Pilkada kali ini telah melahirkan polemik yang cukup rumit. Setidaknya saya melihat, antara ancaman covid-19 dan kepentingan politik semata. Sebelumnya, soal tumpang tindih dalil baik yang menolak dilaksanakannya pilkada maupun yang mendukung berserakan diberanda media sosial. Salah satu contoh penolakan sudah dilakukan oleh dua ormas terbesar di Indonesia yakni NU dan Muhammadiyah. Namun miris sama sekali tidak digubris.
Tapi kali ini, saya dan pembaca sudah lupa dengan hingar-bingar itu, bahkan kalau ingat paling-paling cuma untuk dikenang. Pastinya semua sudah tidak penting belaka, sebab pesta telah usai. Siapa yang menang ? pasti tim sukses ! karna tidak ada tim gagal. lalu siapa yang kalah ya lagi-lagi kita, rakyat pinggiran ini.
Stadar ganda atau sandiwara, saya tidak tahu persis. Duduk perkara penanganan virus ini tidak pernah serius selayaknya di pamflet digital atau notifikasi di layar handphone. Terlampau banyak kasus yang bisa pembaca lihat dan betapa tanggungnya pemerintah kita dalam menangani problem ini. Giliran razia dan urusan ‘denda’ saja sangarnya minta ampun, seolah penanganan covid-18 menjadi pioritas. Tapi kampanye paslon ?. Dekmikian lah ! Kita ini bangsa yang suka bercanda dan puncaknya ada pada penyelenggaraan Pilkada ini.
Kemarin di kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, ada peristiwa
seluruh warga dusun Gruguk memilih golput. Alasannya tidak sederhana, sebab
listrik tidak pernah merambah secuil pun ke perumahan warga dusun. Melihat pemberitaan
ini, saya tidak lantas menyalahkan pemerintah, sebab pemerintah memang tidak
peduli sama sekali terhadap pemenuhan kebutuhan pokok penduduk disana. Yang penting
oligarki tetap memegang tampuk kekuasaan dari anak hingga mantu bahkan
keponakannya.
Peristiwa golput warga dusun Gruguk ini, sejatinya ekspresi. Warga yang menuntut pengadaan listrik sebagai energi sekunder, dimana notabenenya memang hak mereka sebagaimana yang tercantum dalam UU No.30 tentang ketenagalistrikan. Kemudian bayangkan saja jika masyarakat sadar sepenuhnya tentang hak-hak mereka yang tidak hanya persoalan listrik belaka, akan tetapi banyak hal. Terlebih situasi tarik ulur penanganan pandemi yang tak berkesudahan ini. Mungkin pilkada serentak akan gagal total.
“Untuk apa punya pemerintah, kalau hidup terus terusan susah …”
Mungkin gubahan lagu dari Iwan Fals ini cukup mewakili perasaan kita selaku orang pinggiran. Ringkasnya pembangkangan sipil akan terus terjadi dalam skala dan konteks yang lebih besar. Jika pemerintah tanggung dalam mengurus problem covid-19. Pasalnya pemerintah telah mencederai kepercayaan publik yang sedari awal pemerintah sendiri yang menghimbau serta menetapkan aturan prokes. Krisis kepercayaan ini akan terus berlajut dan akan terus merambah dalam berbagai sektor. Sehingga 'awas' akan menjadi pilihan masyarakat untuk kebijakan-kebijakan selanjutnya.
“Setelah pilkada lalu apa ?” Tanya seorang teman saya.
“Ya sudah…! besok kita lanjut nganggur lagi” kata ku, sambil merokok
hasil serangan fajar kemarin.
Penulis : Zaed Sambas
Editor : M.Viki S.A
