Tidak sebagaimana kota-kota metropolitan,
kampung Madani masih sama persis lazimnya kampung dibelahan planet manapun. Siang
hari warganya berhamburan keladang-ladang pertanian sedang di malam hari
meringkuh nikmat dalam sunyi dan senyap. Demikian Kampung Madani yang syarat
dengan kesederhanaan dan ketenangan.
Bedanya dengan kota hanya kondisi jalan utama kampung
Madani yang masih teramat terjal itu. Iya,,itulah jalan utama dan memang
satu-satunya tiada dapat dimadu. Warga kampung yang sejak dua dasawarsa lalu
tinggal di kampung ini, sudah berulang kali mengajukan permohonan secara formal hingga bahkan memohon belas
kasih, tapi sialnya sekali pun tidak pernah di ijabahi oleh pemerintah terkait. Tapi untung
saja pemerintah orang-orangnya pandai-pandai lagi bijaksana, warga yang geram
cukuplah di iming-imingi. Pasti mereka reda sembari menaruh harap lalu pulang
kerumah-rumah dan tidur dengan mimpi bertabur bunga-bunga.
Di Ujung perbatasan kampung, Bang Bob pemilik
warung yang ringkih itu masih tetap setia melayani pelangganya. Itulah
pemuda-pemuda kampung yang senantiasa istiqamah nangkring hingga larut malam
sembari ngobrol ngalor-ngidul tentang apa saja. Dari persoalan yang paling umum
hingga yang paling rahasia. Terlebih kopi seduhan bang Bob memang paling termurah
seantariksa, tidak memaksa merogoh kocek terlalu dalam. Jika kehabisan ongkos ngopi,
tak segan pula menabung hutang di warung ini dan itu tidaklah berbunga sama
sekali.
“Alangkah naas nasib kampung kita ini, niscaya
luput dari perhatian pemerintah”. Seru Akib pada teman nongkrongnya.
“Ada apa Kib ? Kok ya tiba-tiba nyolot begitu”.
Timpal Arip salah seorang teman karibnya.
“Itulah,
Jalan kampung kita ini rusak tak karuan. sangat terjal sekali persis jalan
cinta mu dengan si pipit itu”.
“ah, apa-apaan kok nyentil kemana-mana.
Tapi ya kita harus tetap bersyukur tinimbang tidak punya jalan. Lagian sudah
berulang kali proyek pembangunan jalan di kampung kita ini di lakukan, tapi ya
tetap saja tidak tahan lama. Setahun dua tahun pasti rusak kembali ya karna
warga kampung kita enggan merawatnya”.
“Eh ndak begitu juga, lihat saja
sepanjang jalan kampung kita ini. Baik yang utama maupun di tiap-tiap gang
rumah. Curam dan gleduk-gleduk. Seolah tidak gunanya gonta ganti kepala daerah
atau siapaun yang punya kewenangan”
“Kalau menurut sampean gimana bang
Paimin?” potong Arip sembari mengajukan pertanyaan kepada Bang Paimin yang juga
salah seorang pemuda yang istiqomah nangkring di warung.
“Kalau dinegara maju, para seniman
biasanya dengan sengaja menggambar jalan dengan gaya gambar 3 dimensi. Ada yang
menggambar sungai berkelok-kelok, sumur, jurang dan hebatnya itu seperti sangat
nyata”. Sahut Paimin sekenanya.
“Lalu bang?”.
“Iya, selain gambar-gamabar itu berfungsi
menambah nilai estetis juga untuk menakut-nakuti pengendara agar mengurangi
kecepatan berkendara. Ini menunjukan saking mulusnya jalan disana bahkan bisa
lebih mulus dari betis gadis-gadis kampung kita”. Tegas Bang Paimin.
“Lalu apa yang ingin abang sampaikan
sebenarnya ?” kata Akib
“Hmm… seingat saya bahwa tidaklah dibelahan bumi mana pun pasti
Tuhan menciptakan mahluk beserta padanannya. Pria dan wanita, langit dan bumi, hitam dan
putih, baik dan buruk dan sebagainya”.
“Sedang kampung kita bernasib naas ya kan bang ! Dan dilain
pihak yang baik-baik”. Sergah Arip yang sedari tadi hanya diam menyimak. Sontak saja setongkrongan itu tertawa terbahak-behak.
Kampung Madani memang sedari dahulunya
tidak pernah selesai berurusan dengan perkara Satu ini. Tak heran hampir setiap
hari ada saja warga yang secara spontan menggubah syair setiap kali
melewatinya.
Aduhai
jalan nan terjal, borok lagi busuk …
Aku
tahu luka mu menganga…
Aku tahu bebatuan itu berdzikir dibawah
keedipan bintang gemintang …..
(Kira-Kira begitu)
Paimin yang seorang sarjana muda sekalipun sudah kehabisan akal meyiasati hiruk pikuk persoalan jalan kampungnya ini. Ketika musim panas datang, debu beterbangan tak karuan kian kesana kemari. Sedang musim penghujan, tiba-tiba saja jalan lincin lentur seperti bubur. Melihat situasi itu, sudah tak terhitung berapaka kali Paimin menuntut hingga merengek memohon pertolongan tapi bunga tak kunjung mekar juga.
Baca Artikel Terkait : Beda Kepala Beda Ongkosnya
Tidak hanya itu, hampir setiap da’i yang
masuk ke kampung ini menjadikan kondisi jalan kampung madani sebagai bahan untuk membuka topik
pembicaraan. “Saya kira Madani ini kota sebagaimana namanya. Lampu terang
benderang dimana-mana dengan gedung-gedung pencakar langit serta jalanan aspal nan mulus. Eh taunya ! Pojok
sekaligus mentok ”. ucap salah seorang Da’i. “Awalnya perut saya kenyang
tapi setelah melewati jalan kampung Madani saya jadi lapar lagi”. Timpal da’i lainnya.
Sejatinya seluruh warga Madani bersepakat
bahwa jalan kampung yang ambyar ini ialah biang dari lahirnya masalah lain. terutama
lambannya perkembangan perekonomian masyarakat sebab akses yang susah dijangkau
berikut juga ongkos jasa keluar masuk barang yang bertambah mahal. Hanya saja
warga kampung Madani masih senang silang pendapat soal akar permasalahan serta siapa yang harus dikambing hitamkan
atau sekiranya layak dijadikan pelampiasan emosinya saja.
Sebagian pihak berpendapat yang harus
disalahkan ialah kepala proyek pembangunan jalan. Lantaran kebiasaanya yang
suka menyunat anggaran proyek. Di garis yang sama ada yang beranggapan kepala
proyek terlalu banyak mencuri cuan, harusnya sewajarnya. Nah Ini golongan yang
agak toleran. Usul demi usul berakhir pada kesepakatan, jika nantinya ada proyek pembangunan jalan kembali. Maka jalan harus diberi nama kontraktor sekaligus alamat rumahnya. Biar Seluruh warga tau sesiapa saja yang mengambil cuan.
Di lain pihak, ada pendapat bahwa yang
perlu ditagih ialah pemerintah. Entah itu kepala desa, bupati, gubenur atau
sekalian pak Jokowi atau siapapun yang mau berbelas kasih. Karna kepada
merekalah masyarakat mengantungan harapan. Jika setiap batang rokok saja ada pajaknya
masak tidak ada timbal balik berupa pelayanan publik sepertihalnya jalan desa. Beberapa
diantaranya punya usul yang cukup ekstrem yakni golput berjamaah pada pesta-pesta demokrasi
mendatang, sebab tak ada beda tak ada guna punya atau tidak punya wakil rakyat.
Sedangkan selisih lainnya ada yang bilang
kurangnya solidaritas masyarakat Madani terhadap perawatan lingkungannya
sendiri. Ada juga yang sampai sesumbar bahwa masyarakat Madani tidak akan
pernah maju kalau masih menukar nasibnya dengan uang pecahan seratus ribuan ketika
digelarnya pesta demokrasi. Ada yang bilang kurang dzikir, kritis, pakem dan
lain-lain. Pokoknya sembarang !
Intinya semua sudah gerah dengan keadaan yang
kian hari membikin geram ini. Lebih-lebih Paimin dan pacarnya, gegara jalan
terjal itu, ia tidak dapat bersua di malam minggu layaknya anak-anak muda
lainnya. Sebab perjalaan dari madani ke kota pontianak sangat memakan banyak
waktu. Tidak ada alternative lain. Tak terkecuali berenang diantara rawa-rawa
sungai Kapuas. Itu pun kalau punya nyali !
“Lalu apa yang harus kita lakukan bang
Paimin ?”
“Kata orang bijak, Seni paling tinggi ialah menertawakan diri sendiri”. Tegas Paimin.
Editor : M. Rizal Firdaus
Karya tulis mu, sungguh menjadikan para pemuda terinspirasi untuk membangun desa
BalasHapusAmin ...
HapusMantab esainya, kita di bawa ke wahana roller coaster tawa dan rasa prihatin.
BalasHapusngeri ngeri sedap ini kak !
HapusAndaikan jalannya mulus, saya yakin tak akan ada artikel seperti ini. Hhhh
BalasHapusOleh karena bisanya cuma berandai-andai. Maka jalannya tetep terjal !
Hapus