Menangislah Sebelum Dilarang



https://dekrit45.blogspot.com/2020/07/poten-sial.html?m=1



Tempo hari ada tetangga kontrakan tempat saya tinggal dinyatakan telah meninggal dunia. Dan sebagaimana lazimnya, pecah tangis sanak saudara sudah barang tentu tak terelakan. Air mata berguguran, jatuh satu sama lain. Ada yang merasa kehilangan kawan main catur di pos kamling, ada yg merasa kehilangan kawan cangkruk dipos kamlinh, dan tidak ada yang sama sekali merasa ditinggal selingkuhan. Terlebih, ia adalah ayah dari tiga anak dan satu-satunya suami bininya, sumpah tidak ada yang lain. 

Pokoknya sedu sedan luka dan duka bercampur aduk di kediaman itu. Istrinya jatuh pingsan tak karuan, sedang anak-anak tak henti-hentinya mengelap dua bilah pasang mata yang seperti pancoran dimusim penghujan itu.

konon, meninggalnya seorang tulang punggung keluarga ialah pukulan berat. Seberat bobot tinju Manny Pacquiao asal Filipina itu. Sebab namanya saja tulang punggung, kalau ia patah ambruk sudah seisi badan. Tidak ada lagi tempat menyambung nafas yg tersengal-sengal itu.

Jika anda masih tidak percaya, coba saja tanya ke janda tua di kampung-kampung. Mesti, soal utama yang di hadapi pasca sepeninggal suaminya ialah ambruknya ekonomi keluarga, selain tidak bisa cari pengganti ya. Lantaran susahnya mencari pekerjaan dengan penghasilan yang layak. kadang dapat pekerjaan, sialnya tidak di bayar majikan. 

Lalu bagaimana ihwal harta warisan ? Tidak ada yg bertikai soal itu. Pasalnya masing-masing anak telah menerima harta warisan berupa sabar, ikhlas dan pasrah. Dibagi serata-ratanya. Sulung mewarisi pasrah, sebab ia akan menggantikan ayah sebagai titik tumpu keluarga. Adapun cita dan cintanya ? Surut seketika. Sedang anak kedua dan terakhir si bungsu, cukup ikhlas dan sabar, paling tidak mereka hanya kehilangan jatah di belai rambutnya oleh ayah yang telapak tangannnya kasar bukan main itu. Atau sudah tidak ada lagi yang mengecup kening mereka sebelum tidur dimalam hari.

Tapi meskipun untung tak dapat diraih, malang pun tak dapat ditolak. dibalik musibah selalu saja ada anugrah. Dalam tradisi di kampung-kampung, peristiwa kematian adalah musibah dan melayat adalah satu dari sekian cara menenangkan itu. Biasanya para pelayat akan berdatangan tanpa perlu ada undangan, cukup melalui siaran corong masjid terdekat. Spontan mereka berkerumun di kediaman keluarga duka. Ada yang datang untuk mempersiapkan proses pemakaman sebagaimana lazimnya, sedang yang lainnya datang membawa sejumlah sembako, berupa gula, beras, minyak dsb untuk persiapan tahlil tujuh hari mendatang. Ini anugerahnya.  Entah ini bid'ah apa tidak, Bagi saya setidaknya ini simbol solidaritas sosial dalam upaya meringankan beban keluarga duka. Toh ! Tak ada hubungan sama sekali antara beras bulog dan syirik.

Sedih ? Ya bukan main. Peristiwa yang dialami keluarga tidak bisa digantikan beberapa kilo gula maupun beras. Namanya saja, rumah duka, tentu tidak ada yang tertawa terbahak-bahak. Tak terkecuali orang yang mengidap mental psikopat seperti adegan film si Joker yang sempat viral tahun kemarin.

Berbicara ihwal kematian, Beda halnya dengan Ghana, negeri di benua Afrika barat sana. Kematian seseorang justru menjadi sumber mata pencaharian yang cukup menggiurkan. Pelayat di indonesia biasanya membawa sejumlah uang atau bahan makanan, tapi di Ghana ini sebaliknya. Pasalnya, Ghana  memiliki tradisi unik yakni adanya kelompok pelayat bayaran yang justru dibayar mahal untuk kategori pelayat profesional. 

Salah satu nya kelompok yang di pimpin oleh Ami Dokli. Tak tanggung-tanggung, Ami Dokli dan kelompoknya berani mematok harga $150-$200 untuk satu pelayat profesional. Tugasnya sederhana, cukup menangis boleh meraung-raung sejadi-jadinya di sisi mayat, sampai batas waktu yang telah di sepakati. Menurut kepercayaan nenek moyangnya, bagi orang Afrika, jika tidak ada air mata dipemakaman, tandanya tidak ada kepedulian terhadap jenazah. Terlebih jika tidak pecah tangisan, para leluhur akan mengganggu seumur hidup mu. Ami Dokli juga bilang "Orang-orang sering kesulitan atau bahkan tidak bisa menangis". Maka tentu saja ia menawarkan jasa itu, berhubung manusia di era ini sulit untuk menangisi kematian seseorang. 

Tidak hanya Ghana, Taiwan juga punya tradisi ini. Dan yang paling terkenal ialah Liu Chun-Lin dengan tarif hingga $600.  Bahkan di Inggris pernah ada perusahaan jasa pelayat prosional. Kerjaaannya ya begitu saja. Menangis dan meraung se kelar-kelarnya sampai urat leher menyembul-nyembul.

Di indonesia barang kali tidak ada tradisi pelayat profesional semacam itu. Bangsa ini tidak cengeng. Pokoknya Sehat kuat dan tahan lama. Tidak minta bayaran hanya karena menangis dan meratap. Sebab jika di Ghana maupun Taiwan menangis menjadi pekerjaan, justru di Indonesia itu sudah menjadi kebiasaan keseharian. Dan itu gratis tanpa pungutan biaya. Bukan hanya janda tua tiga  anak diatas, bahkan hampir merata di segala segmen kehidupan akar rumput.

Misal, penggusuran di bekasi tahun lalu. Atas nama penertiban bangunan, wali kota menghancurkan puluhan bangunan yang terdiri rumah-rumah warga. Atau penggusuran rumah deret tanamsari, Bandung. "Teriakan demi teriakan di iringi isak tangis pun terdengar jelas". Begitu media menulisnya besar-besar pakai huruf kapital terpampang jelas di headline. Dan tidak hanya itu, masih banyak lagi tragedi di negeri kita yang tidak hanya memeras keringat tapi juga air mata. Kelakuan hukum yang buntung, Kriminalisasi terhadap aktivis, petani yang di jarah lahannya, serta pertambangan yang tanpa pertimbangan acap kali terjadi di seluruh tumpah darah bumi pertiwi.

Jika Ami Dokli dan Liu Chun-Lin Hidup di negeri ini. Niscaya mereka akan menganggur seumur hidup. Saya berani menjamin itu. Sehingga perlu kiranya pemerintah mengembangkan secara bijaksana Ponten-Sial penduduknya ini. Karna menangis adalah satu-satunya ekspresi yang tidak di larang pemerintah setelah manut. Kritik adalah penghinaan, komunis, teroris, radikal, intoleran, yang berakhir di bui polsek setempat.

"Bagaimana jika kartu pra kerja juga mengadakan training mengais sambil memaki-maki". Ujar saya.

"Aih .. Tumben kamu mikir, ayo segera usulkan ke pemerintah ". kata teman saya


Penulis : Zaed Sambas
Editor : Hisyam Semandeng

1 Komentar

Komentar

Posting Komentar
Lebih baru Lebih lama