![]() |
| Sumber Ilustrasi : Pixabay |
Dusun Madani masih memiliki tradisi serta kepercayaan tertentu yang masih dilestarikan oleh masyarakatnya terutama kalangan orang tua. Sekalipun kalangan muda tergerus arus modernisasi yang identik dengan cara berfikir rasional tapi nyatanya masih banyak kepercayaan magis-religius yang masih bertahan di dusun madani.
Salah satu fenomena yang sering penulis jumpai ialah kepercayaan terhadap sandingan. Yakni berupa sesaji atau sesajen yang dibuat untuk menggenapi syarat pada ritual tertentu. Sandingan berasal dari kata sanding dalam KBBI berarti pendamping. Maksudnya ialah sesaji tersebut dianggap sebagai pendamping atau pelengkap untuk suatu keadaan atau prilaku tertentu. Dimana penyaji berharap mendapatkan kelancaran dan keamanan.
Ada beberapa keadaan atau pekerjaan tertentu yang memerlukan sandingan. Sependek pengamatan penulis, setidaknya ada empat kondisi dimana sandingan memiliki peran yang cukup vital.
Salah satunya ialah pada proses pembuatan dodol. Dodol memiliki makna khusus bagi warga dusun madani, yakni sebagai simbol kerja keras, keawetan atau kelanggengan dan keberkahan. Ini bisa dilihat dari proses pempuatannya yang membutuhkan waktu yang cukup lama serta banyak menguras tenaga.
Tak heran jika ada pahelaran pernikahan di dusun ini, dodol menjadi makanan wajib yang disuguhkan. Sebab dibaliknya ada harapan untuk kelanggengan kedua mempelai. Sebagaimana dodol yang awet dan tak mudah basi dibanding makanan lainnya.
Pada proses pembuatan dodol ini, warga dusun membuat sesaji yang disimpan dalam nampan dan diletakan disamping kuali besar tempat mengadon dodol. Isi sesaji ini berupa pisang, uang, rokok kretek dan nasi beserta lauk-pauknya yang di bungkus dengan daun pisang. Adonan tidak akan segera di olah selama tidak ada sandingannya.
Melihat fenomena ini, penulis penasaran bukan kepalang dan akhirnya memutuskan untuk menyelidik, "What are you doing ?" Tanya saya. Seseorang menyahut "Abenta apah kakeh cong" ! Seketika saya hanya mangut-mangut dan kikuk.
Dalam beberapa informasi yang penulis dapat, ritual sandingan dodol ini dilakukan serta dimaksudkan semata-mata untuk bernegosiasi atau berdamai dengan mahluk halus atau bansa jin. Sebab warga dusun percaya bahwa bangsa Jin memiliki kemampuan dapat menjadikan adonan dodol tersebut tidak matang alias mentah atau jika pun matang memilki rasa yang tidak enak. Maka sandingan ini dibuat sebagai alternatif agar tidak terjadi hal tersebut.
Disatu sisi, sandingan ini dipercaya sebagai sebuat etiket kehidupan atau tatakrama antara bangsa Jin dan bangsa manusia. Tidak ada indikasi menyembah atau bersekutu, sandingan dibuat agar bangsa Jin tidak membuat mudharat atau kekacauan yang tidak diinginkan.
Isi sandingan tersebut memilki makna-makna khusus. Semisal uang koin yang dijadikan sebagai salah satu sesajian. Menurut warga dusun, uang tersebut sebagai simbol bahwa jika sesaji ini tidak cukup atau dirasa kurang sempurna oleh sebangsa jin, maka carilah dan cukupi sendiri. Manusia hanya akan memberikan apa yang mereka akan berikan.
Selain sandingan dodol ada sandingan lain yang juga sering digunakan warga dusun dalam banyak kondisi tertentu. Semisal kelahiran bayi ada sandingannya yang dapat berupa beberapa genggam beras, kaca, minyak dan peralatan bayi lainya yang ditaruh diatas piring. Ada juga sandingan untuk sound system, berupa kemenyan atau dupa, ada sandingan saat membuat rumah yang berupa pisang dan padi dsb.
Hal diatas dilakukan untuk mempertegas bahwa antara jin dan manusia harus hidup berdampingan tanpa harus saling memberi mudharat satu sama lain. Sandingan adalah simbolisme tradisional sekaligus saripati cakrawala alam pikiran leluhur dalam membina kehidupan yang harmonis. Dimana kerukunan tidak hanya kepada sesama menusia berikut juga kepada bangsa ghaib.
Dari pengamatan ini penulis hanyut pada pemahaman bahwa sandingan bukanlah sebuah pemujaan melainkan proses harmonisasi antara Jin dan Manusia. Dodol bukan hanya makanan, tapi ia adalah simbol yang memuat nilai-nilai luhur. Dodol tidak sekedar makanan yang cukup dikunyah-kunyah lagi. Tapi lebih dari sekedar itu yakni pemahaman serta penghayatan.

