahal masalahnya tidak sesederhana itu. Buat orang yang sudah memahami duduk perkaranya. Warung remang-remang dkk tidak mesti berkaitan dengan hiburan. Tapi ada yang lebih luhur dari pada itu.
Lalu, pemerintah menyokong berdirinya masjid maupun rumah ibadah lainnya. Agar masyarakat jember selain disayang pemerintah juga menjadi umat kebanggaan tuhannya. Terutama yang sudah mangkal di warung remang-remang tadi. Hehe …
“Lalu bagaimana dengan mahasiswa yang demo memprotes kebijakan pemerintah Jember disana-sini ?”. tanya saya.
“Nah, itu cuma simulasi kritisisme. Setidaknya menunjukan kepada pemerintah pusat kalau mahasiswa di kabupaten Jember aktif berpartisipasi untuk membangun Jember yang Jembar”. Tukasnya. “
“Apa itu bukan tindakan subversive ?”. tanya ku sekali lagi
“Aih… wong sebagian diantaranya sudah saya siapkan pekerjaan lewat jalur bawah tanah”. Jawab mereka.
Adapun ihwal kemiskinan, saya berani bertaruh, Jember tidak seperti yang mereka bayangkan dalam angka-angka itu. Soal kabupaten nomer dua termiskin di Jatim yang di hembuskan oleh media massa tidaklah benar adanya. apalagi hasil riset-riset yang dilakukan patut diragukan.
“Apa kita harus percaya pada pernyataan tentang fakta kemiskinan di Jember ?” tanya saya
“Tidak perlu, media hanya mau mencari celah terhadap pemerintah daerah yang sudah paripurna seperti Jember ini. Dan riset yang dilakukan para ahli, metodenya salah semua”. Jawab mereka.
“Astaghfirullah !” Seru saya. Sungguh rendah etos akademik mereka.
Bayangkan saja, bagaimana mungkin Jember dengan pemerintah yang terpercaya ini di vonis sedemikian rupa oleh hasil-hasil riset yang tidak berdasar itu. Pemerintah Jember sungguh sangat menyayangi warganya. Ini terbukti dari akurnya sekian pasar tradisional yang di kepung habis-habisan oleh pasar jejaring modern. Alfamart dengan 131 toko dan Indomaret dengan 157 toko yang tersebar di 31 kecamatan. Jika ke akuran itu terus berlanjut mungkin toko itu sudah hadir disetiap dusun. Seakan Jember isinya toko modern melulu. Belum lagi Roxy, Lippo dan Transmart yang beroperasi. Insya allah ! pasar tradisional 10-20 tahun mendatang tinggal kita ambil hikmahnya.
Disamping itu, bagi saya pemerintah Jember memiliki selera yang cukup radikal dan di luar dari kebiasaan lumrahnya manusia. Mereka dengan tangan terbuka melelang SDA yang berupa emas, kapur, semen dan membuka tambak seluas-luasnya. Lalu apa respon masyarakat sekitarnya ? bagaimana dengan kebun-kebun mereka ? tidak ada. Menurut pemerintah masyarakat pandalungan amat ramah-ramah dan legowo dengan hadirnya pertambangan di daerahnya. Karna itu adalah cara rakyat menyumbang terhadap pendapatan daerah.
Lalu, pemerintah mengizinkan Inul Vizta maupun H2O atau lainnya agar masyarakat mendapat hiburan yang layak, bahagia tentram sentosa. Bagi yang punya uang pas pasan cukup bertengger di warung remang-remang. Murah kok !. sebagian orang mungkin mencibir.”Kota santri kok banyak begituannya”. Tapi pemerintah sudah memaklumi hal tersebut. Padahal masalahnya tidak sesederhana itu. Buat orang yang sudah memahami duduk perkaranya. Warung remang-remang dkk tidak mesti berkaitan dengan hiburan. Tapi ada yang lebih luhur dari pada itu.
Lalu, pemerintah menyokong berdirinya masjid maupun rumah ibadah lainnya. Agar masyarakat jember selain disayang pemerintah juga menjadi umat kebanggaan tuhannya. Terutama yang sudah mangkal di warung remang-remang tadi. Hehe …
“Lalu bagaimana dengan mahasiswa yang demo memprotes kebijakan pemerintah Jember disana-sini ?”. tanya saya.
“Nah, itu cuma simulasi kritisisme. Setidaknya menunjukan kepada pemerintah pusat kalau mahasiswa di kabupaten Jember aktif berpartisipasi untuk membangun Jember yang Jembar”. Tukasnya. “
“Apa itu bukan tindakan subversive ?”. tanya ku sekali lagi
“Aih… wong sebagian diantaranya sudah saya siapkan pekerjaan lewat jalur bawah tanah”. Jawab mereka.
Sekian lama saya merenung, ternyata pandalungan bukan hanya hasil dari proses asimilasi kebudayaan Madura dan Jawa. Tapi lebih daripada itu, pandalungan versi pemerintah ialah hibrida atau kawin silang dua jenis binatang yang berbeda ; Kekuasaan dan korporasi.
Penulis : Zaed Sambas
Editor : Viki S.A
