Pentingkah Organisasi Mahasiswa ?





Kampus adalah lembaga tertinggi dalam hierarki materialistik pendidikan yang ada di Indonesia sebagai penyelenggara. Sedang Pengertian Mahasiswa Menurut  KBBI adalah sebutan bagi orang yang sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi di sebuah lembaga perguruan tinggi. Namun sejatinya pengertian di KBBI teramat sangat sempit dan cenderung bersifat adiministrasi. Bahwa mahasiswa adalah manusia-manusia yang beranjak dari kesadaran akan eksistensi atau keberadaan dirinya tentang jenis mahluk apakah mahasiswa ? fungsinya ? dan untuk siapa ?. Maksudnya ialah mahasiswa menurut hemat saya ialah manusia yang sudah beranjak pada level kesadaran kritis (Paulo Freire) dan pengamalan kongkrit dari pada nilai-nilai idealisme kehidupan dan bukan hanya mewujudkan diri sebagai pegiat dunia ide beserta ilusi yang ditawarkan oleh ilmu pengetahuan yang ada.

Dunia kampus memiliki beragam unsur-unsur kemahasiswaan yang berbeda-beda dalam praktek kehidupannya. Salah satunya adalah organisasi, dimana antara mahasiswa dan organisasi adalah dua entitas yang tidak dapat di pisahkan. Mengapa ?  karena keduanya ibarat dua sisi mata uang yang saling melengkapi dan akan cenderung timpang jika bercerai berai. Dik, tentunya sebelum masuk atau masih masa adaptasi keperguruan tinggi ada banyak wejangan, pandangan, dan opini entah itu sebagian sanak family, teman bahkan dosen tentang arogansi, Anarkis, brutal, bodoh, dan justifikasi terhadap mahasiswa organisastoris. Biasanya menodong dengan kebiadaban organisastoris yang tidak bermoral dan bodoh tidak mau belajar yang suka demostrasi. Gerakan pembusukan organisasi ini menjadi hal biasa yang terjadi di awal-awal kuliah dan dipastikan mahasiswa baru akan bertemu dengan jenis mahluk astral seperti ini.

Hemat saya, vonis diatas terlalu subjektif karena jika kita tidak berorganisasi dan hanya ngampus dalam rangka untuk mencari ilmu pengetahuan melalui kelas-kelas maka kita sejatinya dibodohi. Alasannya sederhana Pertama Wrong Number Sistem (Sistem Salah Sambung) bahwa sebenarnya kita di belenggu oleh sistem pendidikan kampus. Mari kita lihat sekalian menjelajah fakta dunia pendidikan kita dengan melalui perhitungan matematis.  jika setiap semesternya perseorangan mahasiswa akan dibebani 10 mata kuliah dengan bobot 20 SKS (Sistem Kredit Semester) yang di tempuh dengan 14 kali pertemuan dengan durasi pertemuan 90 menit atau 1 setengah jam menit setiap mata kuliah. Logika sederhananya adalah :

1 Mata Kuliah  x 90 menit durasi pertemuan  x 14 jumlah Pertemuan : 60 menit = 21 Jam.

Maka kita akan menemukan bahwa hanya 21 jam kita belajar dikelas untuk satu mata kuliah kurun waktu satu semester atau 6 bulan. Persoalannya adalah setiap mahasiswa di bebani 10 disiplin ilmu pengetahuan yang berbeda satu sama lain untuk dikuasai secara bersamaan. Katakanlah displin ilmu bahasa inggris, bahasa arab, ilmu kalam, Anti korupsi dsb dipaksakan faham hanya dengan 21 jam setiap mata kuliah, This is Imposible. Hal ini sama saja kita diperpelonco Karena kapasitas otak kita tidak aka mampu mencerna data secara bersamaan dengan jumlah yang sedemikian banyak melainkan harus bertahap. Lalu pertanyaann nya siapa yang membodohkan ?

Kedua Misinterpretasi  (Kesalahan penafsiran). Mayoritas mahasiswa memaknai belajar berbatas hanya pada  kepada kelas, ruang, dosen dan makalah (Ngampus). Pada dasarnya, kuliah adalah proses belajar yang tidak berbatas pada wilayah fisik kampus dan bisa dilakukan diluar dari pada kelas itu sendiri. Artinya  memahami bahwa ilmu pengetahuan tidak bertempat pada ruang dan klaim formal perseorangan melainkan ia bebas dan tidak berbatas serta ada di setiap lingkuan kehidupan kita termasuk organisasi. Hemat saya perpeloncoan yang dilakukan institusi kampus memasung kecerdasan kita untuk mengekspresikan diri dan ekspektasi sebagaimana kaum intelektual.

Maka agar mahasiswa baru tidak terjebak pada kekosongan nilai A, B, C yang cenderung simbolik dan terkadang tidak mewakili kualitas pribadi. Disinilah Relasi organisasi dan mahasiswa menjadi sangat penting karena organisasi sebagai ruang berekpresi dan ruang belajar di luar kampus yang dirasa tepat. Organisasi dengan beragam praktek kehidupannya menyuguhkan beragam menu diatas meja makanan dan mempersilahkan setiap pribadi untuk menyantapnya sesuai dengan nafsu makannya masing-masing. Diskursus ilmu pengetahuan, melakukan gerakan, memperluas jaringan, dan memperluas cakrawala pandangan kita adlaah hal-hal primer yang dilakukan seorang organisatori dan masih banyak suguhan lainnya yang harus di konsumsi oleh mahasiswa baru di organisasi dimana itu tidak pernah diajarkan di kampus.  

Disisi lain Mahasiswa organisatoris adalah bagian dari pada jenis mahluk yang sangat menjunjung tinggi dengan apa yang kita sebut ”Trilogi Mahasiswa” Sebagai agent of Change, Analisis, Sosial Control yang di buktikan keistiqomahan melakukan beragam varian gerakan terhadap segala jenis kebijakan kampus maupun pemerintah yang dzalim. Dan diakui atau tidak bahwa yang mengamalkan “Tri Dharma Perguruan Tinggi” sebagai tugas suci dunia akademisi adalah elemen mahasiswa organisatoris.  Maka sejatinya sebagai seorang mahaisswa dan orang yang sadar akan dirinya beserta lingkunagan nya dan pejuang nilai-nilai idealisme Mahasiswa dan organisasi menjadi salah satu syarat untuk menjadi pribadi Indonesia yang bertaqwa kepada Allah Stw, berbudi luhur, berilmu, cakap dan bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmunya serta komitment memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia. 

2 Komentar

Komentar

Posting Komentar
Lebih baru Lebih lama