Jika setiap sore kita mengamati bahwa matahari terbenam, maka
kita dengan mudah akan mengambil kesimpulan bahwa setiap hari matahari terbenam
disore hari. Coba kita ambil gelas lalu banting dengan keras, setelah
mengetahui bahwa gelas yang dibanting itu pecah. Maka kita akan mengambil
kesimpulan bahwa pecahnya gelas adalah dengan daya banting yang kita lakukan.
Begitulah salah satu sistem berfikir kita bekerja, dengan sebuah bukti empiris lantas dapat
menarik sebuah konklusi. Tetapi jika suatu hari kita gagal membanting gelas
untuk pecah. Maka beberapa tata kelola pikiran akan diformat ulang dengan
memberikan ruang khusus terhadap kesimpulan yang lain.
Setiap kali menemukan kesamaan (contoh membanting gelas
lalu pecah) maka seolah ada kebenaran permanen, seolah pada akhirnya akan istiqomah selalu
dengan cara begitu, tanpa memikirkan kemungkinan lain yang akan terjadi. Inkonsistensi atau
kesalahan mengambil sampel.
Lalu
apa kabar ide evolusi Darwin ?. Setidaknya
untuk pertama kali, kita sebagai seorang pemerhati system tatakelola pikiran,
haruslah mengatakan bahwa ia adalah seorang yang tekun dan jenius. Ia mampu memprediksi ide-idenya
tentang evolusi, apakah akan tetap bertahan atau berubah seandainya
ia diberi usia panjang sampai hari ini. Menunjuk kepada ilmuwan lain yang
mencoba merevisi teori evolusi. Dalam hal ini, memberi tanda bahwa evolusi
Darwinian bisa saja kurang lengkap setelah ditengok lewat landscape yang
lain atau bisa juga upaya merevisi merupakan pembenaran terhadap dasar-dasar
yang telah ia letakkan dan menggugat bagian yang lain.
Ketika para arkeolog, menemukan fosil-fosil tengkorak
hampir mirip dengan manusia, seperti yang telah ditemukan di Filiphina dan
China pada tahun 2018 lalu. Memberikan angin segar tentang sebuah kebenaran.
Perbedaan bentuk tengkorak manusia modern dengan manusia zaman jutaan tahun
lalu adalah sinyal bahwa telah terjadi perubahan (evolusi) karena suatu tata
cara dari alam yang menyebabkan makhluk harus menyesuaikan diri dengan
lingkungannya supaya dapat bertahan hidup.
Manusia sekarang adalah mereka yang berhasil
mempertahankan hidupnya. Karena struggle for the fittest, yang
lemah bisa dipersilahkan menyingkir didalam peredaran jagat semesta.
Lalu bagaimana
kabar manusia seribu tahun lagi? Karena pasti terjadi banyak penyesuaian yang
akan menimbulkan bentuk tubuh. Bisa jadi orang-orang masa depan akan melihat
aneh kepada bentuk
manusia dimasa sekarang.
Lain dari pada itu, yang harus kita fikirkan dan entah
apakah difikirkan atau
tidak oleh Charles Darwin. Apakah tidak mungkin jika sebenarnya
ada spesies lain diluar manusia modern ini ? yang bisa saja dilengkapi dengan nalar dan kecerdasan melampaui umat manusia.
Jadi, apakah kira-kira lebih tua siapa antara manusia dengan sebangsa monyet,
kera, simpanse, gorilla yang hidup dimuka bumi? Sebab bisa jadi mereka lebih
dulu ada dengan kesamaan struktur tengkorak tetapi
dari jenis yang lain. Jadi dalam masalah nasab tidak pernah bertemu. Oleh
karena itu, Darwin mungkin saja salah mengambil kesimpulan
(sebagaimana contoh gelas yang pecah tetapi selanjutnya tidak). Hanya sebab
mengambil adanya kesamaan tetapi dalam wilayah perbedaan tidak pernah dijangkau
secara pasti. Monyet hari ini nyatanya tidak pernah menjadi manusia kembali.
Maka dengan demikian bisa saja, sebenarnya dulu
makhluk semacam kera hidup lebih dahulu kemudian baru muncul manusia seperti
bentuk modern sekarang dari arah yang tidak disangka-sangka oleh Darwin. Karena
persangkaannya hanya melulu sebab mengambil kesamaan fosil saja, padahal
berbeda. Dengan mudah ia mengatakan bahwa spesies masa sekarang berasal dari
spesies masa lalu.
Mungkin Karena bacaan Darwin hanya berasal dari
ayat-ayat kauniyah saja, maka jelas bertabrakan dengan para
penganut agama Islam yang membaca ayat-ayat qur’aniyah.
Terdapat
sebuah pengalaman menarik, disebuah Pesantren ketika berlangsung acara rapat
wali santri, ketika itu dalam sesi dialog antara wali santri dengan dewan pengasuh.
Terdapat seorang bapak-bapak yang memberi tanggapan cukup sinis terhadap
peristiwa yang pernah terjadi di Pesantren. Menurutnya mengajarkan kepada
santri yang juga berstatus sebagai siswa lembaga formal tentang homo erectus
adalah suatu masalah. Wali santri tersebut jelasnya tidak membedakan antara
homo erectus sebagai pengetahuan dan sebagai keyakinan. Sangat jelas Pesantren
tidak akan memberikan pengajaran bahwa asal muasal manusia adalah dari kera.
Tetapi kepopuleran Darwin telah menerobos dinding-dinding Pesantren dan masuk
kedalam mata pelajaran siswa sekolah sebagai pengetahuan, bahwa dalam jagat
ilmiah kita terdapat pendapat semacam itu. Cukup sampai disitu saja tanpa
pembenaran total oleh pikiran apalagi oleh batin.
Dalam perbendaharaan pengetahuan Pesantren, perihal
manusia adalah berasal dari Nabi Adam Khalifatullah fi al-ardh. Beliau
diturunkan untuk mengelola bumi. Dapat dipastikan bahwa bumi terlebih dahulu
ada dari Adam dan dapat dimungkinkan ada makhluk lain dengan kerangka tubuh
seperti Adam melainkan bukan dari jenis adam. Bisa saja Darwin salah mengambil
sampel untuk memberikan kesimpulan tentang manusia karena ia tidak membaca
teks-teks keagamaan seandainya pun membaca pastinya tidak percaya. Jika percaya
jelasnya kesimpulannya tidak akan semacam itu. Mengenai wali santri itu diharap
tidak perlu cemas karena Pesantren akan tetap berpegang teguh pada Al-Qur’an
dan As-sunnah tidak akan mengambil jalan pikirannya melalui buku The
Orign of Species.
Sekali lagi, kita harus mengatakan bahwa Darwin adalah orang yang brilian sekalipun kita menolak pendapatnya. Dalam kerangka berpikir tentang evolusi ternyata telah mengilhami pikiran-pikiran tentang adanya evolusi budaya, agama, sosial. Salah seorang yang mendapatkan ide dari evolusi Darwin adalah Herbert Spencer, ia mempunyai gagasan tentang Capitalisme and Social Darwinisme dan Nazisme and Social Darwinisme.
Editor : Zaed Sambas