Perempuan Adalah Tentang Apa Yang Tidak Mereka Ucapkan


Pagi itu, bersamaan dengan senyum mentari yang menyembul dari balik rindang dedaunan. Kau datang dengan senyum yang membuatku candu. Menyuguhkan minuman segar yang menyenangkan tenggorokanku. Kau duduk berjarak setengah meter disamping kananku, lalu menawarkan diri untuk menjadi separuhku. 

Hanya kita berdua. Tak ada lagi yang tau, selain Tuhan tentunya. Kau katakan, "cinta bukanlah sebuah demokrasi politik atau politik demokrasi yang butuh pengakuan banyak orang, juga bukan soal legalitas hubungan. Cukup kau setujui aku mencintaimu, dan ku setujui cintamu atas diriku. Itu sudah cukup, kasih." 

Kasih, kalimatmu itu membangun dengan kokoh puing-puing hatiku yang sudah hancur dan remuk oleh kisah kasih dimasa lalu. Kau datang dengan bahagia, memberikan segala bentuk kasih sayang, hadir dengan senyum, mabuk dan candu. 

Baca Risalah terkait : Cinta Tak Sebercanda Itu

Maafkan aku, kasih. Aku meragukanmu. Aku takut, aku kalut, bagaimana jika hadirmu tidak benar-benar menutup dukaku. Akan tetapi, menambah riwayat laraku. Terlalu banyak "bagaimana jika" di dalam benak ku. Terlalu banyak pertanyaan yang kita sendiri pun tak tau harus menjawab apa, bagaimana, siapa. ah sudahlah ! 

Kau kata, "kamu kesayanganku"."aku tak pandai menyusun kata-kata,  tapi aku pun tak bisa untuk tak mengungkapkan isi hatiku." i

Kau ingat kasih, kau pernah membuatku tak bisa terlelap sampai menjelang subuh karena untaian kata darimu. "Sukmamu merasuk dalam tiap-tiap relung hatiku. Bangkitkan ilusi yang seakan merajuk manja. Memintaku menikam logika, pudarkan bayangan kemustahilan, serta mewujudkan sebuah kemungkinan atas ketidak mungkinan diksi "kau adalah kecintaanku, dik." Selamat tidur.. Semoga mimpi indah. " 

Dan, yang selalu ku ingat, kau dengan sendu berkata padaku, "aku takut kamu hilang." Hai, kasih.. Aku nggak kemana-mana. Aku masih disini. Aku ingat, Kau pernah mendefinisikan "hilang" Sebagai sesuatu yang tidak ada di pandangan mata, atau tidak ada di pandangan hati. 

Saat ini, kau hilang. Hilang dalam pandangan mataku. Kata pepatah, "Dunia selebar daun kelor". Tapi sepertinya itu tak berhubungan dengan keadaan kita. Kita bagai terpisah jauh berkilo-kilo meter jauhnya. Kau yang menuntunku ke arah dimana kita bisa seirama, namun, kenapa kau juga yang berbalik arah? 

Kau tanya padaku, "Bagaimana keadaanmu?" Dengan tegas ku jawab sebagaimana perempuan lainnya, "aku nggak apa-apa. Silahkan tempuh jalanmu." 

Kasih, benar kata mbah Tejo, "Perempuan adalah tentang apa yang tidak mereka ucapkan". 


Komentar

Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama