
Indonesia adalah negara plural yang memiliki beragam suku bangsa, ras, agama dan budaya. Beberapa catatan, Didapati kurang lebih 1300-an suku bangsa dari sabang hingga merauke, dimana satu diantaranya ialah suku Madura. Ya Siapa kiranya yang tak kenal suku madura ? suku yang orang-orang menjuluki “China-nya orang Indonesia” lantaran orang madura tersebar dan banyak bertempat tinggal di segala penjuru Nusantara.
Selain suku yang satu ini tersebar dimana-mana. Madura dikenal dunia sebab memiliki ciri-ciri yang cukup khas lagi unik yang menjadikannya mudah dikenal oleh suku bangsa lainnya. Misal dari logat bahasanya yang khas terpental-pental atau pekerjaannya yang identik dengan besi tua, budaya kerapan sapi, dan tindak tanduk prilaku yang polos lagi lucu.
Hanyalah orang madura yang berani bersaing menjual bensin eceran di depan POM bensin dan hanya orang madura yang berani menjual emas di depan toko emas China. Bagaimana ? Tentu sarjana ekonomi tidak pernah memikirkan teknik marketing ini. Cukuplah kita menggelengkan kepala secara berjamaah.
Konon ada orang madura yang bertanya pada seorang profesor ahli astronomi tentang pergi kematahari. Tegas profesor tersebut menjawab tidak bisa, dengan segala macam argumentasi ilmu sains yang ia pelajari. Tapi orang Madura itu berkelakar, ia bersikeras bahwa manusia bisa bepergian kematahari. Bisa gak ya ? Iya bisa ! kita berangkat selepas maghrib. Ujarnya. Haha
Namun taukah kita ? bahwa dari sekian kedeggilan, keluguan, dan kepolosan orang madura. Banyak hal yang tentu saja akan kita temui dari salah satu suku bangsa Indonesia ini. Salah satunya ialah pada nilai-nilai kebijaksanaan, keberanian, kehormatan dan keteguhan prinsip orang madura dalam menjalani kehidupannya sehari-hari. Nilai, karakter dan prinsip inilah yang menjadi pegangan orang madura dalam situasi dan kondisi apapun.
Prinsip ini menjadi watak atau karakter orang madura, yang diabadikan dalam bentuk kalimat-kalimat slogan atau “pepatah petitih” yang menjadi filosofi hidup orang madura.
Namun sayang publik Terkadang "salah kaprah” (salah yang terlanjur kaprah) menilai prilaku orang madura dengan beberapa filosofi hidupnya yang masyhur. Berikut beberapa 3 pepatah petitih madura yang penulis kutip dari orang madura langsung beserta filosofinya di dalamnya.
Pertama “Ango’ Poteah Tolang Etembheng Poteah Matah” Artinya lebih baik putih tulang tinimbang putih mata. Artinya lebih baik mati ketimbang menanggung malu. Biasanya slogan dipakai ini lagi terpatri pada soal-soal sengketa tanah atau skandal perselingkuhan seorang istri, yang kadangkala berujung pada dilakukannya ritual “Carok” sebagai jalan terakhir setelah jalan “Pharembhekan” (Musyawarah) tidak menemukan kesepakatan.
Hal ini mengajarkan tentang pentingnya menjaga kehormatan diri dan keluarga yang harganya melebihi dari nyawa sekalipun. Mungkin spirit diatas terdapat relasi dengan ayat “Quu Anfusakum Wa Ahliikum Naara” pada konteks spirit menjaga kehormatan. Maka jangan sesekali mengganggu hal yang dianggap sebuah kehormatan oleh orang madura jika tidak ingin bertemu celurit khasnya. Tokoh yang biasa dijadikan ikon pada konteks ini ialah pak Sakera.Namun dengan seiring perkembangan zaman, orang madura telah 'melek' hukum. dalam banyak kasus setelah 'remphek' tidak menemukan sepakat. maka jalur hukum pasti akan ditempuh.
Kedua “Rampak Naong Bringin Korong” Artinya menjadi orang besar (sukses) itu harus menaungi. Konstruksi ini, menjadi ciri dari watak orang madura tentang kemanfaatan yang dapat dilakukan pada orang lain, Seperti pohon beringin nan rimbun (Rampak) yang memberi manfaat keteduhan (Naong) bagi orang lain. Menjadi ‘orang besar’ diatas tidak hanya berkonotasi pada penjabat, kyai dan orang kaya saja. Tapi berlaku bagi setiap orang madura pada level apapun sesuai kadar kemampuannya memberikan manfaat kepada orang lain. Ini selaras dengan tipe manusia ideal menurut nabi Muhammad Saw. Beliau bersabda “Khair An-Nass Anfa’uhum Lin-nas” yang berarti sebaik-baiknya manusia ialah orang yang memiliki manfaat kepada manusia lainnya. Maka tak heran jika anda bertamu kepada orang madura dipastikan mereka akan menyuguhkan seluruh makanan terbaiknya atau jika ada tetangga “Matoron Rhoma” (membongkar rumah) orang madura akan merasa malu jika tidak sekedar membantu dan itu dilakukan tanpa upah.
Ketiga “Lokanah dheging bedeh obedhdeh, lokanah ateh dhere tambenah”. Artinya Lukanya badan ada obatnya, lukanya hati darah lah penawarnya. Ini tidak jauh dari pepatah petitih pertama yakni tentang kehormatan, hanya saja lebih spesifik mencerminkan watak orang madura. Mereka sangat sensitif dengan hal yang menurut dirinya menyakitkan hati yang menurunkan harkat dan martabatnya. Maka orang madura tidak akan pernah segan-segan apa bila seseorang menyakiti hatinya dengan cara menantang Carok. Sebagaimana Slogan diatas yakni luka nya hati hanya darah lah obatnya.
Demikianlah sebagian kecil cerminan dari orang madura yang kadang berbanding terbalik dengan kebiasaanya yang terbilang lucu dan polos sekaligus misterius itu. Apapun yang kemudian menurut mereka benar maka hal itu layak dipertahankan bahkan dengan nyawa sekali pun.
Maka jangan pernah takut bergaul dengan orang madura, apa lagi phobia terhadap tradisi carok-nya. Sebab, sejatinya itu adalah bentuk sikap pada level akhir tentang pentingnya menjaga kehormatan bagi orang madura. Masih banyak lagi filosofi hidup orang madura yang bermuara pada penghormatan kepada orang lain, kerukunan dsb.
Sayangnya, Streotipe buruk terhadap orang madura masih saja menjadi barometer utama dalam menilai prilakunya dan lebih buruk lagi mengeneralisir seluruh orang madura. Sebab streotipe ini berlanjut menjadi phobia yang mungkin saja seperti Anti-Semit atau islam Phobia.
Akronim Madura sebagai 'madu dan darah' adalah satu dari sekian streotipe yang tidak berdasar sama sekali. stereotipe ini semangkin menjadi paten ketika ada oknum-oknum madura yang tidak bertanggung jawab melakukan tindak kriminal. hal itu sama sekali tidak mewakili tata cara berkeadaban orang madura yang luhur.
So, Enjoi saja apa bila anda berteman, bertetangga, bahkan menjadi rekan kerja dengan orang madura. Sebab jika kita telah dan sudah dianggap "tretan" (saudara), maka sebatang rokok pun untuk dibagi dinikmati bersama apalagi soal harkat dan martabat.
Penulis : Zaed Sambas
Editor : Hisyam Semandeng