Tepat dibawah sederatan pepohonan nan rimbun, kali ini aku sudah tidak lagi ragu maupun segan. Dan aku benar benar memberanikan diri menyelami samudra dua bilah bola mata itu. Bening tiada cela, sayu dan teduh. Selaksa tempat benaung dan berlindung.
Konon !! mata adalah penterjemah hati yang paling jujur. Rupa-rupanya kata-kata, sajak dan puisi boleh saja sedemikian indah. Tapi isyarat mata adalah mutlak. Tidak dapat berkilah atau berdalih. Ia cukup kuat hanya sebagai isyarat tanpa lafal maupun kalimat.
Seketika beradu, mata ku mengeja matanya, tanpa suara berikut juga tanpa huruf. Membaca maksud-maksud tersirat dalam lubuk hatinya yang paling dasar. Apa, bagaimana, untuk apa ?
“O… Tuhan yang maha kekal ! barangkali dua bilah mata itu dapat Engkau kekalkan ?” seru ku dalam batin.
Aku berharap ada yang kekal darinya sekalipun berupa sisa. Ya, itulah sisa yang hedak ku kekalkan didalam batin. Apakah itu rasa, cipta atau aroma tubuhnya yang menyanyat perbendaharaan nafas ! Barangkali sisa itu adalah azimat penangkal marabahya dan tolak bala dari intai nasib naas.
Azimat mata kijang terakhir. Aku menyebutnya sedemikian ! Ya benar, satu-satunya azimat sakti mandraguna yang diturunkan langit. Hanya dan semata-mata diperuntukan kepadanya.
Konon, berkat Azimat itu, maha diraja Majaphit, Hayam Wuruk, takluk dihadapan Diah Pitaloka. Buah cipta keanggunan alam kerajaan Sunda. Pun sebelum Zaman diah pitaloka, ada khabar yang beredar bahwa azimat anugrah langit itu sempat di kandung badan putri sang gurun Cleopatra. Hingga memancar kenegeri Romawi. lalu sampai kesinggasana maha diraja Julius Caesar
Dan, kali ini aku pun benar-benar memastikan, Azimat mata kijang itu telah di titahkan langit terhadapnya. Bunga rampai yang tuhan tak segan-segan menciptanya dari perbendaharaan terbaik semesta.
“Jangan-jangan ia jelmaan?”. Selidik ku. “Mungkin saja ia mahluk kahyangan yang kehilangan selendangnya seseat membasuh tubuh di tepian danau? Atau barangkali aku sudah mati masuk kealam baka?”. Tanya ku yang berangsur-angsur.
Dua bilah mata yang menenggelamkan apa saja. Kuning langsat warna kulit, beradu manis dengan gigi rapi putih seperti pualam. Beberapa kecap kalimat buah bibirnya adalah puisi puisi indah suku badui seiring nada petikan-petikan halus kecapi negeri bambu.
Baca Risalah Terkait : Alis Mata Bulan Sabit
Aduhai, Sekali beradu mata, aku memahami kalimat-kalimat tak kasat. Entah bagaimana itu terjadi. Sungguh pun mata memiliki bahasa yang lidah tak kuasa mewakilkan. Ia sengaja tuhan ciptakan tanpa suara dan tanpa huruf. Bahasa yang hanya diciptakan sekali dan hanya itu saja.
Tapi ! Sungguh sedemikian aku takut pada kenang-kenang, sebab ia hanya berakibat angan-angan. Iba mustahil diraba, kasih berujung kisah. Hari itu, terakhir kali aku bersamanya. Sembari membunuh waktu dan ruang, Barangkali itulah sebaik-baik alasan, sehormat-hormat dalil mengapa saya membenci pertemuan, sebab alam tidak pernah ingkar pada hukum berkebalikan. Perpisahan !
Sedari awal, saya telah sedemikian sadar bahwa arus tidak niscaya selalu dari hulu ke hilir. Namun bisa saja ia berkebalikan, pasang dan menantang dari apa yang dikehendaki. Kali pertama, perjumpaan, tiada yang berubah ! semua seperti sediakala. Sebagaimana dua orang muda yang merelakan diri tenggelam dalam arus. Tiada penting kemarau ataukah penghujan. Getaran itu tetap pasang tak kenal musim. kami berdua ditarikya kedalam curam yang bahkan siapa saja hanya dapat tunduk mengangguk.
O …. Barangkali Azimat mata kijang itu …. !! Seru ku saat itu. “Biang, segala kerusuhan batin. Amuk yang tiada kenal peluh. Tiada loyang diantara kilau emas, tiada memilin benang kapas diantara sutra sutra pilihan atau menyulap kerikil diantara permata”. Pikir ku yang semangkin tak tentu arah.
Hingga pada akhirnya, ia melambai kembali ke haribaan semesta. Aku duduk mengadap ketimur dan secara tak segaja memunggungi arah barat. Menengadah pada langit sembari menginjak bumi. Terang matahari pun telah disingkap malam, tertanda fajar yag perlahan berangsur pergi.
“Dunia seantiasa mencipta segala perkakas dengan padanan masing-masing. Dan ia dapat diperhadapkan satu sama lain. Tetapi mata kijang itu, tunggal tiada padanan”. simpul ku dalam batin.