Aku dan stempel seorang anak pengungsi seperti dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Sebuah identitas sosial baru yang terpaksa kusandang dan kupikul diatas pundak ku sendiri. Mungkin sampai akhir hayat atau bahkan mungkin itulah batas akhir dari identitas ku sebagai seorang manusia yang sejatinya bebas.
Semua berawal saat kerusuhan Sambas tahun 1999 silam, atau barangakali lebih tepat aku menyebutnya 'amuk'. Karena konon katanya prikemanusiaan dimasa itu telah dibuang jauh kedalam jurang. Asah diganti marah, asih dilebur birahi dan asuh digusur amuk. Semua telah berkecamuk, bara bertabur diamana-mana dan asap hitam mengepul membumbung tinggi mewarnai langit.
Truk-truk aparat datang berduyun-berduyun membawa ribuan orang yang hendak mengangkat tangan, tapi apa daya kata maaf tak ada dalam kamusnya. Sambil dikawal aparat bersenjata laras panjang, orang-orang itu terpaksa angkat kaki dari kampung halamannya sendiri demi menyambung nafasnya diesok hari.
Ah ! Aku yang hanya seonggok daging mungil yang tak mengerti apa-apa, pun juga tak peduli apa-apa. Tiba-tiba saja dalam hitungan hari sudah berada dilokasi penampungan pengungsi. Tidak ada pesta, tidak ada sorak sorai selain dari ribuan manusia yang menunggu diputuskan nasibnya oleh rasa belas dan iba siapa saja.
Tempo itu, tak sedikit penduduk Kalimantan Barat ! wilayah yang berada di belahan bumi katulistiwa ini, menganggap pengungsi adalah biang dari kerusuhan itu sendiri. Pengungsi adalah biang malapetaka yang selayaknya diasingkan tanpa terkecuali. Penolakan demi penolakan relokasi pun susul menyusul dari setiap penjuru. Seolah ingin mengatakan bahwa atas dasar alasan keamanan, pengungsi patut menjadi tumbal.
20 tahun kemudian, aku yang telah beranjak dewasa mulai menyadari dan bertanya kesana kemari. Tentang nasib naas yang menimpa ku dan semua orang di dusun ini. Tentang riwayat kelam, tentang luka diatas luka yang menganga. Aku seorang anak dari korban tragedi itu, nyatanya menanggung beban sejarah berdarah, masih tersisa dan masih kurasa.
"Kenapa aku lahir dari rahim seorang perempuan Madura dan besar menjadi seorang pengungsi yang dianggap hina dina ?". Tanya ku pada semesta.
Tapi semesta tetap saja tak bergeming barang sedikit pun. Hidup masih terus berjalan sebagaimana hukumnya, kadang pasang kadang surut, kadang pula kalut.
"Aku rasa ini tidaklah adil, aku tidak pernah diberi kesempatan untuk memilih kepada siapa aku meng-ibu, menginjakan kaki ditanah mana, dinegeri siapa, dimasyarakat adat yang mana. Tidak bukan !?" Sekali lagi aku bertanya. Tapi seperti seperti semula, semesta hanya mematung, sedang roda kehidupan terus berputar.
22 Tahun Pasca Konflik, relokasi yang kini bernama Dusun Madani ini telah tumbuh sebuah kehidupan baru, dimana dulunya wilayah ini hanya hutan belantara. Tapi kini tampak sesak dipadati ratusan rumah warga yang berderet rapi sepanjang jalan. Kebun dan hamparan sawah hijau membentang. Pertanda kehidupan pun tampak berjalan baik lazimnya pemukiman masyarakat biasa. Semua seolah baik-baik saja.
Tapi bisik perlahan berisik, kabar itu segera tertangkap indraku, dalam suatu suasana aku dan seorang tua bercerita sembari memulai ia berkata "dulu" (Ia berkisah tragedi sambas) kemudian ditutup dengan pecah tangis.
Oh ! Aku mulai memahami apa yang sebenarnya terjadi. Tak patah arang dan diliputi rasa penasaran yang besar, aku terus menyelidik dari setiap seduhan kopi hangat diantara perbincangan-perbincangan, apakah situasi lahir dusun madani hari ini sekaligus mewakili situasi batinnya ? Nyatanya tidak selalu demikian ! Lebih tepatnya masih ada api dalam sekam yang bergejolak. Tentang dahulu yang entah dimulai dari mana. tentang ketidak adilan dan pembiara. Seperti kata orang "tertawa dimuka umum tapi menangis di balik layar".
