Menjelang Titik Minus (Part 1)


Warung ringkih itu masih tetap berdiri sekalipun terlihat gugup. Ia menantang waktu yang perlahan mengikis keteguhannya, Tapi sekalipun rapuh ia tegas menolak untuk rubuh. Warung ringkih itu adalah saksi bisu dari tiga orang lelaki yang senantiasa khusyu' menyesap sisa-sisa kafein seduhan pahit ala bang Boby, pemilik warung. 

Alif, Dion dan Bily adalah pelanggan setia yang sedari dulu menghabiskan umurnya di warung ini. Tiga orang muda yang tidak pernah rukun dalam pikiran tapi niscaya terhubung dalam ikatan persahabatan. Mereka seringkali bergumul untuk sekedar menikmati waktu luang hingga larut untuk melepas lelah dalam desah. Disela itu, tak lupa untuk berbincang dan bertengkar perihal apa saja dari yang paling sederhana sampai yang paling pelik sekalipun. 

"Bagaimana ? Sebentar lagi pemilu akan segera digelar dan warga desa kita yang majemuk ini pasti akan diaduk-aduk kembali seperti yang sudah-sudah". Ucap Boby, membuka perbincangan. 

Mendengar itu, Alif, Dion dan Bily serempak memandang ke arah bang Bob yang cengar cengir seperti biasanya. Bang bob memang cukup piawai memantik perdebatan diantara ketiganya. Sebab ia tahu persis bahwa Alif, Dion dan Bily ini tidak pernah rukun dalam memandang beragam persoalan. Entah ini sikap dari kepala batu atau bukan, tapi ketiganya selalu bersikukuh atas setiap pendapat dan keyakinannya masing-masing. 

Sambil membakar rokok, Dion yang biasa  responsif menyahut dengan nada tegesa-gesa.

"Ah, itu pasti terjadi Bob ! tidak ada yang bisa kita perbuat kecuali turut melempar bensin. Yang terbakar biarlah hangus sekalian". Tukasnya. boby hanya tersenyum sembari memicingkan matanya kepada Alif dan Bily, seolah mengisyaratkan keduanya turut ambil bagian. 

"Hmmm ..". Gumam Alif. " Ya tidak begitu caranya menyikapi persoalan. Kita yang waras ini tidak semestinya berfikir ala sumbu pendek. Minimal jika tidak mampu memberi manfaat maka jangan menimbulkan mudharat. Bukannya begitu bil ? (panggilan akrab bily)". Sergah Alif Meminta dukungan.

"Aku juga tidak mengerti maksud mu lif ? Bukan kah semua orang hampir melakukannya. Senyampang ia mendapat keuntungan yang instan. Lif, bagi saya ternyata hukum rimba itu tidak sepenuhnya berlaku di belantara, sebab seekor singa pun tidak akan tega memangsa sesamanya. Justru hukum rimba sepenuhnya di praktikan oleh sesama manusia. Bayangkan saja sekedar berbeda suku, ras atau golongan saja, manusia akan saling menumpahkan darah atau paling tidak saling merendahkan martabat satu sama lain". Sahut Diyon 

"Contohnya ?" Tanya alif

"Kanibalisme". Jawab Diyon

Sontak jawaban itu membikin Alif mengernyitkan dahinya. "Mana ada kanibalisme di zaman modern seperti ini. Ah, ngawur lhu !". Ucapnya

"Ente jangan ngada-ngada, bukannya kanibalisme itu hanya terjadi dimasa lampau ?". Sahut Bily yang sedari tadi menyimak.

Alif & Bily tampak kompak menyergah pernyataan Dion yang dianggapnya tidak masuk di akal. Barangkali ini adalah satu dari sekian pandangan Dion yang memang senantiansa di tentang oleh keduanya. Lensa matanya tidak seperti manusia pada umumnya, ketika melihat sebuah peristiwa Dion lebih memilih seperti menjadi mahluk buas yang memandang kehidupan sosial tidak lebih dari seperti belantara belaka. Status sosial, jabatan dan kehormatan adat istiadat, hukum atau apapaun itu hanya bahian lain dari cara manusia menentukan siapa berkuasa diatas struktur rantai makanan.

Boby yang berada diantara mereka menyimak dengan seksama meskipun sesekali mengernyitkan dahi atas pikiran akrobatik yang biasa Dion lempar. Seingatnya, Minggu kemarin Dion juga menyamakan peran dan fungsilelaki dan perempuan itu seperti laba-laba. Setelah musim kawin usai, laba-laba betina akan memangsa laba-laba jantan untuk memenuhi nutrisi selama masa kandungannya. Dan ketika lahir, laba-laba betina juga akan dimangsa oleh anak-anaknya sendiri untuk melanjutkan ekosistem. 

Demikian pula kehidupan manusia, lelaki dan perempuan hidup hanya untuk mengambil manfaat antara satu sama lain. Pada dasarnya perempuan hanya dipandang sebagai benda penyalur hasrat seksual, tidak lebih daripada itu. Sedang lelaki tidak lebih berharga dari lebah-lebah pekerja yang seumur hidupnya cukuplah memberi sandang, pangan dan papan kepada ratu. Hingga datang kemudian masa dimana anak-anaknya lahir tumbuh hingga dewasa. 

Seketika itu, hukum berlaku lebih kejam lagi. Dewasa adalah petaka, orang tua yang menjadi sebab awal kehidupannya adalah yang paling sangat dinantikan kematiannya. Jelas ! tujuannya agar ia segera dapat mengambil alih apa-apa yang telah mereka tinggalkan. Lebih buruk lagi bahwa siklus ini akan terus berjalan sebagai sebuah mekanisme untuk bertahan hidup. Sederhanya Dion menganggap untuk hidup anda harus bersiap untuk membunuh. 

"Djess... Djesss......". Bunyi korek berdesir, sekali lagi Dion membakar rokok miliknya. "Begini" Tenangnya membuka. " Kanibalisme adalah dzahir dari yang kita cercap dengan telinga dan dua bilah mata saja. Sedang batinnya ialah memandang manusia lain, golongan, ras, suku, entis yang lain adalah musuh belaka. Yang tidak sebanding, yang hina dina, yang tak patut bahkan dianggap manusia". Tegas Dion

"Orang zaman sekarang menyebutnya dengan istilah 'dehumanisasi', tapi menurut saya apa bedanya dengan kanibalisme ? Toh keduanya sama-sama merendahkan martabat manusia". Imbunya, sembari memandang dengan sorot mata yang menantang Alif & Bily. 

"Lalu apa hubungannya dengan pemilu dan kemajemukan desa kita ini ?".  Spontan Alif menyahut tak terima. Sedang Boby dan Billy masih bermuka masam. Itu terpatri dari ekspresi dua alisnya yang terpaksa dikawinkan. 

Arah jarum jam sedang beranjak menuju pukul 10.00 malam. Tak ada desing laju kendaraan atau kerlap kerlip club malam yang riuh. Hanya diantaranya terdengar suara Jangkrik yang berdzikir bersahutan dengan burung hantu di pohon sana. Segalanya terasa hening lagi syahdu, suasanya yang menuntun seorang pemabuk sekalipun untuk berpikir kembali tentang apa itu kewarasan. 

Sembari menirukan Sartre, filsuf yang digandrunginya, Diyon menjawab dengan nada ketus. "Orang lain adalah neraka". 

Bersambung ....

Komentar

Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama