Antara hujan dan rindu itu seperti pepatah barat katakan : "Perompak bisa saja membakar kebun bunga, tapi ia tidak dapat menolak datangnya musim semi".
Hujan adalah kelompok perompak yang merampas ketenangan, ia turun dari kolong langit dan seolah hanya bertugas membangkitkan gairah masa silam. Sedang musim semi tak lain adalah siklus. Ia menjadi ketetapan-ketetapan. Absolut tak dapat dipungkiri tak mungkin di ingkari.
Kalau saja musim itu hanyalah musim semi, niscaya bunga akan terus bermekaran sepanjang tahun. Dan seluruh mahluk akan bergembira sepanjang hayatnya.
Imaginer bukan ? Tapi oh ternyata Tuhan terlampau jauh lebih estetik dari sekian konsep keindahan itu sendiri. Ia tak segan menyiram bumi dengan panas, layu dan kering. Berserakan dihembus angin. Atau musim dingin yang mencekam, kaku lalu beku tak bergeming.
Sejurus kemudian, aku ingat kebajikan Tiongkok berteriak keras dikepala : Barang siapa menabur angin, ia akan menuai badai".
Sedang kaum Brahma India berbisik lirih ditelinga ku, "Karma". Katanya
Tak dapat mengelak ! Ya mungkin begitu kalimat yang paling tepat mewakili seisi batin. Tapi siapa sangka, rindu itu telah membalik haluan.
