Buku Putih NU-PKI & Drama Kolosal Komunisme




Sejarah memang tidak ada habisnya untuk dibedah dan ditelaah lebih mendalam. Utamanya pada peristiwa-peristiwa besar yang telah terjadi dimasa lampau. Karena yang membentuk manusia atau tatanan masyarakat adalah sejarah. Dalam hal ini, saya tertarik soal Sejarah kelam faham komunisme beserta seabrek tindak tanduk nya di Indonesia. Dimana Isu yang satu mungkin selamanya akan dipelihara institusi negara (TNI/AD) dan ormas yang tidak sefaham dengan komunisme, dan senantiasa menjadi perdebatan bahkan sampai di warung-warung kopi tentang siapa yang bersalah, tukang jagal, atheis, kontra revolusi, dalam usaha kudeta pada dekade tahun 48 dan 65. Demikianlah wacana  PKI yang kembali berani menjadi diskursus publik setelah era reformasi dimulai dengan beragam versi pihak-pihak terkait.

NU yang notabenenya adalah ormas keagamaan terbesar saat ini di indonesia dan lebih dahulu lahir dari republik ini tentunya memiliki kaitan sejarah yang erat dengan PKI. konstelasi pertarungan ideologi pada masa itu tidak habis hanya dengan debat-debat terbuka atau propaganda sahaja. Melainkan juga banyak memakan korban nyawa dari kedua belah pihak yang cukup signifikan. Bahkan seorang peneliti barat Ben Anderson mengungkap fakta jumlah korban keganasan Banser (NU) dalam pembantaian anggota dan simpatisan PKI kisaran 1 juta jiwa. Tidak jauh darinya, peneliti semisal Frayer dan Jackson, majalah The New York Times juga melansir penelitiannya yang dianggap terlalu mendramatisir jumlah korban yang ada. Sehingga keluarga korban PKI yang masih hidup hari ini menuntut rekonsiliasi politik utamanya kepada pemerintah dan  NU yang mereka sebut "Tukang Jagal". Apologi-apologi terbaru seketikan itu pula mendadak lahir  tentang tuduhan kejahatan perang dan hak asasi manusia. Bahkan tidak tanggung-tanggung pengajuan amnesti internasonal kepada mahkamah Internasional (PBB) mereka lakukan. 

Menanggapi hal tersebut Pada tahun 2013 NU mungkin sudah merasa kesal dengan tuduhan tak berdasar itu dan membantah setiap peristiwa yang di distorsi oleh kader PKI dan para peneliti baratserta koran Tempo di tahun 2012 yang menjadi kaki tangan barat. Dengan peneliti utama agus sunyoto, klaim yang biasa menggiring opini publik untuk mendiskreditkan NU atau rasa nyinyir mendapat klarifikasi dari edaran buku tersebut. Dikatakan situasi menjelang dan sesudah "Madiun affair" memang mendesak dan menuntut NU sebagai ormas keagamaan sekaligus partai ini (sebelum kembali pada khittah) agar berbuat sesuatu dalam menghadapi teror, propaganda, pembunuhan, penculikan para kyai dan pengerasakan tempat-tempat ibadah yang dilakukan oleh kader PKI. Pada situasi ini pilihannya hanya dua kata "dibunuh atau membunuh". Maka bagi saya sangatlah wajar mempertahankan diri dan menjaga keutuhan bangsa indonesia NU bergerak memberantas setiap pemberontakan yang dilakukan PKI. Lebih-lebih pada masa yang sama bangsa indonesia mendapat tantangan atas agresi militer ke-2 belanda 1949 di Jogjakarta. Setidak nya ada dua musuh pada waktu itu yang mencoba merongrong keutuhan NKRI yakni PKI dari dalam dan belanda dari luar. 

Adapun tuduhan bahwa NU adalah kaki tangan TNI menjadi tidak masuk akal dengan  fakta yang ada. Jumlah PKI pada masa Madiun affair beserta underbrow nya mencapai kisaran 20 juta jiwa. Sedangkan TNI/AD di jawa timur saja hanya terdapat 4 batalion yang beranggotakan kisaran 100 ribuan lebih. Itu pun kemudian banyak dari anggota TNI yang sudah mendukung gerakan PKI,  Sedangkan NU beranggotakan 8 juta jiwa. Maka sebenarnya NU lah yang memprakarsai atau setidaknya menjadi garda terdepan dalam melakukan perlawanan terhadap pemberontakan PKI yangvdi dalangi Muso, Alimin dkk.bagi saya untuk kedua kalinya setelah resolusi jihad KH. hasyim asy'ari, menyelamatkan bangsa ini yang pada masa itu sedang diambang kehancuran.

