Semenjak kuliah, Paimin termasuk salah seorang
teladan bagi kawan-kawan sejawat. Tabiatnya yang mapan beserta ilmu yang matang
pula menjadi ciri khas Paimin yang paling mencolok, diatas permukaan laut. Ia muda, cerdas, berprestasi dan tentu pula visioner, maka tak
heran dengan kemampuan yang heterogen itu, ia sering di gelari si perfect
man. Sosoknya seolah telah mencukupi tanta-tanda menjadi orang sukses yang paripurna, baik secara hitungan rasio maupun
primbon. Sedang kata ibu kos, telah menggenapi syarat-syarat menantu
idaman.
Setelah kelulusannya, Paimin enggan pulang kampung. Ia bertekad
akan memulai kariernya di kota Jember yang lumayan sesak itu. Buku dan koran
pun digilir menempel di ketiaknya. Sekedar mencari informasi kepada perusahaan
mana ia akan me-ngembek. Sekalian menentukan jabatan atau profesi mana
yang diprioritaskan Paimin sesuai dengan passionnya sebagai sarjana
adiministrasi bisnis.
Berbekal Langkah yang tegap demikian pula roman wajahnya yang cerah,
pun juga sepatu yang mengkilap-kilap seperti di lap minyak goreng. Semua itu ia
persiapkan yang menjadi alutsista psikologis dalam perang urat syaraf dengan
sorot mata siapapun. Berangkatlah ia kemudian ke salah satu perusahaan
eksportir ternama. Dimulai dari seleksi administrasi hingga kemudian tahapan
wawancara. Dan walhasil, Paimin menjawab semua pertanyaan yang diajukan dengan
lincah plus atraktif di wawancara kerja perdananya.
Sebulan dua bulan lamanya menunggu, ternyata perusahaan eksportir
itu tidak kunjung memberi kabar. Entah kabar baik maupun kabar buruk. Demikian
juga lamaran pekerjaan yang disodorkan Paimin terhadap perusaahan lainnya. Tak kunjung bergeming bibir. Disisi lain hutang Paimin sudah sesak sampai
ketenggorokannya. Aduhai, tak disangka-sangka sebegininya nasib, padahal Paimin
tidak lahir di bulan dan tanggal naas.
Apa gerangan yang menjadi sebab ? bukannya si Narto, tetangga yang cuma
lulusan SMP terbuka bisa bekerja di perusaan dengan posisi yang lumayanlah
untuk seukurannya. Narto yang serampangan itu, kini hidupnya mapan gilang gemilang dengan pekerjaan tetap, gaji yang cukup besar dan istri yang molek. Seyogyanya hidup Paimin bisa lebih mapan dibanding nya. Sekali lagi, ini bukan soal rasi bintang apalagi tahun tikus dalam sistim penanggalan china. Tidak sama sekali.
Atau ini taqdir yang bersifat paten itu? Ah, belum tentu , bukankah jaiz nya Tuhan bersifat ‘semau gue’. Atau jangan-jangan rumor percaloan
itu benar adanya ? Saya tidak tau pasti entah jenis binatang apa calo itu, tapi yang pasti dia tak mau sesajen. Konon, mahluk ini pernah berseteru dengan mikail, perihal kaplingan pemberi rezeki. Dimana kemudian, Mikail menuntut di pengadilan, tapi sayang dia kalah dan kini menganggur.
Lama sekali Paimin berfikir
persoalannya, ia tidak mendapati barang sedikitpun ‘cela’ pada dirinya. Tapi
kenapa tak satu pun panggilan kerja diterimanya, selain mak kantin yang men-DPO.
Nyatanya memang haq,
percaloanlah yang menjadi ‘tangan tuhan’ di dunia kerja. Dunia percaloan tak
ubahnya gol Diego Maradona versi smash ke gawang lawan, sebab Maradona kalah tinggi dengan bek Inggris
Peter Shilton, dalam pertandingan antara Inggris versus Argentina di perempat
final piala dunia 1986 itu.
Jika memang demikian, maka untuk apa kuliah di jurusan yang
bermacam-macam itu. Toh pada akhirnya kita dipaksa manut terhadap attitude dalam
dunia percaloan. Jangankan pekerjaan halal, dunia pelesiran pun ada dalam wilayah regulasi percaloan.
Sebaiknya, pikir Paimin, kampus harus menyediakan program
studi POD (pendidikan orang dalam). Dimana Out putnya tak lain calo belaka. Mengingat peranannya yang sangat signifikan yakni
menentukan mogok atau tidaknya karier seseorang. Ia seperti oli top one,
pelancar apapun yang tersendak.
