
Terlalu naif apabila mengatakan bahwa hanya manusia yang membutuhkan oksigen, air dan makanan untuk hidup. Sebab hewan pun juga demikian. Lazimnya perbedaan diantara keduanya adalah kemampuan untuk berfikir manusia sedang hewan hanya mengandalkan insting. Tapi betapapun demikian, daya berfikir yang dimiliki oleh manusia tak lain persyaratan administratif saja. Ia hanya status, bukan suatu yang signifikan. Sama halnya dengan mobil plat merah dengan yang tidak.
Dibanding hewan maupun tumbuhan manusia dapat saja lebih unggul, sebab dengan akalnya ia mampu membedakan antara benar dan salah, baik dan buruk, indah dan jelek. Akan tetapi saat terjerumus kepada suatu keadaan dan situasi yang memaksanya untuk memilih, antara satu dari ketiga nilai tersebut (baik & buruk, benar & salah, indah & jelek), melainkan antara ketiga nilai tersebut. Mana sekiranya yang paling lebih didahulukan dengan mempertimbangkan pergeseran nilai-nilai pada konteks tertentu.
Lagi-lagi manusia disamping menguasai daya logis, hukum atau kaidah yang mengatur tentang cara berfikir yang benar, daya etis, baik-buruk yang diambil dengan menggunakan referensi dari agama, adat-istiadat, daya estetis dan pengalaman empiris. Maka manusia menalar sejarah sebagai suatu kehidupan yang tidak pasti. Sehingga penempatan dari ketiga nilai tersebut bisa berhasil dan tidak menimbulkan chaos baru.
Baca Juga : Hakikat Ganda Kumbakarna dan Wibisana
Lain daripada itu, sebagai manusia kita harus sadar dari ketiga nilai yang harus disemai kapanpun tanpa menunggu musim, bukan sesuatu yang permanen. Harus berganti shift dalam beberapa waktu kemudian. Apabila memaksanya untuk terus bertahan, maka nilai bisa berpotensi untuk berlaku diktator. Harus ada periodeisasi, seperti halnya kepala daerah, jika tidak ia akan berlaku sewenang-wenang. Manusia lah yang bertanggung jawab untuk itu semua, memasang sekaligus mencopot nilai mana yang seharusnya berlangsung, sekalipun harus dengan mengorbankan nilai lain.
Konon dalam cerita rakyat Mahabharata, dikenal seorang tokoh dengan kemampuan ilmu pemerintahan yang mumpuni, ilmu kanuragan yang sakti dan kebijaksanaan yang disegani oleh seluruh ksatria bangsa Arya. Ia adalah Dewabrata putra dari Prabu Sentanu dengan Dewi Gangga. Sehingga Nama Dewabrata lebih dikenal sebagai Bisma yang agung. Gelar tersebut didapatkan setelah sumpahnya diucapkan. Bahwa ia tidak akan menikah dan untuk selamanya membujang sebagai pengabdi kebenaran di kerajaan Astinapura.
Sumpah untuk tidak menikah diucapkan lantaran ia mengetahui bahwa ayahnya mencintai seorang wanita, anak seorang nelayan, namanya Satyawati. Namun prabu sentanu ditolak, Setyawati berkelakar bahwa kelak anak-anaknya tidak akan mewarisi tahta kerajaan sebab terhalang oleh adanya putra Sentanu dan Dewi Gangga, yaitu Bisma Dewabrata serta anak keturunannya.
Oleh sebab itu, Bisma bersumpah untuk tidak menerima tahta kerajaan bahkan bagi keturunannya merupakan tindakan yang luhur. Ia rela tidak menerima sesuatu yang semestinya menjadi haknya. Memberikan jalan yang terang agar cinta sang ayah bisa terbit dihati Satyawati. Pengorbanan yang luar biasa untuk menghindarkan perang saudara antara keturunan dari Dewi Gangga dan Satyawati.
Kekuasaan Astinapura silih berganti mulai dari Citragada, Wictrawirya, Pandu dan Destrarastra. Bisma hanya menjadi penasehat kerajaan dan pendidik para raja tersebut. Dari para raja tidak seluruhnya adalah orang yang kuat perihal kepemimpinannya, sedangkan kerajaan sangatlah tergantung di tangan para raja. Bisma yang terikat dengan sumpahnya lantas membiarkan semua terjadi. Toh, ia bukan seorang raja yang mempunyai keputusan tertinggi tetap kalah dengan orang yang menjadi raja.
Keterikatan dengan sumpah menjadikannya untuk membiarkan nilai yang semestinya sudah bergeser dibiarkannya begitu saja. Ia tetap memegang kesetiaan sumpahnya. Bahkan ketika perang di padang Kurusetra, sekalipun menyadari kebenaran berada di pihak Pandawa serta berharap mereka lah yang nantinya akan menang mengalahkan Kurawa. Ia tetap berpegang teguh bertahan dengan sumpahnya, untuk membela Astinapura. Dasar yang dijadikan pegangan oleh Bisma jelasnya tidak sesederhana slogan “benar atau salah adalah negaraku”. Tetapi lebih kepada jalan sebagai seorang ksatria dimana ucapannya dapat dipegangnya sekalipun pahit.
Nilai kebenaran dan kebaikan yang dijalankan oleh Bisma sebenarnya sudah terlarut dalam pusaran sejarah. Jika dulunya ia mengambil sikap bijak untuk tidak menerima tahta agar terhindar dari perang saudara, di kemudian hari ia membiarkan tahta di pegang oleh orang lemah. Sehingga puncaknya adalah perang saudara pula. Seandainya Bisma bersikap lain, tidak sekedar mengambil kebaikan dengan kesetiaan akan sumpahnya, sekalipun melanggar berarti ia telah berbuat dzolim terhadap dirinya sendiri. Tetapi hal itu lah yang akan menyelamatkan kebaikan di masyarakat kerajaan Astinapura. Atau setidaknya pindah haluan untuk membela Pandawa, maka korban perang tidak sebanyak yang terjadi.
Dari Bisma kita dapat belajar bahwa kurang memprioritaskan nilai yang harus diperjuangkan dan mengesampingkan nilai yang bukan utama dalam suatu keadaan. Memang posisinya cukup sulit, meski bagaimanapun juga harus dilewati. Sadar kapan menggunakan nilai kebaikan, keindahan dan kebenaran. Tidak sekedar membandingkan oposisinya dan memilih salah satunya, baik atau buruk, benar atau salah dan buruk atau indah saja.
Kita seringkali terjebak pada situasi yang memaksa kita untuk bertindak sebagaimana kebutuhan konteks, bukan lagi pada perbandingan variabel-variabel nilai lainnya. Ular memangsa sejenisnya dapat kita katakan insting saja. Tapi ketika Sengkuni terpaksa memakan daging saudaranya sesaat didalam penjara itulah konsekuensi logis, yakni akumulasi prioritas dirinya dan dendam saudara-saudaranya.
Hal diatas berbeda sama sekali dengan istilah” mengalah agar tidak ada yang mengalahkan mu” atau “merendah agar tidak ada yang merendahkan mu”. Sebab pertimbangan pada konteks yang sekali lagi hasil dari pada akumulasi nilai-nilai dalam skala prioritas. Ibaray kata pepatah "hidup adalah aliran sungai, maka pandai-pandai lah dalam mengaturnya. Ketika hanyut diserang gelombang, tidak hanya bongkahan batu tempat berpegang, bahkan punggung buaya pun bisa menghindarkan dari nasib naas".
Penulis : Arif Prasetyo
Editor : Zaed Sambas