Sempat aku terseret dalam arus kemarahan, aku naik pitam tak tertahan. Bersiap siaga dan merasa awas bahkan di keheningan malam. Aku terjerumus dalam alur pikiran yang gelap lagi pekat. Hingga kemudian seiring waktu batin ku remuk, pertentangan demi pertentangan batin menyeruak. Seakan ia memaksa untuk merenungi ulang kecamuk ini, apa yang sebenarnya terjadi, apa yang sejatinya ku inginkan ? Ini seperti kutipan puisi Gus Mus yang tersohor itu :
"Bila kutitipkan dukaku pada langit
Pastilah langit memanggil mendung
Bila kutitipkan resahku pada angin
Pastilah angin menyeru badai
Bila kutitipkan geramku pada laut
Pastilah laut menggiring gelombang
Bila kutitipkan dendamku pada gunung
Pastilah gunung meluapkan api".
"Tolong ! aku harus keluar dari jebakan lingkar setan ini. Tuhan ! Aku hendak menyudahi perang batin ku sendiri. Tiada maslahat yang kudapat jika aku terpenjara pada kengerian masa silam, aku hidup dihari ini dengan zaman yang terus diperbaharui, dengan sekelumit kisah dan kasih yang datang silih berganti". Teriak ku
Seperti Rumi katakan "Dulu aku pintar, aku ingin merubah dunia. Kini aku bijaksana, Aku ingin merubah diriku sendiri". "Ya benar !". Sahut batin ku. Perubahan kecil adalab memulai dari diri ku sendiri, mereduksi segala kebencian, prasangka bahkan spekulasi liar. Menggantikannya dengan rasa asah asih dan asuh.
Jika perbedaan adalah keniscayaan, Maka keselarasan seharusnya mutlak. Namun kedamaian, persaudaraan, keutuhan dan keadilan itu perlu diramu sedemikian rupa. Seperti hidangan dimeja makan, daging tak boleh congkak dihadapan garam, garam harus patuh melebur kedalam air, air harus rela meresap kedalam serat. Semua menyatu kedalam satu jamuan kehidupan.
Andaikata demikian, rasanya aku tak sungkan lagi membayangkan masa mendatang, tentang romansa yang ditandu oleh pilar-pilar keadilan yang kokoh dan kebijaksanaan. Angin Laut boleh saja membikin ombak yang mengancam, tetapi prinsip kemanusian adalah batu karang. Ia akan tegak berdiri menantang siasat buruk perceraian, karang itu tetap teguh dan akan terus bersiskukuh.
Aku tak kan takut lagi menjamah riwayat, mengeja kembali peristiwa dengan lapang dan budi luhur. Bukan lagi tentang siapa menyalahkan siapa, bukan pula mendaku siapa inferior siapa superior. Tapi tentang manusia yang setara sederajat sama dihadapan semesta serta menjunjung tinggi nilai kemanusiaan itu sendiri.
Akhirnya, jika pun ada bintang jatuh ! Aku akan memohon suatu saat dapat menari diantara alunan nada-nada Sape' yang indah itu, sembari merias diri dengan batik khas bumi ini. Lalu kemudian aku ingin berjalan menyapa setiap orang dengan sumringah tanpa kecurigaan tanpa intimidasi, lebur dan berbaur dengan setiap kata dan rima bait-bait pantun. Aku masih yakin ada asa dibalik runyamnya peristiwa itu. Ia akan tumbuh subur setiap hati manusia yang menghendaki keserasian.
Aku membayangkan dalam perjalanan hidupku sendiri bahwa aku seperti sedang menulis lirik lagu, dengan tangga nada major disatu sisi dan nada minor disisi lainnya. Tapi itulah harmoni yang aku yakin dapat menghasilkan bunyi yang indah. Sekalipun sebagian orang memandangnya tak dapat merubah apa-apa, kujawab sebagaimana Nyai Ontosoroh katakan :"Kita telah melawan Nak, Nyo ! Sekuat-sekuatnya, Sehormat-hormatnya".
