Risalah Patah Hati


Hai Tuan si biduan jalan !

Entah ini hari keberapa aku menyimpan banyak rindu pada tenang yang aku temukan di pundak bahu kananmu nan tegap. Denganmu banyak hal yang bisa aku lihat. Dari sudut pandang yang berbeda tentang segalanya.

Aku baru saja mengenalmu bahkan tidak terlalu lama. Aku pun memeriksa seluruh perbendaharaan batin ku dan sama sekali tak menemukan sebutir pun rasa dalam hadirmu. Tapi entahlah ! lantunan syair yang mana yang memabukkan ku. Bait yang keberapa, kalimatnya apa, mengapa semua menggebu ? 

Aku bertanya-tanya pada denyut nadi, pada detak jantung, hingga pada getar tubuh ku. Tapi isyarat tak dapat bergeming. Ia hanya tanda tanpa ucap, tanpa kata-kata. 

Aduhai Tuan Biduan Jalan ...! Aku tidak pernah memintamu untuk singah bahkan tinggal didalam lubuk. Hanya aku ingin memberikan pembenaran sebuah kenyataan yang tak dapat ku tolak bahwa mengharapkan mu itu benar adanya. Denganmu juga aku berani mengungkapkan berbagai hal yang aku selalu mengganjal dada. 

Dan akhirnya hari yang aku siapkan tiba. Hari dimana sebuah khabar bahagia sampai ditelingaku bahwa kau telah mempersunting wanita pilihanmu ataupun kau sudah kembali dengan cintamu yang lalu. 

Ah Tuan ! selamat menemukan hilir dari perjalanan mu Tuan. Terimakasih telah menjadi bagian paling tenang yang pernah aku temukan. Sekaligus menjadi bagian paling bergemuruh dalam perjalanan. 

Sepertinya setiap kata yang aku tulis akan senantiasa mengalir dalam muara mu, dan karena dari mu aku mulai jatuh cinta dengan kata. 

Entah keajaiban tuhan yang mana hingga aku dipertemukan oleh orang sepertimu. Hendak hati ingin berterimakasih. Tapi kasih tak sama dengan belas kasih. Aku tak ingin awal maksud menawarkan kasih, akhirnya jatuh memohon belas. 

Sekali lagi selamat ! lain waktu kusambung dengan temu.

3 Komentar

Komentar

Posting Komentar
Lebih baru Lebih lama