Alis Mata Bulan Sabit





Setibanya mentari bangkit dari peraduannya, aku masih duduk bersila diatas sajadah lusuh yang biasa kupakai bermunajat. Menyebut lagi menyeru asma-Nya yang agung dengan kalimat tasbih, tahmid hingga takbir yang silih berganti menari-nari diujung jemari ku.

Aku tidak sebagaimana lazimnya hamba yang sedang bermunajat, mengadukan haru lagi pilu, mendulang iba lagi belas berharap balas, demikian pula tak ada ratap berikut tangis. Fajar itu, tak ada se-zarrah pun sedu sedan duka dan luka kunyatakan pada-Nya. Aku hanya perlu menghadap agung keharibaan-Nya, diam tak bergeming, tanpa lafal, tanpa patahan kata, tanpa bunyi, tanpa suara, sunyi-terembunyi, hening  menggumpal dalam hati.

Aku hanya membatu, sekalipun luka jelas menganga. Mengalir deras perih tak terkira tak terhingga. Namun perlahan-lahan aku mengubungkan rasa ini kepada semesta. Membiarkan-Nya menelan ku pada keharibaan-Nya yang tiada batas. Melebur lepaskan segala gundah bertumpuk resah.

Memasrahkan diri untuk dieja-Nya kalimat demi kalimat tubuh ku, huruf-huruf tulang belulang sampai jutaan sel-sel syaraf otak ku.  Sublimasi-keterhubungan-peleburan kupasrahkan saja dari hulu hingga hilir, tinggi hingga kepangkal nan curam sampai kepada tanda jeda. Titik !. Biarkan saja roman wajah membuat pernyataannya sendiri, sedang sorot mata tak lain adalah saksinya. Getir dan gigil cukuplah berandil sebagai tanda-tanda.

“Semuda ini usia ku … sebegitu berat kedukaan yang harus hamba tanggung” gumam ku menirukan kalimat Buya Hamka.

Aku bukan alif, yang tegak gagah berdiri diatas pusara persendiannya sendiri. Ya.. sekali-kali jangan menyangka yang sedemikian. Aku hanya huruf wawu seorang, lemah tak digdaya. Patuh dalam runduk dan sujud. Kadang aku hanya menyangka barangkali hidup ku adalah minuman keras, yang diperah dari darah dagingku sendiri. Pengap dan berat sekali hingga kurasa memenuhi rongga-rongga mulut ku.

Tapi bumi tetap berotasi pada garis peredarannya, air tetap mengalir dari hulu ke hilir, angin pun masih berhembus patuh pada ketetapan arah mata angin semesta. Sedang mentari tetap setia, ia pun tidak bosan-bosannya terbit, anggun berseri, menggoda ku yang lama tenggelam dalam lamunan. Sinarnya perlahan masuk disela-sela jendela kayu rumah tua ku ini.

Dengan perasaan getir aku mulai bangkit dari ruang privat tempat ku bermunajat. Menyudahi apa yang telah di mulai. Sebab hidup tak boleh kalut berlarut-larut. Aku terpilih diantara jutaan sel-sel menuju ruang keterwujudan. Aku tak boleh tahluk kepada sesiapa saja yang mencoba mendikte kebebasanku. Aku ini mahluk terpilih oleh Tuhan Yang Maha Memilih lagi belas asih.  

“Oh.. andai sahaja bunga-bunga mekar berseri di hamparan padang taman-taman. Tetap saja ia tak berhak indah di hadapannya ”. Seru ku pagi itu. Sembari menghela nafas panjang. Menghirup pagi yang diselimut bulir-bulir kabut yang halus nan lembut.

"Akulah !. buah dari maha karya penghulu semesta”. Seseorang menyahut dengan suara samar-samar. Aku menoleh keberbagai arah mata angin tapi tak seorang pun kutemukan sumber suara itu.