Adapun mata kuliah yang perlu di tempuh mahasiswa calon orang dalam
ini, bisa teknik negoisasi dengan dosen
pengampu khusus birokrat pemerintah. Boleh juga ilmu fisiognomi, agar para
mahasiswa bisa membaca lekukan wajah yang memelas itu. kemudian ilmu hipnotis,
agar calon calo leluasa memperdaya korbannya yang lugu-lugu dan lucu-lucu itu.
Dan terakhir mata kuliah fashion, agar tidak disangka anak punk-punk-an
.
Akhirnya, tanpa ragu-ragu Paimin menulis surat terbuka yang
ditujukan terhadap Kemendikbud, Dinas Pendidikan, serta seluruh rektor
se-Indonesia. Untuk segera membuat Program studi POD alias pendidikan Orang
Dalam. Agar puluhan juta angkatan kerja negeri ini bisa mendapat pekerjaan.
Disamping pemerintah juga fardhu 'ain turut andil dengan mengesahkan Perpres
yang mengatur secara seksama dunia percaloan dengan standart Operational Procedure
(SOP) yang terstruktur dan sistematis. Hal ini cukup penting untuk dilakukan
agar calo bekerja pada pada rel yang sudah di tentukan didalam undang-undang dan
tidak mencederai aturan dunia percaloan nasional. Tak lupa, Paimin meminta
Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk berfatwa atas kehala-lan dunia percaloan
dengan menyertakan stempel ’halal’ di ijazah lulusan POD. Sebab menurut Paimin calo ialah wujud riil khalifah fil ardh dalam lieratur tafsir ilegal abad ini.
Demikianlah risalah Paimin, untuk negeri tumpah darah Indonesia
yang ia banggakan. Sebahagian orang mungkin pernah bersinggungan dengan jenis
mahluk astral yang bernama calo itu. Sedang
sebagian yang lain justru mempekerjakan nya untuk suatu urusan yang memakan
waktu lama. Entah apa saja, sebab hibrida mahluk yang satu ini hadir di semua
lapisan. Seperti comberan, dikota maupun di desa ia tetap mengalir. Dari hulu hingga hilir, birokrasi
kepemerintahan hingga terminal-terminal.
Saya tidak sedang bermisal-misal, tikung menikung semacam ini sudah kerap kali kita saksikan. Disamping geram, saya justru prihatin dengan mental bangsa kita yang kian lama mangkin terpuruk ini. Sempat sih berharap, pada agenda Revolusi Mental yg hendak di lakukan saudara Presiden Jokowi. Tapi apadaya, beliau terlalu sibuk. Tak bisa diganggu apalagi disentil usulan maupun kritik.
Bukankah Jauh-jauh hari Bung Hatta mengingatkan, bahwa "kurang cerdas dapat diperbaiki dengan belajar, kurang cakap dapat dihilangkan dengan pengalaman, Namun tidak jujur sulit diperbaiki " . Saya yakin Jika mental ini dibiarkan begitu saja 50 tahun yang akan mungkin sekolah-sekolah sepi peminat ditinggal siswa siswinya. Rektor akan kehilangan mahasiswanya dan taman kanak-kanak kehilangan riuh segar-riang gembira seperti biasanya, hanya tinggal ayunan yg bergelantungan.
Mengapa sebab ? Karna generasi hari ini, esok akan menjadi orang tua untuk generasi mendatang. Mungkin mereka lebih memilih privat atau home schooling untuk anak-anak mereka. Mereka akan beranggapan selain meminimalisir biaya dan juga tidak memakan waktu yang lama. Efektifitas belajarnya lebih baik dan bisa dipertaruhkan. Hal itu bisa saja terjadi, siapa yang tau!
Penulis : Zaed Sambas
Editor : M. Rizal Firdaus

Josht lah pokok en
BalasHapusPak Dayat ...
BalasHapuspasti istri saya di panggil bu dayat..
HapusSubhanallah mantabb kk,
BalasHapusBanyak mengandung majas pula😄
Mantab kk
BalasHapusMak jleb...
HapusBingung juga. Mau berprinsip "bekerja jangan sampai lewat calo" tapi keadaan memaksa kita harus lewat jalur biadab itu.
BalasHapusKopinya diseduh...
HapusMantap
BalasHapusCalo oh calo
BalasHapus