| Sumber Ilustrasi : Pixabay |
Nelayan adalah salah satu dari kian ragam pekerjaan yang banyak di lakukan oleh masyarakat Indonesia. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa indonesia ialah negara maritim dengan wilayah kira-kira tujuh puluh persen terdiri dari laut yang memiliki kekayaan yang merimpah ruah. Maka tak heran jika banyak penduduk negeri ini menggeluti profesi sebagai seorang nelayan. penghasilannya pun lumayan menggiurkan, jika hasil tanggkapan dan muatan kapal besar bisa mencapai ratusan juta. Bagaimana anda tertarik ?
Namun taukah kita, ternyata menjadi seorang nelayan gampang-gampang susah. Gampang nya jika hasil tanggapan melimpah dan sudah siap di order. Sedang susah nya ialah tak tanggung-tanggung, nyawa dapat dengan mudah melayang jika kondisi laut sedang tidak tenang. Semisal badai, ombak besar, bahkan puting beliung menerpa. Bisa-bisa kapal pecah lalu tenggelam dan semuanya akan terkubur secara otomatis di lautan lepas. Nah, inilah mental yang harus di persiapkan jika anda ingin menjadi seorang nelayan. salah satunya yang dapat kita ambil ialah falsafah nelayan dari suku madura, sebagaimana penulis himpun falsafah nelayan madura yang mencerminkan kegigihan mereka dalam mencari rezeki untuk menafkahi keluarganya. Mengapa madura ? bukankah banyak nelayan dari suku yang lain ? jawabannya ialah karena orang madura dikenal gigih dalam bekerja sekasar apapun itu pekerjaannya dan yang pasti penulis tidak menafikan suku yang lainnya.
Pertama, "Nompak Katel"(naik Keranda)
Keranda identik dengan kendaraan terakhir dari menuju liang kubur orang yang sudah meninggal dunia. Bentuknya pun simpel dengan satu muatan dan empat tempat memikul. Nah, Orang Madura mengibaratkan jika perahu mereka adalah keranda yang sewaktu-waktu dapat menghantarkan mereka dalam jurang kematian. Karena tidak dapat dipungkiri menjadi nelayan resiko nya adalah kematian jika alam sedang tidak bersahabat. Di dunia nelayan kematian bukanlah hal yang rumit meskipun tetap menakutkan lantaran banyak sekali peristiwa seperti perahu tenggelam, pecah dan awak kapal semua mati di lautan lepas. Jadi istilah _nompak katel_ ialah bentuk dari kesiapan dan totalitas dari nelayan madura menghadapi maut. Jika ingin menjadi nelayan anggaplah perahu anda adalah keranda kematian.
Kedua, Asapok Angin (berselimut Angin)
Jika kita hendak tidur pasti yang kita cari pertama kali ialah selimut yang hangat nan lembut agar kita nyenyak dan sebagian menganggap angin malam tidak menyehatkan badan dan dapat menimbulkan penyakit . Berbeda dengan nelayan Madura, berhubung nelayan hanya melakukan aktivitasnya di malam hari, Maka mereka menganggap bahwa selimutnya adalah angin yang super dingin di lautan lepas. Bersetubuh dengan alam menjadi ciri khas dari para nelayan tanpa menghiraukan dampak yang ditimbulkannya. bagi nelayan madura, Angin menjadi simbol kegigihan dan jiwa kesatrianya. Bahkan jika ada pemuda pesisir tidak mau menjadi nelayan mereka di pertanyakan ke laki-lakian nya.
Baca Juga : 4 Tipe Manusia Yang Nggak Cocok Pakek Iphone
Ketiga, "Abental Ombek“ (Berbantal Ombak)
Mendengar kata ombak, otak kita akan melacak tentang gambar bantal yang lembut bukan ? Tapi tidak bagi nelayan madura, bantal mereka adalah ombak yang kadang menyambar-nyambar bringas. Tidak seperti bantal di ranjang yang dapat memanjakan kita sesaat tidur, Nelayan madura yang kadang tidur diatas sampannya seringkali bangun tergopoh-gopoh berkat hantaman ombak besar. Biasanya awak kapal bergantian untuk tidur seketika menunggu datangnya ikan atau sesaat pulang dalam perjalanan pulang.
Ke Empat, "Akobur Tasek" (berkubur Lautan)
Pada kebiasaan umum, orang yang mati akan dikubur di dalam perut bumi (tanah). Kecuali kepercayaan lainnya yang semisal agama hindu dimana mayat orang yang beragama hindu itu di bakar. Lagi-lagi nelayan madura punya falsafah berbeda dimana sebenarnya kuburan bagi nelayan, yups ! jawabannya lautan. Setiap yang bernyawa pasti akan mati, maut pun tak dapat diundur maupun dimajukan barang sedikit pun. Nelayan madura memiliki pemahaman jika dalam aktifitas nya akan menemui ajal, lautan lah yang akan menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi mereka.
Demikianlah cerminan totalitas mental nelayan Madura dalam falsafah mereka sebagai seorang penakluk lautan dengan segala macam konsekuensi nya. Demi mencari sesuap nasi untuk menyambung hidup nyawa tak jadi soal untuk dipertaruhkan. Seperti slogan mereka, Tak ada pekerjaan mudah di dunia ini bahkan tidur pun kadang-kadang bisa nyeri otot. Tidak seperti _popay_ dalam serial kartun yang hanya memakan bayam sudah dapat pulih kembali.
Penulis : Zaed Sambas
Editor : Hisyam Semandeng