“Siapa gerangan yang telah menyahut”. Pekik ku

.”Akulah ! Buah maha karya penghulu semesta.”suara itu mengulangi kalimatnya kembali. “lembut lagi segar. jatuh gugur dari bilik langit. Jumlahku banyak tak terhingga tak terwakilkan angka-angka. Barangsiapa yang menyapa ku ditiap-tiap fajar, niscaya Tuhan akan menurunkan rahmat kepadanya sebanyak ketakterhinggaan ku”. Imbuhnya kala itu. Rupanya ia adalah embun pagi. ia yang telah berulang kali kumenikmati sejuk segarnya.

Baca Risalah Terkait : Azimat Mata Kijang Terakhir

“Ah, barangkali tuhan tiada pernah menyapu langit sebelum aku telah benar-benar hinggap diatas pohon-pohon serta tetanaman yang telah aku dan mereka bersepakat taat pada ketetapan-ketepan”. Suara itu perlahan-lahan menyeruak dalam pendengaran”.

“Aku diperintah mekar di pagi hari untuk menjadi pelipur lara roman wajah yang kalah tak digdaya beserta orang-orang yang tiada semangat menghadapi terjalnya hidup. Jikalau Tuhan tak memberiku anugrah keindahan dan ketentraman mungkin saja setiap saat ada saja seorang yang melompat dari atas tebing tebing nan curam”. Bunga dihalaman rumah ku juga ikut berseru menyatakaan kebetapaannya.

“Cahaya ialah perlambangan derajat” tiba-tiba mentari datang memeluk ku. “ Saat fajar shadiq, Aku yang senantiasa menghapus derai air mata sesiapa saja yang tersungkur. Sembari menggantikannya dengan cucuran deras aliran keringat semangat. Para penyair dan perindu pun tak habis-habisnya memuji ku hingga habislah perbendaharaan mereka”. Tegasnya.

Seolah-olah saja semua benda-benda itu membanggakan dirinya dihadapan ku. Entah itu bunga-bunga di taman, hangat fajar mentari, hingga bebatuan dan kerikil-kerikil kecil di halaman rumah. Aku sendiri merasa tidak terima dengan pernyataan berlebihan itu. Seberapa tinggi derajat ciptaan, ia tetap di peruntukan untuk maha karya-Nya yang paling sempurna.

Bukan aku, apalagi benda-benda itu. Tapi ia sekuntum gadis yang telah lama aku merasa dahaga terhadapnya. Yah … sekuntum gadis dengan lengkung alis mata bulan sabit. Ia telah menjadikan ku tawanan sejak dalam pandangan pertamanya. Ia telah memenjarakan sukma ku dimana aku tidak ingin membebaskan diri. Ia yang senatiasa basah kedua bibirnya hingga aku jatuh tergelincir namun enggan untuk bangkit. Ia membuat jiwa ku sakit dan hanya kali ini saja aku tidak ingin diobati tabib manapun.

Ia ….. ah sudahlah.  Alis mata bulan sabit !

Sembari memalingkan muka, dengan tegas aku menyahut pernyataan sekaligus pengakuan Embun , bunga-bunga higga fajar itu dengan perasaan bangga.

“Kau tahu ? andai dikata tuhan mencipta seratus keindahan maka sembian puluh sembilan ialah miliknya. Milik kepunyaan gadis dengan alis mata bulan sabit itu. Sedang satu diantaranya di perebutkan seluruh mahluk di alam semesta. Entah itu engkau bungga-bunga, bulu ekor burung merak, bebiruan laut, ketinggian gunung hingga panorama pesisir pantai. Darinya aku belajar bahwa bunga sekalipun tak berhak menyatkan indah dihadapannya”.  Bunga-bunga itupun kemudian berbalik memunggungi ku sembari menyembunyikan roman mekarnya yang masam. Ia tahu, gadis dengan alis mata bulan sabit itu bukan lagi padanannya untuk di perbandingkan.

Denga lantang pernyataan itu ku katakan. Sementara fajar memohon undur diri. Lantaran enggan dimaki sebagaimana karibnya. Demikian pula bulir-bulir embun itu, seketika mereka berhamburan pergi, hinggap diatas dedaunan, jatuh menetes ditelan tanah. Sedangkan aku semata-mata masih dalam genggam kehendaknya.

Penulis : Zaed Sambas
Editor : M. Rizal Firdaus

Komentar

Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama