Gelap sengaja memikul beban setiap benak. Dari sebahagian orang yang dipaksa meratap di terang hari lalu menangis di pekat malam. Aku terlelap, melimpahkan resah dan kekalahan ku pada desah. Dan diwaktu fajar menyemai kembali pengaharapan itu pada taman bunga mawar yang ku siram dengan peluh ku sendiri.
Tak dinyana, betapapun indah kalimat kalimat berseri buah hasil uraian kebijaksanaan. Buku-buku berderet rapi sepanjang rak dan kalimat-kalimat indah tersusun lagi meyakinkan. Ia justru menikam ku bahkan sejak dari huruf pertama yang kubaca dan ku tulis.
Ah Tuhan, mengapa sedemikian rumit situasi yang membelenggu ku, terkekang diantara pusara sandra mata rantai ketakutan dan riak-riak kecemasan. Detak berburu detik, aku terburu-buru dikejar waktu. Aku lazimnya seonggok daging diatas tungku perapian. Dipanggang diatas bara amarah dan dikunyah nasib hingga tercabik.
Hendak pecah tangis bayi dimalam hari, tetiba burung hantu menyahut dengan nadanya yang getir. Aku akan memanggil mu, "Sampaguita" bunga melati kebanggaan tanah ini. Iya, kebanggan dan hanya itu. Suatu abstraksi untuk menguraikan kata betapa.
Dan Aku lah laki-laki yang paling patut berbangga. Sebab engkau yang kusebut-sebut didalam munajat, pernah mengukir riwayat atas kisah dan kasih mu yang tak sengaja tumpah. Membasahi tenggorokan yang nyaris seperti gurun.
Ah, malam ini langit desa kita diguyur hujan yang sama. Tak deras hanya rintik. Iya benar hanya rintik saja.
Aku berjalan menuju halaman rumah, kemudian diam mematung begitu saja. berniat menikmati malam sekaligus hujan. Selanjutnya perlahan-pelan-pelan aku menengadah, seraya berbisik menirukan pujangga madura itu "Engkau memang bukan segalanya, tapi nyaris!".
Tapi malam sudah terlanjur pekat, sekalipun batin tak sempat beristirahat. kalut, Oh, tapi jangan lupa aku lelaki yang kuat. Aku masih mampu menikmati setiap kasih bercampur resah, hingga kenang dan angan-angan.
Sengaja atau terpaksa bukan hal. Aku Biarkan bulir-bulir air itu jatuh keubun-ubun ku. Membiarkannya perlahan mengalir hingga ke wajah ku.
Aku tak merasa dingin, aku juga tak mengigil. Mengapa ? Sebab hangat dari bekas peluk mu, nyaris sempurna dalam bayang-bayang ku.
Penulis : Zaed Sambas