Mungkin sebagian orang memandang bentrok yang terjadi antara NU dan PKI dimasa awal kemerdekaan ini sekedar percaturan politik dan perebutan pengaruh serta ruang-ruang kebijakan publik, Nyatanya tidak sesederhana itu. Di bubarkannya partai masyumi dan lemahnya PNI menjadikan NU sebagai musuh tunggal PKI. Ada perbedaan mendasar yang tidak dapat di tolerir bahkan di jembatani keduanya. Secara Epistimologis, NU memandang komunisme bukan hanya sebuah faham materialis-sosialis pada konteks Ekopol. Tapi juga memandang komunisme sebagai faham atheis yang tidak mengakui tuhan. Ini sangat berbenturan dengan doktrin teologi NU yang mengakui keberadaan tuhan. Mereka memandang yang ada (being) hanyalah benda sedangkan NU tidaklah demikian. Bahkan jauh sebelum itu, Hadratu syaikh K.H Hasyim Asy'ari mewanti-wanti tentang ajaran materialisme historis karl mark yang atheis itu. 

Selanjutnya Baik kapitalisme dan komunisme, NU mengartikan adalah dua saudara kembar yang ujung-ujungnya akan berselingkuh dalam melakukan sekulerisasi, individualistik, liberalisaasi dan westernisas dan ujungnya kolonialisasi. Penyergapan kantor-kantor PKI yang dilakukan TNI dan Banser banyak menemukan bukti fisik bantuan berupa alutsista militer yang dikirim oleh belanda kepada kader PKI pada waktu pemberontakan di madiun. Hal ini memunculkan dugaan bahwa sejatinya PKI memang diciptakan sebagai bidak  untuk membuat kerusuhan dan akan ditutup dengan kolonialisasi belanda kembali di Indonesia. Toh, jika dirunut karl mark sebagai dedengkot Komunisme adalah orang yahudi  yang di bantu frederic Engel seorang filsof sekaligus milyader inggris yang juga orang yahudi. Artinya boleh lah saya curiga, konspirasi tingkat tinggi ini memang sudah di skenariokan oleh orang-orang zionis dan yang terjadi di indonesia adalah bagian terkecilnya. 

Nah, seperti yang saya katakan diatas bahwa sejarah penuh dengan versi yang  biasa goreng-goreng semaunya oleh pihak tertentu yang berkepentingan. Namun secara psikologis, wajar saja jika orang komunis hendak memformalisasikan ajaran-ajarannya dengan negara komunisnya demikian pun sebaliknya yakni NU berkehendak pada bagaimana ajaran islam Ahlu sunnah wal Jamaah dapat menjadi sumber moral dan kebaikan di negara ini. Tapi sebagai negara dengan penganut islam terbanyak anda pilih mana ?.

Apabila NU menyatakan permintaan maaf atas tuntutan keluarga PKI hari ini,  secara tidak langsung bagi saya NU mendakwa dirinya sebagai tersangka dan ini sangat sensitif bagi keberlangsungan ormas. Klaim radikal, kontra NKRI justru akan di tujukan kepada NU yang notbenenya sudah tidak diragukan kembali sikap Nasionalisme-patriotisme terhadap negara. Saya semangkin bingung desakan komnas HAM (Hak Asasi Monyet) juga cenderung mendukung proses rekonsiliasi politik ini dengan mendesak pemerintah. Kepana tidak pernah juga diteliti berapa jumlah korban dari kalangan nahdliyyin baik para kyai, ulama, tokoh masyarakat dan masyarakat secara umum yang menjadi objek pembantaian orang PKI. Maka sejarah adalah sejarah dan tidak lah perlu kemudian membangkitkan isu ini kembali dan menuntut rekonsiliasi  politik karena rekonsiliasi alami di tataran sosial masyarakat jauh sebelumnya sudah terjadi. Demikian pun hak politik dan hak sosialnya sudah dikembalikan oleh presiden Gusdur (ketua PBNU). Agar tidak bangkitnya dendam yang berujung pada perang saudara kembali. Pertanyaan mendasar nya,  Jika indonesia gaduh dan saling bertikai satu sama lain ? Devide et empire atau politik pecah belah ini akan kembali terulang di masa indonesia modern. Lalu  Siapa yang akan di untungkan ? Barat kan ? 

Penulis : Zaed Sambas
Editor : Hisyam Semandeng

Komentar

Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama