Barangkali tukang bubur pun juga sepakat, kalau meminta kepada tuhan itu disebut do'a. Seseorang yang kepepet boleh-boleh saja berdoa sambil merengek, menangis atau meraung. Tidak ada larangan selagi itu diruang privat.
Tidak juga ada aturan soal kapasitas berdo'a. Minta banyak boleh karna tuhan memang maha kaya, minta dikit juga boleh karna tuhan juga suka kesederhanaan. Kalau minta yang sedang-sedang saja ini yang repot, sedang dalam ukuran manusia itu bisa jadi maksudnya bejibun.
Dilain waktu, ada seorang karib yang berbisik. Kalau berdo'a terlalu panjang sebab itu tandanya keserakahan. Sedang kalau ditimbang amal-amalnya manusia masih terhitung tekor. Ucapnya.
Sebaliknya kalau berdo'a terlalu pendek itu tandanya sombong, seolah-olah ia tidak memerlukan macam-macam perbendaharan dunia. Lebih-lebih perbendaharaan akhirat.
Merasa logika saya dikepung dari dua sisi yang berlawanan. Kemudian saya bertanya, bagaimana cara berdoa yang paling tepat ? Yang Sekiranya bisa mengkompromikan keduanya.
Ia jawab "Untuk kali pertama bedo'alah sepanjang, sebanyak mungkin. Mintalah kepada tuhan apapun yang kamu inginkan, mulai dari ujung rambung hingga ujung kaki.
Lalu besok dan seterusnya, cukuplah kamu ucapkan" Ya Tuhan do'a hamba sama seperti yang kemarin ! Udah gitu aja". Begitu tegasnya.
