Beberapa tempo yang
telah lalu, saya bermain dibelakang rumah sekedar melihat kondisi hewan
peliharaan, yaitu ayam, apakah mereka masih dalam keadaan baik-baik saja atau
entah bagaimana. Soalnya apabila ditinjau dari segi bisnis, beternak dengan memelihara
hewan, dengan apapun jenis nya adalah hal yang rumit dan tidak mendapat
kepastian apa pun tentang nasib nya di masa yang akan datang. Dikarenakan hanya
satu alasan ialah masalah nyawa. Sehingga beternak artinya mengupayakan agar
nyawa-nyawa dari hewan tersebut tetap berada dalam tubuh biologis nya sampai
dewasa dapat dipanen. Masalah nya saya sendiri sebagai manusia, dan selain saya
sebagai manusia, juga mempunyai kesamaan dengan hewan yang terletak pada genus
nya selanjut nya yang menjadikan berbeda, semisal perbedaan saya dengan sapi,
kambing, serigala, ikan dan sebagainya adalah terletak pada anugrah yang
diberikan Tuhan yaitu akal yang digunakan untuk berpikir. Semakin menggunakan
pikiran secara maksimal itu berarti semakin menjauhi titik kesamaan dari hewan
dan menuju kepada arah manusia. Oleh karena itu manusia didefinisikan sebagai
hewan yang berfikir.
Sebenarnya bukan perbedaan ini yang
hendak dikemukakan, toh persoalan semacam ini sudah teramat klise sebagai
pengetahuan tentang perbedaan antara manusia dan hewan. Sekalipun aktualisasi
nya terkadang mengalami pasang surut atau bahkan mengalami degradasi, jadi
secara esensi manusia terlihat berbeda dengan hewan tetapi juga terkadang
menampilkan kesamaan. Melainkan rasa syukur karena saya tidak diciptakan oleh
Tuhan sebagai ayam atau kadal, biawak dan hewan-hewan lain. Seandainya Tuhan
menghendaki saya dulu sebagai hewan, maka apalah daya untuk menolak dan
seandainya hal tersebut berlangsung maka sebagai ayam (dengan kemampuan tanpa
pikiran untuk melakukan pertimbangan), saya akan mengalami ketergantungan
setiap pagi untuk menunggu diberika pakan. Bahkan konsep “menunggu” pun hewan
tidak akan pernah faham, sehingga ia tidak akan bisa mengira kapan makanan yang
ia butuhkan akan datang dan bagaimana untuk persediaan esok hari, karena yang
dirasakan dengan menggunakan daya peka nya adalah sekedar untuk hari ini saja.
Tetapi tidak untuk manusia, ia
berfikir hari ini merencanakan dihari ini untuk jangka waktu beberapa tahun
mendatang. Bekerja hari ini untuk persediaan makanan beberapa hari lagi. Belum
tentang persoalan rumit yang lain mulai dari kedit sepedah, rumah hingga
investasi dari kekayaan nya. Sebagai makhluk yang komplek dengan dengan
kemampuan untuk memberikan pertimbangan atas segala problematika kehidupan,
menakar untung rugi dari setiap kejadian, menyimpulkan suatu solusi terbaik
atas setiap masalah. Hal ini lah yang tidak dimiliki oleh hewan. Meskipun
begitu, ternyata manusia tidak bisa mengendalikan takdir yang terjadi terhadap
dirinya. Semisal contoh, tatkala saya bersyukur karena telah menjadi manusia
daripada menjadi ayam, dengan resiko akan disembelih apabila jadi ayam.
Sebenarnya saya sendiri juga tidak bisa menolak untuk menjadi manusia atau
bahkan jadi manusia yang seperti apa. Oleh karena itu manusia sedang mengalami
keterlemparan secara berulang dan abadi dalam kehidupan di dunia ini atau dalam
eksistensinya dalam tubuh atau pun dalam jiwa.
Apabila dikaji secara mendasar,
sepertinya akan meruncing kepada masalah teologi, yaitu membawa kepada
pertanyaan apakah manusia adalah subjek bebas atau tidak dan apakah Tuhan
mengendalikan manusia layak nya boneka atau apakah manusia setelah diciptakan
dianugrahi kebebasan tanpa adanya intervensi Tuhan sebagai kosekuensi logis
dari adanya akal yang menyertainya. Mengenai permasalahan ini sudah dapat kita
ketahui dan telah tuntas perdebatan nya dalam ilmu kalam atau teologi islam.
Mulai dari sekte Jabbariyah, Qadariyah, Muktazilah dan Ahlussunnah wal Jamaah
yang tercermin dalam pikiran nya Al-Asy’ary dan Al-Maturidi. Kemudian
pikiran-pikiran tersebut tumbang satu persatu dengan sendirinya atau barangkali
apabila masih eksis tetapi dalam bentuk minor nya didalam kelompok keagamaan,
tetapi dalam benak individu sangat sulit untuk di identifikasi karena masalah
tersebut adalah sangat pribadi sebagai tingkah nya hati.
Keluar dari perdebatan dalam kajian
ilmu kalam atau teologi tentang kehendak manusia dan kehendak tuhan serta
relasi dari keduanya. Seperti yang telah disebut bahwa manusia mengalami keterlemparan
didunia ini tetapi juga manusia adalah keterbatasan dihadapan keterbatasan.
Segala perencanaan yang dilakukan oleh manusia bisa menjadi sia-sia sekalipun
sudah dalam penanganan yang matang, sehingga tidak ada sedikitpun keberpihakan
keadaan terhadap manusia itu sendiri. Juga sebaliknya, sesuatu yang tidak
direncanakan bisa jadi keadaan menunjukkan keberpikan kepada si manusia itu.
Manusia akan dan semestinya berupaya
mengutuhkan diri nya dengan sesuatu yang tidak utuh didalam dirinya. Dengan begitu
ia akan menjadi subjek yang sadar. Maksudnya begini ketika ia lahir dalam
keadaan hampa seluruh nya. Kemudian sedikit demi sedikit belajar yang berarti
meniru selanjutnya mengembangkan hasil pembelajaran nya, yaitu dari apa pun
yang diketahui selama itu. Setelah dianggap sanggup mengepak kan sayap bisa
jadi ia akan terbang menukik ke langit, tetapi bisa jadi pula ia akan
senantiasa meminta dan menerima bantuan untuk terbang padahal selama ini telah
mengikuti proses pembelajaran. Entah apa sebab yang menjadikan nya kurang yakin
dengan apa yang telah diterima, karena tidak mungkin selamanya untuk terus
membebek. Bagi yang telah mampu mengepak kan sayap ia dapat bertanya, semisal
aku ini?, aku berada di...?, aku harus....? terus dengan aktifitas mengidentifikasi
diri sampai merasa sadar dengan dirinya dan tujuan atau langkah nya harus
menuju kemana. Minimal mampu mendengarkan hati nurani, semisal saat ada PEMILU
atau pemilihan yang lain, guna nya untuk memilih mana calon yang paling
berintegirtas dengan referensi nurani tadi.
