Dalam
sejarah kehidupan manusia, banyaklah kita temui problema yang syarat dengan
kontradiksi yakni perbedaan yang mencolok antar satu sama lain. Setitng penciptaan mahluk oleh tuhan
dalam perbedaannya cukup beragam, mulai ras, suku, bangsa dsb. Mungkin pada
satu sisi sebagaimana Al-Quran menyatakan perbedaan yang ada adalah bentuk dari
pada rahmat untuk saling mengenal dan menjalin tali silaturahim.
Namun sisi
lain nya, perbedaan tidak senantiasa melahirkan rahmat tapi juga dapat
melahirkan laknat. Kita mengerti sejak zaman dimasa manusia untuk pertama
kalinya berada di bumi dengan Qabil membunuh Habil yang tak lain adalah
saudaranya sendiri akibat perbedaan yang berujung pada pertentangan dan usaha
penghancuran lainnya. Demikian juga adanya Fir”un dan Nabi Musa As, Nabi
Ibrahim dan Namrud yang dalam hal ini menunjukan bahwa ikhtilaf dan iftiraq
memiliki implikasi yang saling berbanding terbalik.
Haq
dan bhatil akan tetap subur senyampang manusia masih bertengger diatas dunia.
Nah, kaitannya dengan Islam ialah adanya tantangan mempertahankan kebenaran
ajaran Islam dari kebhatilan yang memiliki corak beragam. Mungkin pertentangan
antara haq dan bhatil semisal diatas mudah kita deteksi karena begitu jelas perbedaannya.
Namun, bagi saya yang paling sulit ialah ketika menghadapi kaum hipokrit atau
munafik. Dimana mereka seolah-olah menampakan diri sebagai seorang muslim namun
sejatinya tidaklah demikian. Semisal, Musa Samiri sudah sangat jelas melihat
keutamaan dan keagungan ajaran Nabi Musa sebagai suatu kebenaran ilahi.
Tapi ia
kemudian menghianati dakwah Nabi Musa dengan membuat patung dari emas untuk
disembah oleh kaum Yahudi. Watak
hipokrit atau munafik Musa Samiri secara tidak langsung membibit kepada lintas
generasi yang berujung pada pengerusakan dan penghianatan konvensi sebuah
komunitas. Watak ini tercermin terhadap kelompok syi’ah yang mengharuskan
penganutnya untuk bertaqiyyah atau
berpura-pura dikhalayak yang berbeda dengan dirinya. hal ini sangat mengerikan
dampaknya lebih-lebih bagi terhadap perkembangan dakwah islamiah.
Prediksi
Nabi Muhammad tentang terpecahnya umat Islam menjadi 73 golongan terbukti
ketikat Abdullah Ibn Saba’ seorang Yahudi masuk Islam. Umat Isalm tertipu oleh
propaganda yang dia lakukan melaui media pengkultusan Sahabat Ali bin Abi
thalib. Abdullah bin Saba’ memprovokasi sebagian sahabat dan menciptakan
paham-paham baru yang bertolak belakang ajaran Islam. Meskipun pada akhirnya ia
dihukum mati, Embrio ini menemukan momen yang tepat ketika peristiwa perang Siffin terjadi antara Ali bin Abi Thalib
dan Mu’awiyah bin Abi Sofyan. Sehingga umat islam terkotak-kotak dalam sebuah firqah yang tidak sedikit melenceng
ajarannya dari Islam yang murni dan terkadang menghalalkan kelompok diluar
dirinya.
Watak
Musa Samiri telah menghancurkan Islam yang entah dibentuk oleh lingkungannya
atau memang bawaan dari semenjak lahir. Watak menjadi penentu kemana seseorang
akan membawa dirinya pada pilihan-pilihan kehidupan dengan konsekuensi nya
masing-masing yang terkadang tanpa pertimbangan logis, etis atau empiris. Bagi saya mereka adalah orang yang telah
tertutup mata batinnya untuk melihat kebenaran yang sudah tampak jelas. Kebiasaan mereka adalah merusak sesuatu yang
paten dan telah disepakati oleh mayoritas. Islam sebagai agama yang haq mereka
rusak dengan menyusup dan mengaku menjadi bagian dari padanya dan akhirnya
dirong-rong dari dalam. Sebagaimana pepatah mengatakkan kaum Hipokrit adalah
musuh dalam selimut yang biasa menggunting di dalam lipatan.
Era
kini, kaum hipokrit bagi saya sudah bermetamorfosis dan menjelma institusi yang
teramat sangat terorganisir berskala internasional. Sejak masa kemunduran Islam
setelah runtuhnya ke-Khilafahan di turki tahun 1924, semangkin leluasa bagi
kaum ini untuk memporak porandakan umat Islam. Parahnya adalah sebagian umat
Islam itu sendiri yang secara sadar maupun tidak menjadi agen dari pada
pelaksanaan program-program kaum hipokrit.
Keseksian wacana yang dilempar JIL (jaringan Islam Liberal) dan kepiawaian
mereka dalam mengkemasi persepsi buruknya dengan Islam jelas-jelas adalah
indikasi kaum hipokrit milenium. Watak Abdullah bin Saba’ sudah sangat jelas
pula tercermin kepada Snouk Hurgronje yang menyamar menjadi ulama di aceh dan
mengadu domba umat. Sehingga kerajaan di aceh yang terkenal kuat akhirnya harus
mengakui kekalahannya sesaat di gempur oleh Belanda. Ini berkat kepiawaian kaum
Hipokrit yang menyudahi solidaritas umat Islam di aceh pada masa itu.
Akhirnya,
sekedar mewanti-wanti sahaja bahwa kaum hipokrit berada disekitar kita dalam
beragam rupanya. Bisa jadi mereka adalah orang yang mengaku penganut paham
pluralisme yang kebablasan, kebebasan (Freedom), developmentalisme
(pembangunan), HAM, Gender, toleransi, yang senntiasa mereproduksi wacana
intelektual barat dimana banyak diantaranya bertentangan dengan ajaran Islam
itu sendiri. Seolah kemudian memanusiakan tapi kemudian akan membinatangkan
siapa saja yang menganutnya, demikian juga impor kebudayaan yang biasa di
gencarkan dan ditopang oleh kemajuan teknologi di era globalisasi ini.
Perwujudan kaum hipokrit juga lebih terorganisisr dengan adanya
institusi-institusi dalam cakupan wilayah bahkan internasional. Untuk
mendiagnosis kelompok hipokrit ini Rasulullah Saw telah mengajarkan tentang tiga
macam tanda yang mungkin dapat kita jadikan alat mengetahui hipokritas seseorang
atau kelompok :
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم – قَالَ
آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ ،
وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ
Dari Abu Hurairah, bahwa Nabi SAW
bersabda, Tanda-tanda orang munafik ada tiga: jika berbicara dia berdusta, jika
berjanji dia mengingkari, dan jika diberi amanah dia berkhianat
(HR. Al-
Bukhari)
Editor : Hisyam Semandeng
